International
Pembersihan di Puncak Kekuasaan: Loyalitas atau Korupsi?

Semarang (usmnews) – Dikutip dari detik.com, Langkah Xi Jinping yang kembali melakukan pembersihan (purge) di tubuh Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) sebenarnya bukan hal baru, namun kali ini skala dan profil jenderal yang dicopot tergolong luar biasa. Secara resmi, pemerintah China sering kali menggunakan narasi “perang melawan korupsi” sebagai alasan utama di balik penahanan atau pemecatan pejabat tinggi.
Namun, para pengamat internasional melihat ada motif lain yang lebih mendesak: keamanan rezim. Pemecatan ini terjadi di tengah rumor adanya ketidakpatuhan atau bahkan upaya penggalangan kekuatan yang dianggap bisa mengancam stabilitas kekuasaan Xi. Di sistem politik China yang sangat tertutup, hilangnya seorang jenderal secara tiba-tiba sering kali menjadi sinyal bahwa terjadi keretakan dalam konsensus kepemimpinan di Zhongnanhai.
Daftar Ketidakpastian: Mengapa Isu Kudeta Mencuat?

Isu kudeta di China biasanya sulit diverifikasi secara faktual karena ketatnya sensor informasi, namun beberapa indikator berikut sering menjadi bahan spekulasi:
- Ketidakstabilan di Pasukan Roket: Sektor militer yang mengelola senjata nuklir ini menjadi salah satu yang paling sering terkena dampak pembersihan. Ketidaksesuaian visi antara jenderal lapangan dan kebijakan politik pusat sering kali dianggap sebagai benih pembangkangan.
- Krisis Ekonomi dan Moral Militer: Di tengah melambatnya ekonomi China pada tahun 2026, anggaran militer tetap menjadi prioritas. Hal ini dilaporkan memicu friksi internal terkait efektivitas anggaran dan loyalitas jenderal yang mungkin merasa arah kebijakan luar negeri Xi terlalu berisiko.
- Paranoia Politik: Seiring dengan pemusatan kekuasaan yang semakin absolut di tangan Xi Jinping, ambang batas toleransi terhadap kritik menjadi sangat rendah. Sedikit saja ada “bisik-bisik” yang tidak sejalan, tindakan preventif segera diambil.
Implikasi bagi Stabilitas Kawasan
Gejolak di internal militer China tidak hanya menjadi urusan domestik mereka. Dunia sangat peduli karena China adalah kekuatan nuklir dan pemain kunci di Laut China Selatan dan Taiwan.
“Ketidakteraturan di level puncak kepemimpinan militer dapat memicu kesalahan kalkulasi dalam pengambilan kebijakan luar negeri. Jika militer sibuk dengan pembersihan internal, kesiapan operasional mereka mungkin terganggu, namun di sisi lain, Xi mungkin akan menggunakan isu eksternal untuk mengalihkan perhatian dari masalah domestik.”

Perbandingan Situasi: Dulu vs Sekarang
| Aspek | Pembersihan Era Awal (2012-2020) | Pembersihan Terbaru (2025-2026) |
| Fokus Utama | Konsolidasi kekuatan dasar | Menghilangkan faksi yang tidak loyal |
| Narasi Resmi | Anti-Korupsi | Anti-Korupsi & Disiplin Politik |
| Respon Internasional | Dianggap sebagai reformasi | Dianggap sebagai tanda ketidakstabilan rezim |
Kesimpulan: Cengkeraman yang Semakin Erat
Meskipun narasi kudeta tetap menjadi “bisik-bisik” di balik tirai bambu, satu hal yang pasti: Xi Jinping tidak akan membiarkan ada satu pun celah di dinding kekuasaannya. Pemecatan jenderal-jenderal top ini adalah pesan keras kepada siapa pun di tubuh militer bahwa kesetiaan mutlak kepada Partai dan pemimpinnya adalah harga mati.
Bagi dunia luar, ini adalah pengingat bahwa meskipun China terlihat sangat kuat di permukaan, di dalamnya terdapat dinamika politik yang sangat rapuh dan penuh tekanan. Penjagaan terhadap narasi tunggal membutuhkan energi yang luar biasa besar, dan pembersihan ini adalah manifestasi dari energi tersebut.







