Business
Berkah Ramadan bagi Industri Kerupuk Mie: Peningkatan Produksi dan Geliat Ekonomi Lokal

Semarang (usmnews) – Dikutip dari detik.com, Bulan suci Ramadan tidak hanya membawa makna spiritual bagi umat Muslim di Indonesia, tetapi juga menjadi momentum emas bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), khususnya di sektor pangan tradisional. Salah satu komoditas yang mengalami lonjakan permintaan sangat signifikan adalah kerupuk mie. Sebagaimana dilaporkan oleh Detik Finance dalam ulasan visualnya, para perajin kerupuk mie kini tengah memasuki masa tersibuk mereka sepanjang tahun untuk memenuhi kebutuhan pasar yang meningkat tajam.
Simbol Kuliner Khas Berbuka Puasa
Kerupuk mie, yang memiliki ciri khas warna kuning cerah dan bentuk yang menyerupai gumpalan mie yang dikeringkan, telah lama menjadi elemen tak terpisahkan dalam tradisi berbuka puasa di tanah air. Kerupuk ini biasanya menjadi pendamping setia menu takjil, seperti asinan, kerupuk banjur sambal oncom, atau sekadar dinikmati dengan cocolan sambal kacang yang pedas gurih. Karena harganya yang sangat terjangkau namun memberikan tekstur renyah yang memuaskan, kerupuk mie selalu dicari oleh masyarakat dari berbagai kalangan, sehingga permintaannya meledak setiap kali bulan puasa tiba.

Peningkatan Kapasitas Produksi yang Drastis
Berdasarkan pantauan di berbagai sentra industri rumahan, aktivitas produksi kerupuk mie menunjukkan peningkatan yang sangat kontras dibandingkan hari-hari biasa. Jika pada bulan-bulan standar para produsen hanya mengolah bahan baku dalam jumlah tertentu, saat Ramadan kapasitas produksi bisa meningkat hingga dua atau tiga kali lipat. Hal ini dilakukan demi menjamin ketersediaan stok di pasar tradisional maupun di tangan para pedagang kaki lima yang menjajakan menu berbuka di pinggir jalan.
Proses pembuatannya sendiri masih mempertahankan metode tradisional yang mengandalkan keterampilan tangan. Dimulai dari pengadukan adonan tepung tapioka yang dicampur dengan bumbu dan pewarna alami (seringkali menggunakan kunyit), kemudian dicetak membentuk pola mie, dikukus, dan tahap yang paling krusial adalah penjemuran.
Tantangan Cuaca dan Ketekunan Perajin

Satu hal yang menarik dari laporan tersebut adalah ketergantungan para perajin terhadap sinar matahari. Di tengah tuntutan produksi yang tinggi, cuaca menjadi faktor penentu utama. Penjemuran di bawah sinar matahari langsung sangat diperlukan agar kerupuk mie kering dengan sempurna sehingga menghasilkan tekstur yang mekar saat digoreng. Jika cuaca mendung atau hujan turun, proses pengeringan bisa terhambat, yang pada akhirnya dapat mengganggu rantai pasokan. Namun, semangat para pekerja di sentra industri ini tetap tinggi, terlihat dari tumpukan rak-rak bambu berisi kerupuk yang memenuhi area penjemuran.
Dampak Ekonomi bagi Masyarakat Sekitar
Lonjakan pesanan ini tentu berdampak positif pada penyerapan tenaga kerja lokal. Banyak industri rumahan yang menambah jam kerja atau merekrut tenaga tambahan dari warga sekitar untuk membantu proses pencetakan hingga pengemasan. Hal ini membuktikan bahwa industri kerupuk mie bukan sekadar bisnis makanan ringan, melainkan pilar ekonomi yang menghidupkan kesejahteraan komunitas di tingkat akar rumput.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, fenomena meningkatnya produksi kerupuk mie saat Ramadan menggambarkan bagaimana tradisi kuliner lokal mampu menggerakkan roda ekonomi nasional. Artikel ini menegaskan bahwa di balik renyahnya sepinggan kerupuk mie yang kita nikmati saat berbuka, terdapat kerja keras, ketekunan, dan harapan para perajin tradisional yang berjuang menangkap peluang di bulan penuh berkah ini. Kehadiran kerupuk mie tetap menjadi bukti bahwa produk lokal memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu di tengah gempuran aneka camilan modern.







