Lifestyle
Alasan 80% Penderita Autoimun adalah Wanita Menurut Penjelasan Pakar Genetika

Semarang (usmnews) – Pakar Genetika Ekologi IPB University mengungkapkan fakta bahwa 80% penderita autoimun adalah wanita di seluruh dunia. Fenomena medis ini menjadi perhatian serius karena jumlah kasusnya terus meningkat setiap tahun. Karakteristik biologis unik pada kaum perempuan memicu kerentanan yang jauh lebih tinggi tersebut. Oleh karena itu, para ahli kesehatan terus meneliti interaksi antara hormon dan genetik. Sistem kekebalan tubuh perempuan cenderung bekerja lebih kuat demi melindungi masa kehamilan mereka. Namun, kondisi imun yang terlalu aktif ini justru membawa risiko kesehatan yang besar.

Alasan Mengapa 80% Penderita Autoimun adalah Wanita
Kombinasi antara faktor genetik dan hormon seksual menjadi alasan utama mengapa mayoritas pasien merupakan perempuan. Hormon estrogen dan progesteron memengaruhi respons imunologis tubuh dalam menyerang jaringan sehat secara keliru. Selain itu, lonjakan hormon yang tidak stabil mampu memicu peradangan pada organ vital. “Perempuan memiliki kecenderungan lebih terhadap gangguan autoimun karena faktor genetik, hormon estrogen dan progesteron,” ujar Prof. Ronny Rachman Noor. Sistem kekebalan tubuh yang sangat kuat adakalanya berbalik menyerang sel-sel sehat dalam tubuh. Sementara itu, tren kasus serupa di Asia Tenggara juga terus menunjukkan kenaikan signifikan. Urbanisasi yang cepat serta perubahan gaya hidup masyarakat turut mendorong peningkatan angka kesakitan.
Gejala Gangguan Kekebalan Tubuh dan Jenis Penyakit Terbanyak
Masyarakat harus mengenali tanda-tanda awal kelainan sistem pertahanan tubuh ini secara cepat dan tepat. Beberapa gejala umum meliputi rasa mudah lelah, nyeri otot ekstrem, serta ruam kulit berulang. Dengan demikian, pasien bisa mendapatkan penanganan medis dari dokter spesialis secara lebih dini. Penyakit seperti lupus, rheumatoid arthritis, dan psoriasis merupakan contoh jenis gangguan yang paling mendominasi. Selanjutnya, gangguan pencernaan kronis serta penurunan berat badan tanpa sebab juga memerlukan kewaspadaan. Hingga saat ini, dunia kedokteran mencatat ada lebih dari seratus jenis penyakit serupa.
Faktor Lingkungan dan Pengaktifan Predisposisi Genetik Pasien
Penyakit gangguan kekebalan tubuh ini tidak turun secara langsung dari orang tua kepada anak. Namun, seorang anak dapat mewarisi bakat genetik tertentu yang meningkatkan risiko terserang penyakit. Oleh sebab itu, faktor lingkungan memegang peranan sangat penting dalam memicu aktifnya gen tersebut. Sebagai contoh, tekanan mental berat atau paparan sinar ultraviolet mampu memicu kekambuhan ekstrem. “Autoimun muncul dari kombinasi faktor genetik dan lingkungan, bukan semata-mata karena kesalahan gen,” tegas Prof. Ronny. Penderita harus menerapkan gaya hidup sehat serta mengonsumsi makanan antiinflamasi secara rutin. Pada akhirnya, pengelolaan stres yang baik dan istirkahat cukup akan membantu proses pemulihan fisik.








