Connect with us

Nasional

Perjuangan Keras Tim SAR Selesaikan Evakuasi Pendaki Gunung Piramid

Published

on

Semarang (usmnews) – Proses evakuasi pendaki Gunung Piramid wilayah Kabupaten Bondowoso akhirnya membuahkan hasil setelah melalui perjuangan ekstra. Tim gabungan harus berpacu melawan medan terjal yang hampir tegak lurus selama operasi pencarian. Selain itu, cuaca buruk turut menyelimuti kawasan jurang Punggung Naga selama dua hari penuh pelaksanaan evakuasi. Oleh karena itu, seluruh personel harus mengerahkan tenaga maksimal demi mengangkat jenazah kedua korban dari dasar jurang mematikan tersebut.

Identitas kedua korban meninggal dunia tersebut adalah seorang pendaki perempuan bernama Maliya Finda asal kota Surabaya. Korban kedua merupakan seorang pemandu jalan lokal bernama Irfan Nasrul Laili yang merupakan warga asli Kabupaten Bondowoso. Mereka berdua dilaporkan hilang kontak pada hari Senin setelah memulai perjalanan pendakian sejak hari Minggu sebelumnya. Pencarian intensif akhirnya berhasil menemukan keberadaan mereka berdua pada hari Selasa siang waktu setempat.

Pengurus Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia wilayah Jawa Timur memberikan penjelasan mengenai lokasi penemuan korban. Chuk SW menyebutkan bahwa kedua jasad berada pada kedalaman jurang yang saling berbeda satu sama lainnya. Jasad sang pendaki tersangkut pada kedalaman sekitar sembilan puluh meter dari bibir tebing kawasan Punggung Naga. Sementara itu, jasad pemandu lokal berada pada posisi sedikit lebih tinggi yaitu sekitar tujuh puluh meter bawah tebing curam.

Gunung Piramid

Tantangan Cuaca dan Teknik Lowering Evakuasi Pendaki Gunung Piramid

Proses pengangkatan jenazah terpaksa mengalami penundaan karena faktor cuaca buruk yang sangat tidak bersahabat. Kabut tebal menyelimuti area tebing ekstrem sehingga membuat jarak pandang petugas menjadi sangat terbatas. Kondisi alam ini tentu sangat membahayakan keselamatan nyawa seluruh personel regu penyelamat yang sedang bertugas. Oleh sebab itu, tim memutuskan untuk melanjutkan operasi penarikan jenazah secara penuh pada keesokan harinya.

Regu penyelamat menerjunkan teknik khusus bernama lowering untuk mengangkat kedua jasad dari jurang terjal tersebut. Teknik ini mengandalkan sistem katrol dan tali temali kuat untuk proses penurunan serta pengangkatan beban berat. Jefriansyah selaku koordinator lapangan mengungkapkan bahwa karakteristik tebing kawasan tersebut tergolong sangat miring. Namun, kondisi ekstrem tersebut tidak menyurutkan semangat juang seluruh relawan dalam menuntaskan misi kemanusiaan ini.

Gunung Piramid

Perjalanan Darat Estafet Menuju Rumah Sakit Bhayangkara

Setelah berhasil mencapai titik aman pada ketinggian sembilan ratus meter, perjuangan regu penyelamat belum sepenuhnya usai. Ratusan personel gabungan harus memikul tandu jenazah secara estafet menembus gelapnya malam menyusuri jalur darat ekstrem. Mereka berjalan kaki melintasi alur sungai berbatu dan menuruni bukit curam selama belasan jam lamanya. Akhirnya, rombongan tiba pada pos darurat pertama desa setempat pada pukul tujuh lebih empat puluh menit malam hari.

Setibanya pada pos pertama, kedua jasad langsung masuk ke dalam mobil ambulans yang sudah bersiaga sejak awal. Kendaraan medis tersebut segera melarikan para korban menuju instalasi forensik Rumah Sakit Bhayangkara wilayah Bondowoso. Kapolres setempat memastikan jajarannya akan memfasilitasi proses identifikasi hingga penyerahan jenazah beserta barang bawaan kepada pihak keluarga. Kesimpulannya, operasi pencarian dan penyelamatan ini resmi berakhir seiring dengan tibanya korban pada fasilitas kesehatan rujukan.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Secret Link