Connect with us

Education

Kisah Yatim Piatu Penghafal Al-Qur’an Temukan Harapan di Sekolah Rakyat

Published

on

Semarang (usmnews) – Oktavianti Riska Fitriasari (17), atau Okta, yatim piatu penghafal Al-Qur’an dengan akhlak baik, ramah, dan ceria.

Okta ikut menjadi penopang keluarganya setelah Ibunya meninggal saat ia masih duduk di kelas dua SMP. Tak lama kemudian, ayahnya menyusul. Ia tinggal bersama neneknya yang sudah renta, pamannya, sekaligus merawat dua adiknya yang masih kecil.

Hari-harinya penuh keterbatasan. Penghasilan neneknya sebagai pemulung tidak menentu, bahkan sering kali tidak ada. Sedangkan Pamannya yang bekerja sebagai ‘polisi cepek’ penghasilannya jauh dari kata cukup.

Hal itu membuat mereka hanya bisa makan sekali sehari, sehingga kondisi tersebut membuat Okta tidak ingin berpangku tangan. Sejak SMP, ia bekerja serabutan seperti berjualan makanan, menjaga toko baju, hingga menjual jus buah.

Pada tahun 2024 saat rumahnya di Lesanpuro, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang ludes terbakar akibat ledakan gas elpiji. Saat kejadian, Okta tengah berada di pesantren Darul Muhlisin, Sawojajar.

Sejak saat itu, keluarga kecil ini tinggal di rumah kontrakan sembari berusaha memperbaiki rumah ala kadarnya.

Di tengah semua keterbatasan, Okta tetap setia menghafal Al-Qur’an. Hingga kini ia telah menghafalkan enam juz. Ia melafalkan saat rindu orang tuanya datang atau setelah sholat, untuk menenangkan hati.

Di Sekolah Rakyat, Okta kembali menemukan semangat untuk meraih mimpi menjadi guru agama, meski hidupnya penuh ujian. Ia aktif mengikuti berbagai kegiatan, disiplin dalam belajar, dan menemukan teman baru yang menunjukkan tekad yang kuat.

Lebih dari itu, Okta juga ingin melihat neneknya tersenyum lega, terbebas dari beban hidup.

Okta, seorang anak dari keluarga miskin, tidak menyerah pada cobaan hidupnya. Setelah kehilangan orang tua, rumahnya terbakar, hingga harus bekerja sejak kecil, ia tetap bersemangat. Di Sekolah Rakyat, Okta menemukan harapan baru untuk meraih mimpinya.

Okta dan 75 siswa SRMA 22 Malang mendapat kesempatan meraih cita-cita dengan dukungan 17 guru, 3 tenaga pendidikan, serta fasilitas lengkap.

Sekolah Rakyat bukan hanya tempat belajar, tetapi juga rumah yang memberi kesempatan anak-anak untuk bermimpi. Bersama Okta dan ribuan anak lain, harapan itu kini bertumbuh melalui keyakinan bahwa pendidikan berkualitas mampu mengalahkan kemiskinan.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *