International
Dukungan Trump untuk Kapal Selam Nuklir Korsel Memicu Perlombaan Senjata Regional

Semarang (usmnews) – Dikutip dari Kompas.com Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, telah menyetujui rencana Korea Selatan (Korsel) untuk mengakuisisi dan mengoperasikan kapal selam bertenaga nuklir, sebagai bagian dari upayanya untuk memulai babak baru aliansi di Asia Timur. Trump bahkan menyebutkan bahwa unit pertama akan diproduksi di Philadelphia, AS.
Pemerintah di Seoul menyambut baik pengumuman ini. Menteri Pertahanan Korsel, Ahn Gyu-back, menyatakan dalam sebuah sesi parlemen bahwa kepemilikan kapal selam bertenaga nuklir akan menjadi pengubah permainan yang signifikan untuk memperkuat kekuatan militer negara tersebut. Ahn membandingkan teknologi baru ini dengan armada kapal selam konvensional hibrida (diesel-listrik) yang dioperasikan Korsel saat ini. Ia menegaskan bahwa kapal selam nuklir menawarkan keunggulan kecepatan dan daya jelajah yang krusial untuk menandingi kapabilitas kapal selam tempur nuklir yang dimiliki oleh Korea Utara (Korut).
Meskipun rezim Kim Jong Un di Pyongyang belum memberikan tanggapan resmi, para analis memprediksi bahwa Korut hampir pasti akan bereaksi keras dan kemungkinan besar akan mengumumkan langkah-langkah balasan.
Para ahli memperingatkan bahwa situasi ini mempercepat perlombaan senjata yang sudah terjadi di Asia Timur Laut, di mana negara-negara lain di kawasan itu juga terpantau meningkatkan anggaran pertahanan mereka secara signifikan. Andrei Lankov, seorang profesor di Universitas Kookmin, Seoul, menegaskan bahwa kawasan tersebut tidak diragukan lagi telah berada dalam era perlombaan senjata.

Lankov mengidentifikasi beberapa faktor pendorong di balik eskalasi ini.
- Adanya kekhawatiran di antara sekutu AS, seperti Korsel dan Jepang, mengenai komitmen keamanan Washington. Lankov mencatat bahwa Trump sering mengeluhkan sekutu-sekutunya sebagai “parasit” dan bisa saja mengumumkan penarikan pasukan AS kapan saja. Ketidakpastian ini menjadi ancaman serius, terutama bagi Korsel yang berbatasan langsung dengan Korut yang bersenjata nuklir. Oleh karena itu, menurut Lankov, adalah langkah yang wajar jika Seoul berupaya meningkatkan kemampuan militernya secara drastis, bahkan mungkin mempertimbangkan pengembangan senjata nuklir sendiri.
- Kemajuan pesat program militer Korut selama dekade terakhir, yang kini mencakup rudal balistik antarbenua berbahan bakar padat dan arsenal hulu ledak nuklir yang terus bertambah. Kemajuan ini, menurut Lankov, didukung oleh Rusia, yang diperkirakan telah memasok Pyongyang dengan teknologi reaktor miniatur untuk kapal selam nuklirnya.
- Upaya berkelanjutan China untuk memodernisasi kekuatan militernya dan menegaskan perannya sebagai kekuatan dominan yang tak tertandingi di Asia Timur. Lankov juga menyoroti bahwa aliansi yang semakin erat antara Pyongyang, Moskow, dan Beijing telah memberi Korut kepercayaan diri untuk bertindak lebih agresif, yang dibuktikan dengan serangkaian uji coba rudal hipersonik dan rudal jelajah yang bertepatan dengan kunjungan pejabat tinggi AS ke kawasan tersebut.
Perlombaan senjata ini tidak terbatas di Semenanjung Korea. China saat ini sedang menguji kapal induk ketiganya, Fujian, dan semakin intensif menantang pertahanan udara serta laut negara-negara tetangga, termasuk Jepang di dekat Okinawa dan Filipina di Laut China Selatan. Ambisi Beijing untuk menguasai Taiwan juga mendorong Taipei untuk meningkatkan anggaran pertahanannya, termasuk pembelian jet tempur F-16V dan bom luncur dari AS.

Jepang merespons dengan membangun kembali sistem pertahanannya secara signifikan. Perdana Menteri Sanae Takaichi telah berjanji kepada Trump untuk menggandakan anggaran pertahanan Jepang menjadi 2% dari PDB mulai tahun fiskal 2026. Tokyo berinvestasi besar-besaran pada rudal canggih, armada kapal selam yang lebih besar, serta drone laut dan udara. Selain itu, Jepang juga telah setuju untuk memasok fregat kelas Mogami ke Australia dan memberikan sistem radar canggih serta pesawat patroli pantai kepada Filipina untuk membantu memantau aktivitas kapal China.
Dan Pinkston, seorang profesor hubungan internasional, berpendapat bahwa era damai selama beberapa dekade yang dinikmati Asia Timur mungkin akan segera berakhir. Menurutnya, banyak negara di kawasan itu kini memiliki kekuatan ekonomi yang memadai untuk membiayai militerisasi skala besar.
Pinkston secara khusus memperingatkan bahwa kesepakatan kapal selam nuklir ini dapat menjadi langkah awal bagi Korsel untuk mengembangkan senjata nuklirnya sendiri, meskipun Seoul secara resmi berkomitmen pada Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT).
Ia menunjukkan bahwa meskipun Korsel berencana membeli uranium yang diperkaya dari AS untuk reaktor kapal selam, Korsel juga memiliki fasilitas dan teknologi nuklir domestik yang memungkinkannya untuk memperkaya bahan bakar sendiri. Pinkston menyimpulkan, jika kapal selam tersebut dirancang untuk membawa rudal berhulu ledak konvensional, tidak dibutuhkan langkah besar untuk beralih merancang hulu ledak nuklir jika Seoul menganggapnya vital bagi keamanan nasional.







