Connect with us

Education

Wujudkan SDGs Poin 3, Mahasiswa KKN UNNES Giatkan Survei Jentik di Desa Bandungsari

Published

on

Grobogan (USMNEWS) – Demi mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) poin ketiga tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera, mahasiswa KKN Universitas Negeri Semarang (UNNES) Giat 16 Desa Bandungsari, Kecamatan Ngaringan, Kabupaten Grobogan, menggelar gerakan survei jentik dan edukasi 3M Plus. Langkah ini diambil guna menekan risiko penularan Demam Berdarah Dengue (DBD). Tak sekadar memetakan keberadaan jentik, aksi ini bertujuan membangun kesadaran warga agar mampu melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) secara mandiri dan berkelanjutan.

Kegiatan diawali dengan membagi tim ke lima dusun, yakni Krajan, Sono, Sendangsuro, Tegal, dan Peting. Agar survei berjalan efektif sekaligus mempererat silaturahmi dengan warga, para mahasiswa turun langsung ke lapangan didampingi oleh kepala dusun dan kader kesehatan setempat.

Target utama survei adalah kediaman warga yang memiliki riwayat anggota keluarga pernah terserang DBD. Pemeriksaan dilakukan menggunakan formulir pemantauan jentik dan 3M Plus dengan menyisir berbagai tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk Aedes aegypti—seperti bak mandi, penampungan air, gentong tanah liat, vas bunga, hingga barang-barang bekas. Selain itu, mahasiswa juga mewawancarai warga terkait kebiasaan 3M Plus, mulai dari frekuensi menguras dan menutup tempat air, penggunaan obat nyamuk, kerja bakti lingkungan, hingga pemeriksaan jentik secara berkala. Edukasi dipersonalisasi sesuai kondisi tiap rumah, lengkap dengan penempelan stiker 3M Plus sebagai pengingat harian.

Dari survei tersebut, jentik nyamuk masih ditemukan di seluruh dusun dengan Angka Bebas Jentik (ABJ) sebesar 52%. Angka ini menjadi sinyal bahwa upaya PSN di desa tersebut masih perlu dipacu. Sarang jentik terbanyak dijumpai di bak mandi dan gentong air, serta lokasi-lokasi yang sering terabaikan seperti tatakan air dispenser.

Dalam sesi edukasi, mahasiswa kerap menemukan kendala riil di lapangan. Salah satu warga mengungkapkan, “Ngurasnya nggak sering, Mbak, soalnya bak mandinya memang susah dikuras.”

Menanggapi keluhan tersebut, mahasiswa memberikan solusi praktis: jika tempat penampungan air memang sulit dikuras rutin, warga bisa memelihara ikan pemakan jentik di wadah yang sesuai. Solusi ini diharapkan memudahkan warga untuk tetap mencegah DBD tanpa terbebani keterbatasan fisik wadah air mereka.

Di antara seluruh wilayah, Dusun Krajan menjadi lokasi dengan temuan jentik terbanyak, bahkan satu rumah bisa memiliki lebih dari satu titik positif. Memasuki minggu kedua, area pemeriksaan diperluas ke rumah-rumah di sekitar lokasi positif. Karena masih ditemukan jentik di beberapa tempat, evaluasi lanjutan kembali digelar pada minggu ketiga.

Hasil pemantauan di minggu ketiga menunjukkan progres yang sangat positif. Seluruh rumah yang dipantau telah bebas jentik setelah warga mempraktikkan saran yang diberikan. Sebagai bentuk komitmen keberlanjutan, mahasiswa juga membagikan ikan pemakan jentik kepada warga yang penampungan airnya sulit dikuras dan belum memiliki ikan pemeliharaan.

Puncak rangkaian kegiatan ditutup pada minggu keempat melalui sosialisasi pencegahan DBD dan gerakan 3M Plus dalam forum ibu-ibu Pertemuan Keluarga Sejahtera Rukun Tetangga (PKS RT) se-Desa Bandungsari. Hasil survei lapangan dipaparkan langsung sebagai bahan evaluasi bersama, dengan penekanan pada pentingnya pemantauan jentik secara berkala, PSN rutin, dan konsistensi menerapkan 3M Plus.

Sebagai langkah tindak lanjut, mahasiswa KKN UNNES merumuskan policy brief sebagai bentuk advokasi kepada Pemerintah Desa Bandungsari. Menyadari adanya keterbatasan anggaran untuk mengaktifkan kembali kader Jumantik, mahasiswa merekomendasikan pembentukan relawan desa pemantau jentik serta optimalisasi forum warga seperti PKK atau PKS RT sebagai wadah edukasi berkelanjutan.

Lewat aksi nyata ini, mahasiswa KKN UNNES berharap warga Desa Bandungsari makin memahami bahwa pencegahan DBD tidak melulu bergantung pada fogging, melainkan berawal dari kebiasaan sederhana di rumah melalui penerapan 3M Plus secara konsisten. Sinergi antara warga, kader kesehatan, pemerintah desa, dan mahasiswa diharapkan mampu mewujudkan lingkungan Desa Bandungsari yang bersih, sehat, dan bebas dari ancaman DBD.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *