USM News
Misi Penjelajah Antariksa Terjauh Bangun dari Hibernasi
Semarang (usmnews) – Wahana antariksa New Horizons milik NASA akhirnya tersadar dari tidur panjangnya di luar angkasa. Robot penjelajah ini menjalani masa hibernasi selama hampir satu tahun di wilayah luar Pluto. Manajemen operasional mematikan sebagian besar sistem elektronik guna menghemat pasokan daya baterai wahana. Meskipun demikian, instrumen komputer tetap mengumpulkan berbagai data penting secara pasif selama masa tersebut.
Saat ini, posisi New Horizons berada sejauh 9,5 miliar kilometer dari planet Bumi. Jarak yang sangat luar biasa ini membuat sinyal radio memerlukan waktu 9 jam. Pihak NASA mengonfirmasi bahwa robot penjelajah tersebut kini berada dalam kondisi yang sangat prima. Manajer Operasi Misi New Horizons, Alice Bowman, memberikan pernyataan resmi mengenai kondisi terbaru kendaraan luar angkasa ini. “Setiap laporan status selama periode hibernasi ini selalu menunjukkan indikator hijau, yang berarti semua sistem di dalam New Horizons berfungsi dengan baik setiap minggunya,” kata Bowman.
Rencana Penelitian Baru NASA Misi Penjelajah Antariksa Terjauh di Sabuk Kuiper
Kini, tim pengendali di Bumi mulai menerima kiriman data penting dari misi penjelajah antariksa terjauh tersebut. New Horizons menyimpan catatan kondisi sistem mekanis selama 321 hari masa tidurnya kemarin. Wahana legendaris ini memegang rekor sebagai satu-satunya objek buatan manusia yang mendekati Pluto. Selanjutnya, robot ini juga sukses memotret objek es Arrokoth di wilayah Sabuk Kuiper.
Sekarang, wahana canggih tersebut melaju menjauhi Bumi dengan kecepatan 483 juta kilometer per tahun. Tiga minggu lagi, New Horizons akan memulai studi baru mengenai kandungan hidrogen heliosfer. Tim ilmuwan ingin mengamati area yang menerima dampak langsung dari aliran angin matahari. Karakteristik instrumen New Horizons jauh lebih modern daripada milik pesawat Voyager zaman dahulu. Oleh karena itu, misi penjelajah antariksa terjauh ini mampu menyajikan data yang lebih akurat.
Menguak Misteri Batas Ruang Antarbintang dan Termination Shock
Data kiriman New Horizons dari ujung Tata Surya merupakan informasi pertama jenisnya. Para ahli astronomi dapat mempelajari perbatasan antara pengaruh Matahari dan ruang antarbintang secara mendalam. Wilayah perbatasan yang sangat ekstrem ini akrab dengan sebutan area termination shock. Peneliti proyek New Horizons, Pontus Brandt, mengungkapkan kegembiraannya terhadap potensi temuan ilmiah masa depan.
“Data dari pertemuan dengan zona termination shock ini akan menjadi harta karun bagi para fisikawan antariksa di seluruh dunia yang ingin memahami bagaimana batas masif ini bekerja,” jelas Brandt. Penemuan dari penjelajah antariksa memberikan banyak pengetahuan baru bagi peradaban manusia modern. Manusia akhirnya menyadari bahwa pemahaman tentang luar angkasa masih sangat terbatas. “Semua penemuan dari misi-misi pelopor seperti Voyager dan New Horizons ini mengajarkan kita betapa sedikitnya yang kita ketahui tentang apa yang terbentang di luar sana,” ujar Brandt.

