Connect with us

International

Belajar dari Operation Epic Fury, Kapal Perang Amerika Serikat Bakal Dilengkapi Senjata Laser Canggih

Published

on

Semarang (usmnews) – Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy) kini terus mendorong pengembangan teknologi tempur mutakhir. Oleh karena itu, mereka mempercepat pengerjaan senjata energi terarah atau directed energy weapons (DEW). Selain itu, otoritas militer memprioritaskan kehadiran komponen senjata laser berdaya tinggi untuk memperkuat armada permukaan. Langkah strategis ini pun mengemuka dalam sidang Komite Angkatan Bersenjata DPR AS pada Kamis (14/5/2026).

Sementara itu, Kepala Operasi Angkatan Laut AS, Laksamana Daryl Caudle, menegaskan pentingnya lompatan teknologi tersebut. Menurut pandangan Caudle, perangkat tempur modern ini tentu akan menjadi instrumen vital dalam peperangan laut masa depan. Oleh sebab itu, kehadiran teknologi baru ini sangat berguna untuk mengambil alih sebagian tugas berat pertahanan udara. Sistem ini juga akan menggantikan peran dari rudal pencegat kinetik yang memakan banyak ruang.

Dampaknya, ruang peluncur vertikal pada dek kapal perang dapat dialokasikan penuh untuk serangan ofensif. Namun, Caudle menilai kapal perang Amerika Serikat saat ini masih menghadapi dilema taktis yang sangat serius. Hal ini terjadi karena keterbatasan ruang sistem peluncur vertikal (Vertical Launching System/VLS) memicu ketidakseimbangan muatan logistik persenjataan. Akibatnya, awak kapal harus selalu memilih antara membawa rudal pertahanan diri atau peluru kendali serang.

Pelajaran Berharga dari Operation Epic Fury dan Kebutuhan Senjata Laser

Oleh karena itu, penggunaan ruang peluncur kompartemen untuk rudal pertahanan dinilai tidak berkelanjutan. Sebab, setiap sel VLS yang terisi rudal defensif akan langsung mengurangi peluang serangan jarak jauh. Sebagai contoh, masalah kapasitas daya listrik ini terlihat sangat nyata pada kapal perusak kelas Arleigh Burke. Padahal, kapal jenis tersebut merupakan tulang punggung utama dari kekuatan armada laut Amerika.

Oleh sebab itu, dorongan untuk mempercepat pengadaan senjata laser semakin menguat pasca pengalaman Operation Epic Fury. Dalam misi tempur besar tersebut, sembilan kapal perang permukaan AS memang menghabiskan banyak logistik. Bahkan, mereka menembakkan total 207 rudal jelajah Tomahawk menuju target pertahanan militer Iran. Akibatnya, kondisi riil di lapangan memaksa kapal perang memasuki area pertempuran dengan muatan defensif melimpah.

Meskipun demikian, kehadiran teknologi optik intensitas tinggi ini secara teori bisa mengubah total peta pertempuran. Sebab, alat canggih ini mampu menghancurkan berbagai ancaman drone dengan biaya operasional sangat murah. Sebagai gambaran, satu kali tembakan kilat hanya memakan biaya sekitar 10 dollar AS atau Rp 1,8 juta. Tentu saja, efisiensi biaya ini akan membebaskan ratusan sel VLS dari ketergantungan rudal pencegat udara.

Solusi Sementara Berbasis Sistem Kontainer

Oleh karena itu, Angkatan Laut AS mencoba menerapkan solusi taktis sementara waktu melalui konsep kontainer. Sebagai langkah awal, program kampanye bertajuk Containerized Capability Campaign (C³) menjadi jawaban atas keterbatasan platform. Melalui sistem ini, perangkat tanpa awak serta senjata energi terarah dapat terpasang dengan mudah. Jadi, teknisi tidak perlu melakukan perubahan besar pada struktur utama bagasi lambung kapal perang.

Selain itu, Caudle menghendaki semua sistem persenjataan elektronik hingga radar sonar masa depan berbentuk portabel. Oleh karena itu, salah satu hasil uji coba sukses membuktikan potensi besar dari konsep kemasan kontainer tersebut. Sebagai contoh, militer AS sebelumnya sukses menguji coba sistem kontainer berkekuatan daya listrik sebesar 30 kilowatt. Kemudian, mereka mengoperasikan alat pertahanan tersebut dari atas dek kapal induk USS George H.W. Bush.

Selanjutnya, pihak swasta Lockheed Martin juga turut mengembangkan versi peti kemas dari sistem HELIOS. Jadi, alat pertahanan mutakhir berkekuatan 60 kilowatt ini bisa berpindah antar-armada kapal secara fleksibel. Oleh sebab itu, integrasi rekayasa digital berbasis darat terus berjalan intensif guna menekan risiko kegagalan sistem tempur. Pada akhirnya, Amerika Serikat tetap optimistis kehadiran senjata laser akan mengembalikan dominasi penuh kekuatan ofensif mereka di lautan.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *