International
Tragedi Gempa M 7,5 di Venezuela, Gedung Ambruk dan Bantuan Internasional Mulai Berdatangan

Semarang (usmnews) – Dikutip dari detikcom Pada Rabu sore, 24 Juni 2026 waktu setempat, Venezuela dilanda bencana alam mengerikan berupa gempa kembar berskala besar. Guncangan dahsyat ini meninggalkan jejak kehancuran yang masif pada infrastruktur, memakan korban jiwa hingga ratusan orang, dan melukai ribuan lainnya. Menyadari skala bencana yang masif, dunia internasional segera turun tangan untuk membantu proses pencarian dan pemulihan. Amerika Serikat, menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menegaskan komitmen AS untuk memberikan bantuan logistik berskala besar dan cepat. Departemen terkait akan ditugaskan untuk menembus wilayah-wilayah yang sulit dijangkau. AS mengesampingkan dinamika politik yang sedang berlangsung—termasuk penahanan mantan Presiden Nicolas Maduro oleh pasukan AS pada bulan Januari lalu—dan memfokuskan seluruh upaya pada krisis kemanusiaan dan evakuasi korban dari balik reruntuhan. Pemerintah Swiss bergerak cepat dengan menerjunkan tim khusus bernama Swiss Rescue Chain. Tim yang terdiri dari 80 personel penyelamat ahli, delapan anjing pelacak, serta 18 ton peralatan ini diberangkatkan pada Kamis malam. Misi utama mereka adalah mencari dan mengekskavasi korban yang masih terperangkap di bawah puing-puing bangunan.

Berdasarkan data dari Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), Venezuela mengalami fenomena gempa kembar (gempa doublet) dengan selisih waktu yang sangat sempit, yakni hanya 39 detik. Gempa pembuka (foreshock) tercatat dengan Magnitudo 7,2 pada pukul 22.04 GMT, berpusat sekitar 21 kilometer di sebelah barat kota pesisir Moron. Kurang dari semenit kemudian, gempa utama (mainshock) bermagnitudo 7,5 menghantam area yang berjarak 45 kilometer dari pusat gempa pertama. Ini merupakan guncangan seismik terbesar yang pernah melanda kawasan lepas pantai Venezuela sejak tahun 1900.
Kekuatan gempa yang luar biasa ini menyebabkan kerusakan infrastruktur yang fatal, terutama di ibu kota Caracas di mana banyak gedung runtuh. Negara bagian La Guaira di sebelah utara Caracas dilaporkan sebagai salah satu wilayah dengan kerusakan paling parah.
- Korban Terkini: Ketua Majelis Nasional, Jorge Rodriguez, mengonfirmasi bahwa jumlah korban tewas telah mencapai 188 orang, sementara 1.520 lainnya mengalami luka-luka.
- Proyeksi USGS: USGS memberikan perkiraan yang cukup suram, memprediksi bahwa total korban jiwa bisa melonjak drastis antara 10.000 hingga 100.000 orang mengingat luasnya skala kerusakan dan banyaknya bangunan yang ambruk.

Ironisnya, bencana ini terjadi tepat pada hari libur nasional yang memperingati kemenangan militer tahun 1821. Karena banyak warga yang sedang berada di dalam rumah, kepanikan massal tidak dapat dihindari. Saksi mata menceritakan jeritan ketakutan warga yang berhamburan menyelamatkan diri. Bagi warga lansia seperti Maria Romero (80 tahun), pengalaman ini terasa jauh lebih mengerikan dan traumatis dibandingkan gempa bermagnitudo 6,3 yang pernah meratakan sebagian Caracas pada tahun 1967 silam. Menghadapi krisis skala nasional ini, Pemimpin Sementara Venezuela, Delcy Rodríguez, langsung mengumumkan status keadaan darurat. Ratusan gempa susulan yang terus terjadi memaksa pemerintah mengambil langkah preventif, termasuk menutup total operasional Bandara Internasional Maiquetia di dekat Caracas akibat infrastrukturnya yang rusak parah. Menteri Dalam Negeri Diosdado Cabello juga memastikan bahwa seluruh sumber daya keamanan dan bantuan sipil telah dikerahkan ke lokasi-lokasi terdampak.







