International
Eskalasi Ketegangan di Timur Tengah: Milisi Kata’ib Hizbullah Irak Siagakan Pasukan Hadapi Potensi Perang Panjang Melawan Amerika Serikat

Semarang (usmnews) – Dikutip dari detik.com, Kondisi geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali memanas menyusul instruksi terbaru dari kelompok milisi berpengaruh di Irak, Kata’ib Hizbullah. Organisasi paramiliter yang memiliki hubungan erat dan dukungan dari Iran ini secara resmi telah memerintahkan seluruh anggotanya untuk masuk dalam mode siaga tinggi. Perintah ini dikeluarkan sebagai respons langsung terhadap meningkatnya ancaman militer dari Amerika Serikat (AS) yang ditujukan kepada Teheran. Kata’ib Hizbullah menegaskan bahwa para petempur mereka harus bersiap menghadapi skenario “perang atrisi” atau perang urat saraf yang berlangsung lama jika Washington benar-benar merealisasikan serangan terhadap kedaulatan Iran.
Dalam pernyataan resmi yang dikutip melalui berbagai saluran media internasional, kelompok ini memberikan peringatan keras kepada Gedung Putih. Mereka menekankan bahwa keterlibatan militer AS dalam skala besar di kawasan tersebut hanya akan berujung pada kerugian yang sangat masif bagi pihak Amerika sendiri. Salah satu komandan senior Kata’ib Hizbullah menyatakan bahwa stabilitas Iran bukan sekadar isu domestik negara tetangga, melainkan merupakan kepentingan strategis yang sangat krusial bagi keberlangsungan kelompok-kelompok bersenjata di Irak. Oleh karena itu, serangan apa pun yang dilancarkan terhadap Teheran dianggap sebagai ancaman eksistensial langsung terhadap milisi Irak itu sendiri.

Ada perubahan sikap yang signifikan jika dibandingkan dengan konflik-konflik sebelumnya. Sebagai catatan, pada perang singkat selama 12 hari antara Iran dan Israel yang terjadi tahun lalu, kelompok-kelompok bersenjata di Irak cenderung menahan diri dan tidak melakukan intervensi militer secara langsung. Namun, untuk situasi saat ini, pihak milisi menyatakan akan “mengurangi tingkat pengendalian diri” mereka. Kesiapan untuk terjun langsung ke medan laga semakin diperkuat terutama jika serangan AS nantinya bertujuan untuk menggulingkan rezim pemerintahan di Iran.
Langkah ini mencerminkan dinamika yang lebih luas di dalam “Poros Perlawanan” (Axis of Resistance), sebuah aliansi regional yang mencakup kelompok Hizbullah di Lebanon, gerakan Hamas di Jalur Gaza, serta kelompok Houthi di Yaman. Meskipun selama beberapa bulan terakhir serangan terhadap pangkalan militer AS di kawasan tersebut sempat mereda akibat tekanan diplomatik dan domestik, perkembangan terbaru ini menunjukkan bahwa gencatan senjata informal tersebut berada di ujung tanduk.

Di sisi lain, kelompok Hizbullah di Lebanon juga memberikan pandangan serupa namun dengan batasan tertentu. Mereka menyatakan tidak akan terburu-buru melakukan intervensi militer jika serangan AS terhadap Iran bersifat “terbatas”. Akan tetapi, mereka menetapkan sebuah “garis merah” yang sangat jelas: serangan apa pun yang menyasar Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, akan memicu keterlibatan militer total dari pihak mereka.
Secara keseluruhan, instruksi bagi milisi Irak untuk bersiap menghadapi perang panjang ini menandakan bahwa kawasan Timur Tengah kini berada pada titik didih yang sangat berbahaya. Mobilisasi ini bukan hanya sekadar retorika politik, melainkan sebuah persiapan logistik dan mental bagi para petempur di lapangan untuk menghadapi konflik yang kemungkinan besar akan meluas dan melibatkan banyak aktor transnasional, yang dapat mengubah peta keamanan global secara drastis.







