Connect with us

Lifestyle

Dokter Mengungkap Kebohongan Tren Mitos Kadar Kortisol Tinggi di Media Sosial

Published

on

Semarang (usmnews) – Banyak pakar kesehatan mengkhawatirkan penyebaran informasi medis keliru melalui platform digital saat ini. Fenomena tersebut mencakup maraknya konten video pendek yang membahas tanda-tanda kelelahan akibat hormon stres. Sayangnya, mayoritas konten tersebut hanya menyebarkan tren mitos kadar kortisol tinggi tanpa landasan ilmiah yang kuat. Oleh karena itu, para dokter mengimbau masyarakat agar tidak mudah memercayai klaim sepihak dari pembuat konten.

Para pembuat konten sering mengaitkan penumpukan lemak wajah dengan gangguan fungsi kelenjar adrenal secara berlebihan. Selain itu, mereka menawarkan berbagai produk suplemen mahal sebagai solusi instan untuk menurunkan hormon tersebut. Padahal, masyarakat luas justru mengadopsi pemahaman keliru akibat mengikuti tren mitos kadar kortisol tinggi secara membabi buta. Alhasil, banyak orang melakukan diagnosis mandiri yang berbahaya bagi kesehatan tubuh mereka sendiri.

Tanggapan Para Ahli Medis Mengenai Hoaks Gangguan Hormon Kortisol

Seorang dokter spesialis endokrinologi menjelaskan bahwa fluktuasi hormon kortisol merupakan proses biologis yang sepenuhnya normal. Namun, sebagian besar warganet menganggap perubahan alami tubuh tersebut sebagai gejala penyakit kronis yang menakutkan. Oleh sebab itu, pihak rumah sakit menyarankan pemeriksaan laboratorium resmi untuk memastikan kondisi klinis pasien. Selanjutnya, dokter akan menganalisis hasil laboratorium tersebut guna memberikan penanganan medis yang tepat dan akurat.

Meskipun demikian, algoritma media sosial terus merekomendasikan video klip tentang kecemasan secara masif kepada pengguna. Hal ini memicu kepanikan massal bagi individu yang sedang mengalami tekanan psikologis atau kelelahan kerja. Di samping itu, oknum tidak bertanggung jawab memanfaatkan momentum tersebut demi meraup keuntungan finansial pribadi. Maka dari itu, edukasi mengenai kebenaran fungsi hormon tubuh harus berjalan secara masif dan berkesinambungan.

Pandangan Dokter Tentang Kekeliruan Narasi Gejala Stres Kronis

Seorang dokter senior, Dr. Budi Santoso, memberikan tanggapan serius mengenai fenomena menyesatkan yang sedang viral ini. Beliau menegaskan bahwa diagnosis penyakit memerlukan metode ilmiah yang valid daripada sekadar video media sosial. Beliau menyatakan,

“Masyarakat tidak boleh menelan mentah-mentah informasi kesehatan tanpa melakukan konsultasi dengan dokter ahli.”

“Kadar hormon manusia selalu berubah setiap waktu sehingga pemeriksaan medis memerlukan prosedur yang sangat ketat.”

Oleh karena itu, publik harus menghentikan kebiasaan membeli obat herbal tanpa resep resmi dari klinik.

Kemudian, konsumsi suplemen secara sembarangan justru berpotensi merusak fungsi organ ginjal dalam jangka panjang. Sementara itu, pengelolaan stres yang baik sebenarnya hanya memerlukan perbaikan pola tidur serta olahraga rutin. Langkah sederhana ini secara nyata berkhasiat untuk meningkatkan imunitas tubuh dan menjaga kebugaran fisik setiap hari. Alhasil, pikiran menjadi lebih tenang tanpa perlu mengonsumsi obat-obatan penurun kortisol yang tidak jelas khasiatnya.

Pada akhirnya, literasi digital yang tinggi menjadi kunci utama untuk menangkal penyebaran hoaks kesehatan yang masif. Masyarakat harus lebih kritis dalam menyaring setiap konten edukasi yang beredar pada jejaring sosial saat ini. Pihak Kementerian Kesehatan juga terus mengampanyekan gerakan cek fakta demi melindungi warga dari bahaya penipuan. Dengan demikian, seluruh lapisan masyarakat dapat memperoleh informasi kesehatan yang benar, aman, serta valid.