Connect with us

Education

Ahli Kesehatan Ingatkan Risiko Hantavirus di Pemukiman Padat, Bisa Sebabkan Gagal Napas

Published

on

Semarang (usmnews) – Warga dunia saat ini tengah mengkhawatirkan munculnya hantavirus di kapal pesiar MV Hondius. Di Indonesia sendiri, otoritas kesehatan telah mengidentifikasi sebanyak 23 kasus hantavirus pada manusia sejak tahun 2024 lalu.

Risiko Penyakit Zoonosis di Pemukiman Padat

Munculnya hantavirus kembali menjadi perhatian serius terkait risiko penyakit zoonosis yang meningkat di Indonesia. Hal ini terutama mengancam wilayah pemukiman padat penduduk dengan tingkat sanitasi yang rendah. Karakteristik penularan dan tingkat fatalitas virus ini tidak boleh dianggap remeh oleh masyarakat.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam sekaligus dosen FKK Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Zulistian Nurul Hidayati dr SpPD, menjelaskan bahwa hantavirus memiliki karakteristik penularan yang unik namun berisiko tinggi. Manusia dapat terinfeksi melalui udara saat menghirup partikel kotoran tikus atau melalui kontak langsung dengan hewan pengerat tersebut.

Gejala Awal yang Mengecoh

Zulistian mengungkapkan bahwa tenaga medis sulit mengidentifikasi gejala awal hantavirus karena indikasi awalnya mirip dengan flu biasa. Gejala umum meliputi batuk, demam, dan nyeri otot. Oleh karena itu, dokter memerlukan pemeriksaan laboratorium penunjang untuk menegakkan diagnosis secara akurat.

Masyarakat perlu waspada jika terjadi penurunan kondisi tubuh secara mendadak atau kegagalan pernapasan. Paparan hantavirus dapat menyebabkan dua dampak serius: Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang mengganggu pernapasan akut, serta Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang menyebabkan demam berdarah disertai gangguan ginjal akut.

Langkah Pencegahan di Lingkungan Rumah

Hingga saat ini, ahli telah menemukan lebih dari 40 Kasus Hantavirus di Indonesia, di mana 20 di antaranya bersifat patogenik bagi manusia. Berbeda dengan COVID-19 yang menyebar secara masif antarmanusia, masyarakat dapat menekan risiko hantavirus melalui langkah preventif sederhana.

Zulistian menyarankan masyarakat untuk meningkatkan sanitasi lingkungan rumah dan melakukan sterilisasi secara rutin. Penggunaan masker dan sarung tangan saat membersihkan area yang berisiko menjadi sarang tikus sangat efektif untuk menghindari kontak langsung dengan kotoran hewan tersebut. Dengan menjaga kebersihan, masyarakat dapat memutus rantai penularan virus berbahaya ini.

Baca Juga : Wabah Hantavirus di Kapal MV Hondius: 149 Penumpang Terisolasi

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *