Entertainment
BTS dan Sederet Musisi Top Dunia Gelar Boikot Grammy Awards

Semarang (usmnews) – Boikot Grammy Awards kembali mencuri perhatian publik global setelah keputusan mengejutkan dari grup musik BTS. Boyband asal Korea Selatan tersebut menolak mendaftarkan karya terbaru mereka pada ajang Grammy Awards 2027 mendatang. Para penggemar menganggap langkah berani ini sebagai bentuk penolakan terhadap sistem penilaian yang kurang adil. Kehadiran kategori baru Best Asian Pop Music Performance justru menuai kontroversi luas di kalangan pengamat. Banyak pihak menilai kategori tersebut mengisolasi musisi Asia dari persaingan utama. Oleh karena itu, aksi Boikot Grammy Awards ini mempertegas ketidakpuasan para musisi terhadap Recording Academy. Anda dapat memantau info seputar musik internasional di situs resmi BPI.
Langkah berani BTS mengekor jejak para superstar global yang telah menyuarakan kritik senada sebelumnya. Ketimpangan sistem penentuan pemenang memicu protes keras dari berbagai genre musik.

Deretan Musisi Dunia yang Melancarkan Boikot Grammy Awards
Rapper kenamaan Eminem telah lama menyuarakan kekecewaan mendalam terhadap proses pemungutan suara ajang tersebut. Ia menilai Recording Academy hanya memenangkan artis favorit internal tanpa melihat perkembangan industri secara objektif.
“Proses pemungutan suara tidak benar-benar mencerminkan pilihan para pemilih yang jujur,” kata Eminem saat mengevaluasi sistem penghargaan tersebut.
Frank Ocean juga menolak mengirimkan album fenomenalnya demi menuntut transparansi sistem nominasi yang usang. Sementara itu, Drake menarik nominasi albumnya karena menilai panitia kerap mengabaikan musik rap karya musisi berkulit hitam.
“Grammy merupakan institusi yang korup dan tidak transparan,” tutur The Weeknd usai albumnya gagal meraih nominasi.
Protes Keras Soal Diskriminasi dan Transparansi Industri Musik

Zayn Malik melontarkan tuduhan pedas mengenai praktik rasisme serta politik jaringan di balik layar penyelenggaraan. Penyanyi Halsey turut membongkar rahasia bahwa hubungan internal lebih menentukan kemenangan ketimbang kualitas karya musik. Selanjutnya, Nicki Minaj meluapkan kemarahannya saat panitia memindahkan genre lagunya secara sepihak untuk memperkecil peluang menang.
Rentetan protes panjang ini membuktikan bahwa Recording Academy harus segera mereformasi sistem penilain mereka. Puncak gelombang kritik ini akan memengaruhi gengsi penyelenggaraan ajang ke-69 pada Februari 2027 mendatang. Publik kini menantikan perubahan nyata demi terciptanya ajang penghargaan yang inklusif bagi seluruh musisi dunia.







