Connect with us

International

Demo Masjid Fujisawa Bikin Heboh, Warga Jepang Turun Jalan

Published

on

Semarang (usmnews) – Dilansir dari Kumparan.com Ribuan warga negara Jepang menggelar aksi protes besar-besaran menyusuri jalanan utama kawasan Kota Fujisawa. Tepatnya, gelombang unjuk rasa memprotes rencana pembangunan tempat ibadah umat Islam membanjiri wilayah Kanagawa Prefecture. Awalnya, aktivis partai politik sayap kanan bernama Kawai Yusuke memotori aksi demo masjid Fujisawa ini. Bahkan, para demonstran meneriakkan sejumlah alasan kuat demi menolak kehadiran bangunan suci umat Muslim setempat.

Misalnya, mereka menyuarakan kekhawatiran potensi kemacetan lalu lintas serta kebisingan suara azan melalui pengeras suara. Selain itu, warga lokal menyoroti kemungkinan lonjakan permintaan pasokan makanan halal bagi para pendatang baru. Seketika, mereka juga mempermasalahkan perbedaan tradisi pemakaman Muslim yang bertolak belakang melawan kebiasaan kremasi leluhur. Apalagi, letak bangunan ibadah umat Islam berdekatan langsung bersama sebuah Kuil Shinto berusia ratusan tahun.

Menyikapi hal ini, Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia Azril Azahari langsung memberikan tanggapan resminya. Menurutnya, pendirian rumah ibadah sama sekali tidak menimbulkan masalah apabila memenuhi aturan tata letak kota. Khususnya, panitia pembangunan wajib menghindari kawasan perlindungan budaya leluhur ataupun area cagar budaya sangat khusus. Sebagai contoh, komunitas warga negara Indonesia sukses membangun Masjid As-Sholihin kawasan Yokohama secara bergotong royong. Artinya, pemerintah Jepang sebenarnya sangat menyambut baik kehadiran fasilitas ibadah umat Muslim sesuai regulasi resmi.

[Baca Juga: Bangladesh Menghadapi Ancaman Krisis BBM Imbas Perang Iran]

Lebih lanjut, pakar pariwisata ini menyoroti tiga isu utama tuntutan peserta demo masjid Fujisawa lusa. Soal limbah, pengelola bangunan mampu mengatasi masalah pemandian jenazah melalui pemakaian sistem pengolahan air modern. Mengenai azan, takmir masjid siap membatasi volume pengeras suara atau sekadar memakai tata suara internal. Sementara itu, panitia wajib menyediakan lahan parkir dalam kompleks demi menangkal potensi kemacetan lalu lintas.

Faktanya, Azril mengendus adanya muatan kepentingan politik kotor menunggangi gelombang penolakan tempat ibadah kawasan Fujisawa. Tegasnya, aksi segelintir aktivis sayap kanan sama sekali tidak merepresentasikan sikap toleransi seluruh masyarakat Jepang. Oleh karena itu, pemerintah pusat wajib segera turun tangan meredam konflik horisontal bernuansa agama ini. Sebab, polemik pembangunan fasilitas ibadah sangat berpotensi merusak citra negara dalam mengembangkan sektor pariwisata Muslim. Kesimpulannya, pemerintah harus memfasilitasi kebutuhan wisatawan Timur Tengah agar insiden demo masjid Fujisawa cepat selesai.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *