Education
Tingkatkan Keselamatan Pasien,Dosen Teknik Elektro USM Sosialisasikan Budaya K2 di Puskesmas Ngaliyan Semarang

SEMARANG- Tim Pengabdian kepada Masyarakat dosen Prodi S1 Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Semarang (PkM USM) melakukan Sosialisasi Keselamatan Ketenagalistrikan (K2) kepada staf dari Puskesmas Ngaliyan Dinas Kesehatan Kota Semarang pada 16 April 2026 di UPTD (unit pelaksana teknis daerah) Puskesmas Ngaliyan.
Dalam upaya menjamin keselamatan pasien, petugas, dan aset medis, sebuah kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk “Sosialisasi Budaya K2 (Keselamatan Ketenagalistrikan)” sukses diselenggarakan di Puskesmas Ngaliyan, Kota Semarang. Tim PkM USM yang hadir terdiri dari Ketua Dr. Ir. Priyo Adi Sesotyo, S.T., M.En., IPU., dengan anggota Dr. Ari Endang Jayati, S.T., M.T., Muhammad Sipan, S.T., M.T., serta didampingi oleh mahasiswa Daniel Ganda Jiwo Wicaksono (C.411.24.0030) dan Muhammad Ali Akbar S. (C.411.22.0046)
Seiring dengan peningkatan kualitas layanan dan penambahan peralatan medis yang sensitif seperti ECG, nebulizer, hingga centrifuge, konsumsi energi listrik di Puskesmas Ngaliyan turut meningkat signifikan. Namun, lonjakan penggunaan ini menyimpan risiko tersembunyi, mulai dari bahaya sengatan listrik (microshock) bagi pasien hingga risiko kebakaran akibat beban berlebih (overload).
“K2 bukan sekadar soal instalasi kabel, melainkan integrasi antara desain sistem, proteksi, pemeliharaan, hingga kompetensi SDM,” ujar Dr. Priyo dalam paparannya.
Ia menekankan pentingnya empat pilar K2 sesuai Peraturan Menteri ESDM No. 10 Tahun 2021, yaitu: Keselamatan Kerja, Keselamatan Umum, Keselamatan Lingkungan, dan Keselamatan Instalasi.
Edukasi Praktis bagi Tenaga Kesehatan
Dalam sosialisasi tersebut, para staf Puskesmas diberikan pedoman praktis mengenai hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan (Do’s & Don’ts). Beberapa poin penting yang ditekankan adalah larangan menumpuk terminal colokan secara berlebihan dan kewajiban memastikan tangan dalam kondisi kering saat mengoperasikan alat medis.
Selain teori, tim pengabdian juga memaparkan Prosedur Darurat Kegagalan Daya. Dalam kondisi kritis, perpindahan arus dari PLN ke sistem cadangan seperti UPS dan Genset harus terjadi dalam hitungan detik agar alat penunjang hidup (Life Support) tidak berhenti berfungsi. Penggunaan kode warna darurat (Emergency Color Coding) seperti Code Red untuk kebakaran dan Code Yellow untuk kedaruratan internal juga kembali diingatkan kepada seluruh staf.
Audit dan Standarisasi Berbasis ISO
Tak hanya memberikan sosialisasi, kegiatan ini juga memperkenalkan instrumen manajemen keselamatan berupa Job Safety Analysis (JSA) dan Standard Operating Procedure (SOP) pemeliharaan listrik yang mengacu pada standar internasional ISO 9001:2015 serta IEC 60364-7-710 khusus area medis.
Melalui implementasi budaya K2 yang disiplin, diharapkan Puskesmas Ngaliyan dapat mencapai target Zero Electrical Accident (Nol Kecelakaan Listrik). Dengan demikian, listrik benar-benar menjadi infrastruktur penunjang kesembuhan dan bukan justru menjadi sumber risiko baru bagi masyarakat yang membutuhkan layanan kesehatan.
Kegiatan ini ditutup dengan sesi inspeksi teknis terhadap panel-panel listrik dan sistem grounding di lingkungan Puskesmas untuk memastikan seluruh proteksi berfungsi optimal.

