Connect with us

Nasional

Konflik AS-Iran Memanas, Harga Minyak Dunia Melonjak Tajam

Published

on

Semarang (usmnews) – Ketegangan geopolitik terbaru antara Amerika Serikat dan Iran memicu guncangan hebat di pasar energi internasional. Akibatnya, harga minyak dunia melonjak tajam setelah Presiden Donald Trump mengakhiri gencatan senjata dengan Teheran. Keputusan sepihak ini membatalkan kesepakatan damai sementara yang menjaga stabilitas pasokan komoditas global. Oleh karena itu, para pelaku pasar finansial langsung merespons situasi buruk ini dengan aksi beli.

Selain itu, ancaman penutupan Selat Hormuz oleh pihak militer Iran semakin memperparah kekhawatiran global. Keadaan mendadak ini membuat harga minyak dunia melonjak hingga menembus level tertinggi dalam beberapa pekan. Data perdagangan komoditas menunjukkan kontrak berjangka minyak jenis Brent September naik lima koma sembilan persen. Nilai minyak mentah Brent tersebut menyentuh angka tujuh puluh delapan koma lima puluh lima dolar. Namun, ketidakpastian perang berikutnya membuat manajemen risiko perusahaan mengetatkan seluruh pengawasan pasokan energi.

Faktor Utama Penyebab Harga Minyak Dunia Melonjak dan Memanas

Sebenarnya, situasi memburuk setelah laporan serangan sabotase terhadap tiga kapal tanker komersial di laut. Amerika Serikat menuduh Iran melakukan aksi provokasi berbahaya tersebut di jalur pelayaran internasional. Sebagai respons taktis, militer Washington melancarkan serangan udara masif ke delapan puluh target strategis. Komando Pusat Amerika Serikat mengerahkan jet tempur untuk menghancurkan radar pantai dan sistem pertahanan. Kemudian, eskalasi militer ini menghentikan aktivitas transit normal kapal-kapal pengangkut komoditas energi global.

Dalam Konferensi Tingkat Tinggi NATO di Turki, Donald Trump menegaskan posisi keras pemerintahannya sekarang. Trump menyatakan, “Menurut saya, ini sudah berakhir. Saya tidak ingin berurusan dengan mereka lagi.” Pernyataan tegas tersebut memicu kekhawatiran pelaku usaha mengenai potensi sanksi ekonomi yang jauh lebih berat. Oleh sebab itu, pasar mengantisipasi potensi blokade angkatan laut terhadap pelabuhan minyak milik Iran. Bahkan, Trump mengancam akan melancarkan serangan lanjutan yang lebih menghancurkan pertahanan musuh malam ini.

Ancaman Teheran Menghentikan Transit dan Nilai Mentah Global Melambung

Di sisi lain, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menuduh Washington melanggar kesepakatan bersama. Teheran mengancam bakal menutup total Selat Hormuz jika militer Amerika kembali melancarkan agresi. Penutupan jalur krusial ini tentu akan menghentikan sepertiga pengiriman minyak mentah dunia lewat laut. Alhasil, para spekulan memicu lonjakan harga kontrak West Texas Intermediate hingga lima persen. Harga minyak jenis WTI tersebut menetap pada level tujuh puluh empat koma nol lima dolar.

Meskipun demikian, ketegangan sedikit mereda setelah Trump memberikan pernyataan pers terpisah kepada media massa. Trump menjelaskan bahwa pihak Gedung Putih tidak memperkirakan perang terbuka berskala besar akan pecah. Pernyataan susulan ini berhasil memangkas sebagian keuntungan besar yang para pedagang raih sebelumnya. Dengan demikian, harga minyak dunia bergerak turun perlahan dari level tertinggi perdagangan harian mereka. Namun, investor tetap mempertahankan sikap waspada tinggi karena konflik bersenjata bisa meletus kapan saja.