International
Babak Baru Misteri Penerbangan Terbesar: Tawaran Rp 1,1 Triliun Demi Menemukan MH370

Semarang (usmnews) – Lebih dari satu dekade telah berlalu sejak dunia penerbangan diguncang oleh salah satu misteri terbesar dalam sejarah modern: hilangnya pesawat Malaysia Airlines dengan nomor penerbangan MH370. Pesawat jenis Boeing 777-200ER yang membawa 239 orang (terdiri dari penumpang dan awak kabin) tersebut lenyap dari radar pada 8 Maret 2014 dalam perjalanan dari Kuala Lumpur menuju Beijing. Kini, secercah harapan baru muncul kembali ke permukaan dengan adanya wacana pencarian ulang yang melibatkan insentif finansial fantastis, yakni imbalan senilai sekitar Rp 1,1 triliun (setara dengan USD 70 juta).
Angka Rp 1,1 triliun tersebut bukanlah “hadiah” dalam artian konvensional, melainkan bagian dari proposal model pencarian yang disebut No Cure, No Fee. Pemerintah Malaysia tengah mempertimbangkan tawaran dari perusahaan eksplorasi laut dalam swasta, seperti Ocean Infinity, yang mengajukan diri untuk melanjutkan pencarian.
Dalam skema ini, perusahaan tersebut akan menanggung seluruh risiko operasional dan biaya pencarian terlebih dahulu. Pemerintah Malaysia hanya berkewajiban membayar imbalan sebesar angka yang disepakati tersebut jika dan hanya jika bangkai pesawat atau kotak hitam (black box) berhasil ditemukan. Pendekatan ini dinilai sebagai solusi paling logis dan adil, mengingat pencarian-pencarian sebelumnya yang didanai negara dan kolaborasi internasional (Australia, Tiongkok, Malaysia) telah menelan biaya ratusan juta dolar tanpa membuahkan hasil definitif mengenai lokasi utama jatuhnya pesawat.
Bagi keluarga dari 239 penumpang dan kru yang hilang, tawaran imbalan ini bukan sekadar soal uang, melainkan tentang kepastian dan penutupan batin (closure). Selama lebih dari 10 tahun, mereka hidup dalam ketidakpastian yang menyiksa, tanpa makam untuk dikunjungi dan tanpa jawaban mengapa orang-orang terkasih mereka tidak pernah sampai ke tujuan.

Desakan agar pencarian dilanjutkan terus menggaung dari asosiasi keluarga korban. Mereka berharap teknologi robotik bawah laut yang semakin canggih dalam satu dekade terakhir, dipadukan dengan insentif finansial yang besar, dapat memotivasi upaya pencarian yang lebih intensif di area-area baru di Samudra Hindia bagian selatan yang sebelumnya sulit dijangkau.
Tawaran Rp 1,1 triliun ini juga mencerminkan tingkat kesulitan misi tersebut. Area pencarian MH370 dikenal sebagai salah satu medan laut paling sulit di dunia. Kedalaman laut yang ekstrem, arus yang kuat, dan topografi dasar laut yang penuh pegunungan dan jurang membuat operasi ini sangat berbahaya dan mahal.
Sejauh ini, bukti fisik yang ada hanyalah serpihan-serpihan puing (seperti flaperon) yang terdampar di pantai Afrika dan pulau-pulau di Samudra Hindia. Puing-puing ini mengonfirmasi bahwa pesawat memang berakhir di laut, namun tidak bisa menunjuk titik koordinat pasti lokasi jatuhnya badan utama pesawat (main fuselage). Jika pencarian baru ini disetujui, teknologi sonar dan kendaraan bawah air otonom (AUV) terbaru akan dikerahkan untuk memindai dasar laut yang gelap gulita tersebut.
Ditemukannya MH370 bukan hanya penting bagi keluarga korban, tetapi juga bagi keselamatan penerbangan global. Hingga kotak hitam ditemukan, penyebab pasti—apakah itu kegagalan mekanis, aksi pembajakan, atau tindakan pilot—akan tetap menjadi spekulasi. Kesediaan untuk menggelontorkan dana hingga Rp 1,1 triliun menunjukkan bahwa dunia belum menyerah untuk memecahkan teka-teki ini. Ini adalah upaya terakhir untuk menjawab pertanyaan: “Di mana MH370?” dan memastikan kejadian serupa tidak akan pernah terulang lagi di masa depan.







