Blog
Pomindo Pertama Hadir di Malang: Solusi Minyak Goreng Murah Pakai Nozzle

Semarang(usmnews)- Kelangkaan pasokan bahan pangan pokok di tingkat daerah sering kali menuntut lahirnya inovasi yang segar dan solutif dari berbagai pihak. Kelompok masyarakat di Kota Malang kini mendapatkan sebuah alternatif belanja baru di tengah menipisnya stok minyak goreng bersubsidi (Minyakita). Depo Pom Minyak Goreng Indonesia (Pomindo) pertama di Malang telah resmi memulai operasionalnya secara komersial pada tanggal 18 Mei 2026. Fasilitas modern ini berdiri di Jalan Bukirsari Raya Nomor 26, Kelurahan Tulusrejo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Kehadiran inovasi depo minyak goreng ini langsung menarik perhatian besar warga sekitar karena menawarkan konsep berbelanja yang sangat unik.
Cara Kerja Mesin Nozzle dan Kebebasan Nominal Pembelian
Sistem operasional tempat penjualan ini mengadopsi teknologi yang sangat mirip dengan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) milik Pertamina. Petugas lapangan akan memasukkan nominal uang pembelian yang konsumen inginkan langsung ke dalam mesin dispenser digital khusus. Setelah itu, cairan minyak goreng akan mengalir keluar secara lancar melalui ujung pipa nozzle menuju wadah penampungan. Akurasi takaran digital ini sangat terjamin sehingga konsumen tidak perlu khawatir akan mengalami kerugian kuantitas. Oleh karena itu, penerapan inovasi depo minyak goreng ini memberikan kepastian volume barang yang sangat transparan bagi para pembeli.
Maka dari itu, pihak manajemen juga membebaskan warga dari aturan batas minimal literan saat melakukan transaksi harian. Konsumen bisa membeli minyak goreng secara eceran sesuai dengan kemampuan anggaran atau isi dompet mereka masing-masing pada hari itu. Skema beli suka-suka ini melayani transaksi mulai dari nominal sangat kecil seperti Rp2.000, Rp3.000, hingga Rp5.000 saja. Selanjutnya, pihak pengelola menyarankan agar para pelanggan membawa botol atau wadah sendiri dari rumah demi mengurangi limbah plastik. Sementara itu, para pelaku usaha mikro (UMKM) menyambut gembira fleksibilitas sistem ini karena sangat membantu menjaga kestabilan modal kerja harian mereka. Alhasil, model bisnis ini berhasil meringankan beban pengeluaran dapur keluarga miskin di wilayah perkotaan secara nyata.

Kualitas Produk Premium dalam Inovasi Depo Minyak Goreng
Jenis minyak yang tersedia di depo ini memiliki standar mutu yang sangat baik dan jauh dari kesan minyak curah kotor. Pihak Pomindo hanya menjual minyak goreng curah kualitas tinggi jenis CP10 yang memiliki karakteristik fisik sangat jernih. Cairan komoditas ini tidak kental, tidak keruh, serta tidak lengket saat Anda gunakan untuk menggoreng bahan makanan di dapur. Standar kebersihan produk ini bahkan setara dengan merek-merek minyak goreng kemasan mahal yang beredar di supermarket modern. Oleh sebab itu, warga Malang bisa mendapatkan bahan pangan berkualitas tinggi dengan harga yang jauh lebih ramah kantong.
Kemudian, kebijakan penentuan harga jual di fasilitas ini akan bergerak secara fleksibel mengikuti dinamika perkembangan pasar daerah. Pada minggu awal masa pembukaan ini, pihak pengelola mematok harga minyak pada angka Rp22.000 untuk setiap satu liter penuh. Mekanisme naik-turun harga ini akan berjalan mengikuti fluktuasi nilai tukar komoditas global, persis seperti skema perubahan tarif BBM. Tambahan pula, Kepala Diskopindag Kota Malang Eko Sri Yuliadi hadir langsung untuk meresmikan operasional depo utama tersebut secara simbolis. Pemerintah daerah memberikan apresiasi yang sangat besar karena langkah swasta ini terbukti ampuh dalam menjaga stabilitas ekonomi mikro. Singkatnya, keberadaan tempat ini berfungsi sebagai katup penyelamat saat jalur distribusi minyak goreng bersubsidi sedang mengalami kemacetan pasokan.

Kapasitas Gudang Utama dan Rencana Ekspansi Masif
Pada bagian logistik, depo utama di kawasan Lowokwaru ini bertindak sebagai pusat pasokan dengan kapasitas tangki penyimpanan mencapai 9 ton. PT Parama Artha Buana (Parabu) selaku perusahaan pengelola sudah merancang target pembangunan jaringan outlet baru secara masif dan terstruktur. Mereka berencana mendirikan satu depo besar di setiap daerah pemilihan (dapil) serta satu outlet kecil di setiap kelurahan. Unit toko tingkat kelurahan nantinya akan memiliki kapasitas tampung tangki yang lebih minimalis yaitu sekitar 1.000 liter saja. Kita belajar bahwa pemerataan titik distribusi merupakan kunci utama untuk memutus mata rantai spekulasi harga kartel di pasar tradisional. Singkatnya, pihak pengelola juga membuka kesempatan kemitraan yang luas bagi koperasi, pondok pesantren, BUMDes, hingga pengusaha perorangan lokal. Akhirnya, mari kita dukung bersama perluasan jaringan distribusi ini agar kemandirian pangan di tingkat kelurahan bisa terwujud nyata.

