Connect with us

Nasional

Inspiratif! 41 Penghafal Al-Qur’an di Pati Dapat Tali Asih dari Taj Yasin

Published

on

Seorang pria mengenakan peci dan sarung menyerahkan sertifikat kepada santri berseragam jas merah marun dan peci hitam

Semarang (usmnews) – Sebanyak 41 penghafal Al-Qur’an mendapat tali asih (bisyaroh) dari Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen dalam Haflah Khotmil Qur’an XVI, Pondok Pesantren Al-Qur’an Tahfidzul Qur’an (PPATQ) Raudlatul Falah Bermi, Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, Sabtu (5/9/2026).

Ke-41 anak tersebut terdiri atas 11 putra dan 30 putri. Mereka berhasil menyelesaikan hafalan Al-Qur’an pada usia yang masih belia. Peserta termuda berusia sembilan tahun, sedangkan rata-rata usia para santri yang menyelesaikan hafalan tersebut sekitar 11 tahun.

Pemberian tali asih menjadi bentuk apresiasi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terhadap capaian para santri di bidang keagamaan. Selain penghargaan, bantuan tersebut diharapkan dapat menjadi dorongan agar mereka terus belajar dan mengembangkan kemampuan.

IMG 20260905 WA0041

Penghafal Al-Qur’an di Usia Belia Dapat Apresiasi

Taj Yasin mengapresiasi keberhasilan para santri yang mampu menyelesaikan hafalan Al-Qur’an di usia belia. Menurutnya, pencapaian tersebut dapat menjadi bekal positif bagi anak-anak untuk melanjutkan pendidikan sekaligus mengembangkan potensi mereka di bidang lainnya.

Wagub yang akrab disapa Gus Yasin tersebut mengingatkan agar keberhasilan menyelesaikan hafalan Al-Qur’an tidak membuat para santri berhenti belajar. Sebaliknya, capaian tersebut harus menjadi pijakan untuk melanjutkan proses pendidikan sesuai dengan minat dan potensi masing-masing.

“Khatam Al-Qur’an bukan capaian akhir. Ini adalah permulaan. Masih banyak yang perlu dipelajari,” ujarnya.

Menurut Taj Yasin, pendidikan yang dijalani para santri harus terus berkembang. Kemampuan menghafal Al-Qur’an dapat menjadi dasar yang kuat, tetapi masih terdapat berbagai ilmu dan keterampilan lain yang perlu dipelajari untuk menghadapi masa depan.

Ia kemudian mengambil contoh perjalanan Imam Syafi’i. Tokoh tersebut diketahui telah menghafalkan Al-Qur’an sejak usia tujuh tahun. Setelah menyelesaikan hafalannya, proses belajar tetap berlanjut dengan mempelajari bahasa hingga kemudian mendalami ilmu fikih.

IMG 20260905 WA0038

Hafalan Al-Qur’an Bukan Akhir Proses Belajar

Taj Yasin menekankan bahwa pendidikan tidak berhenti ketika seseorang berhasil mencapai satu prestasi. Hal tersebut juga berlaku bagi para penghafal Al-Qur’an yang telah menyelesaikan hafalannya.

Menurutnya, capaian tersebut justru menjadi awal untuk memperluas wawasan dan mengembangkan kemampuan lain. Para santri diharapkan dapat terus belajar sesuai dengan bidang yang diminati, tanpa meninggalkan nilai-nilai yang telah diperoleh selama menempuh pendidikan di pesantren.

Pesantren memiliki peran penting dalam proses tersebut. Selain memberikan pengetahuan keagamaan, lingkungan pendidikan di pesantren diharapkan mampu membentuk karakter para santri agar memiliki sikap yang baik dalam kehidupan sehari-hari.

Taj Yasin berharap proses belajar mengajar di pesantren tidak hanya berorientasi pada penguasaan ilmu. Pendidikan juga harus menjadi sarana untuk membentuk karakter dan kepribadian anak.

Karena itu, peran pendidik tidak hanya sebatas menyampaikan materi pembelajaran. Para pendidik juga memiliki tanggung jawab untuk membimbing santri dalam mengembangkan sikap, kepribadian, serta nilai-nilai positif yang dapat diterapkan dalam kehidupan.

41 Santri Terima Tali Asih

Dalam kesempatan tersebut, Taj Yasin menyerahkan secara langsung tali asih kepada 41 anak yang telah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an. Pemberian tersebut menjadi bentuk penghargaan atas usaha dan capaian para santri dalam menyelesaikan hafalan mereka.

Sebanyak 11 santri putra dan 30 santri putri menerima tali asih tersebut. Usia mereka yang relatif muda menjadi salah satu hal yang mendapat perhatian dalam kegiatan tersebut.

Peserta termuda tercatat berusia sembilan tahun. Sementara itu, rata-rata usia para santri yang berhasil menyelesaikan hafalan berada di sekitar 11 tahun.

Capaian tersebut menunjukkan bahwa proses pendidikan dan pembinaan di lingkungan pesantren dapat memberikan ruang bagi anak-anak untuk mengembangkan kemampuan keagamaannya sejak usia dini.

Namun, pencapaian tersebut tetap perlu diiringi dengan pendidikan yang berkelanjutan. Para santri diharapkan tidak hanya mempertahankan hafalan yang telah dimiliki, tetapi juga terus meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mereka.

Pemprov Jateng Dorong Prestasi Keagamaan

Program tali asih bagi penghafal Al-Qur’an merupakan salah satu bentuk perhatian Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terhadap anak-anak yang memiliki prestasi di bidang keagamaan.

Pemberian apresiasi tersebut diharapkan dapat menjadi motivasi bagi para santri untuk terus mengembangkan kemampuan sekaligus melanjutkan pendidikan. Dukungan terhadap para penghafal Al-Qur’an juga menjadi bagian dari upaya mendorong generasi muda agar memiliki prestasi dan karakter yang baik.

Taj Yasin berharap capaian para santri di PPATQ Raudlatul Falah Bermi dapat menjadi motivasi untuk terus belajar. Menyelesaikan hafalan Al-Qur’an bukan menjadi alasan untuk berhenti menuntut ilmu, melainkan menjadi salah satu bekal untuk melanjutkan perjalanan pendidikan.

Pendidikan keagamaan dan pendidikan umum juga dapat berjalan beriringan. Para santri memiliki kesempatan untuk mengembangkan minat dan potensi masing-masing sesuai dengan bidang yang ingin ditekuni.

Dengan demikian, tali asih yang diberikan Pemprov Jateng bukan hanya menjadi bentuk penghargaan atas capaian para santri. Apresiasi tersebut juga diharapkan mampu memberikan semangat kepada penghafal Al-Qur’an untuk terus belajar, menjaga hafalan, membangun karakter, dan mengembangkan kemampuan di berbagai bidang.

Melalui dukungan pemerintah, keluarga, pesantren, serta para pendidik, para santri diharapkan dapat tumbuh menjadi generasi yang memiliki pengetahuan, karakter, dan kemampuan yang bermanfaat bagi masyarakat.

Secret Link