Education
Transformasi Digital Pendidikan: Di Balik Filosofi “Trust the Giant” Nadiem Makarim

Semarang (usmnews) – Dikutip dari detik.com, Kebijakan digitalisasi pendidikan yang diusung oleh Nadiem Makarim selama menjabat sebagai Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) kerap mengundang polemik di ruang publik. Salah satu isu yang paling hangat diperbincangkan adalah pengadaan laptop Chromebook untuk satuan pendidikan di seluruh Indonesia. Menanggapi berbagai keraguan dan kritik tajam terkait pemilihan perangkat tersebut, Nadiem melontarkan sebuah prinsip yang kemudian menjadi sorotan: “Trust the Giant” atau percayalah pada sang raksasa.
Pernyataan ini bukan sekadar pembelaan terhadap merek tertentu, melainkan sebuah filosofi strategis dalam membangun infrastruktur teknologi pendidikan skala nasional. Nadiem menekankan bahwa dalam upaya melakukan transformasi digital yang masif di ribuan sekolah, Indonesia tidak bisa mengambil risiko dengan menggunakan sistem yang belum teruji. Dengan memilih ekosistem Chromebook, pemerintah sebenarnya sedang “menitipkan” keamanan dan efisiensi sistem pendidikan kepada raksasa teknologi global yang memiliki reputasi dan infrastruktur yang sudah mapan.
Kritik yang selama ini muncul biasanya berpusat pada spesifikasi teknis Chromebook yang dianggap terlalu sederhana atau “minimalis” jika dibandingkan dengan laptop berbasis Windows pada rentang harga yang sama. Namun, bagi Nadiem, paradigma berpikirnya bukan terletak pada kekuatan perangkat keras (hardware), melainkan pada kemudahan pengelolaan dan keamanan data (software & cloud). Ia berargumen bahwa Chromebook dirancang khusus untuk dunia pendidikan dengan sistem operasi yang ringan, cepat, dan sangat sulit ditembus oleh virus.
Melalui filosofi “Trust the Giant”, Nadiem ingin memastikan bahwa guru dan siswa tidak dibebani oleh masalah teknis seperti laptop yang lemot, instalasi aplikasi yang rumit, atau kehilangan data akibat kerusakan perangkat. Karena berbasis cloud (awan), semua pekerjaan siswa tersimpan secara otomatis di server Google. Jika laptop rusak atau hilang, siswa hanya perlu masuk (login) ke perangkat lain dan semua data mereka akan kembali seketika. Kemudahan sinkronisasi inilah yang dianggap Nadiem sebagai kunci efisiensi di lapangan.

Selain itu, aspek manajemen menjadi alasan krusial. Dengan ekosistem yang seragam, kementerian dapat melakukan pemantauan dan pembaruan sistem secara terpusat. Hal ini sangat penting mengingat distribusi perangkat ini menjangkau daerah-daerah terpencil yang mungkin minim tenaga teknis IT. Jika setiap sekolah menggunakan perangkat dengan sistem operasi yang berbeda-beda dan tidak terintegrasi, maka biaya perawatan dan risiko kegagalan sistem akan jauh lebih besar.
Meski demikian, kebijakan ini tetap menghadapi tantangan besar, terutama terkait ketergantungan pada koneksi internet dan isu penggunaan produk dalam negeri (TKDN). Nadiem mengklaim bahwa Chromebook yang dibagikan telah memenuhi unsur TKDN dengan melibatkan produsen lokal dalam proses perakitannya, sehingga tetap memberdayakan industri nasional di bawah supervisi standar global.
Secara keseluruhan, pesan “Trust the Giant” adalah seruan untuk melihat gambaran besar dari digitalisasi pendidikan. Nadiem mengajak masyarakat untuk beralih dari perdebatan mengenai “spek laptop” menuju diskusi tentang “ekosistem pembelajaran”. Bagi beliau, bekerja sama dengan raksasa teknologi global adalah langkah pragmatis dan paling aman untuk memastikan bahwa investasi besar negara dalam teknologi pendidikan benar-benar memberikan manfaat jangka panjang bagi generasi mendatang.







