Nasional
Polemik dan Desakan Penutupan TPA Cipeucang di Serpong, Tangerang Selatan

Jakarta (usmnews) di kutip dari kompas.com Desakan tegas dari warga Kampung Curug Serpong, yang berada di wilayah RT 06 RW 04, agar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipeucang segera ditutup, telah membuka lembaran persoalan kompleks yang tampaknya belum akan terselesaikan dalam waktu dekat. Isu ini, yang menyangkut hajat hidup orang banyak dan tata kelola lingkungan, kini menjadi sorotan utama di Tangerang Selatan. Tuntutan penutupan TPA Cipeucang, yang berlokasi di Serpong, mencerminkan adanya akumulasi ketidakpuasan dan dampak negatif signifikan yang dirasakan langsung oleh masyarakat sekitar.
Aksi damai yang dilakukan oleh warga setempat di Kantor Unit Pelaksana Teknis (UPT) Cipeucang, Serpong, merupakan manifestasi nyata dari keputusasaan mereka terhadap kondisi lingkungan yang terus memburuk akibat keberadaan TPA tersebut. Peristiwa yang dilaporkan pada 9 Desember 2025 ini menunjukkan bahwa isu sampah telah melampaui batas masalah teknis operasional, berkembang menjadi krisis sosial dan kesehatan masyarakat. Mereka yang tinggal di sekitar lokasi pembuangan sampah akhir ini telah lama menanggung beban polusi udara, pencemaran air tanah, dan gangguan kesehatan yang dipicu oleh timbunan sampah yang menggunung dan proses pengelolaan yang mungkin dinilai tidak memadai.
### 😷 Dampak Lingkungan dan Kesehatan yang Mendorong Aksi
Fokus utama desakan warga adalah dampak lingkungan yang ditimbulkan TPA Cipeucang. Dalam konteks TPA konvensional, penumpukan sampah menghasilkan gas metana, yang berkontribusi terhadap bau menyengat yang intens, terutama saat musim penghujan atau ketika terjadi proses dekomposisi organik yang cepat. Bagi penduduk Kampung Curug Serpong, bau busuk ini bukan lagi sekadar ketidaknyamanan minor, melainkan telah menjadi polutan udara yang mereka hirup setiap hari, mengancam kualitas hidup dan saluran pernapasan, khususnya pada kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.

Selain polusi udara, masalah *leachate* atau air lindi (cairan hitam hasil pembusukan sampah) juga diduga menjadi pemicu utama pencemaran. Air lindi yang berpotensi mengandung zat-zat berbahaya dapat merembes ke tanah, mencemari sumber air tanah yang seringkali masih digunakan warga untuk kebutuhan sehari-hari. Jika TPA tidak dikelola dengan sistem *sanitary landfill* yang ketat atau tanpa lapisan kedap yang berfungsi optimal, risiko pencemaran air lindi terhadap sumur-sumur warga menjadi sangat tinggi. Keadaan inilah yang secara fundamental memicu rasa frustrasi dan tuntutan agar aktivitas pembuangan di lokasi tersebut dihentikan total.
### 🚧 Akar Persoalan dan Pencarian Solusi yang Buntu
Kebutuhan akan penutupan TPA Cipeucang menyiratkan bahwa berbagai upaya mitigasi atau perbaikan yang mungkin telah dilakukan oleh Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) melalui UPT terkait dinilai belum efektif atau belum mampu menghilangkan dampak negatif yang dirasakan warga. Persoalan ini menjadi semakin pelik karena TPA adalah fasilitas vital dalam rantai pengelolaan sampah perkotaan; penutupannya tanpa ada solusi alternatif yang siap dan memadai dapat serta-merta menimbulkan krisis sampah yang melumpuhkan kota Tangsel.
Inilah yang menjadi inti dari “persoalan panjang yang hingga kini belum menemukan jalan keluar.” Pemerintah dihadapkan pada dilema antara memenuhi tuntutan hak warga atas lingkungan yang sehat di satu sisi, dan memastikan kelangsungan layanan publik berupa pembuangan sampah di sisi lain. Mencari lokasi TPA baru, atau mengimplementasikan teknologi pengolahan sampah mutakhir seperti insinerator atau fasilitas pengolahan sampah menjadi energi (*Waste-to-Energy* / WTE), adalah proses yang membutuhkan waktu lama, biaya besar, dan sering kali juga memicu penolakan warga di lokasi yang diusulkan (fenomena *Not In My Backyard* / NIMBY).
Parafase ini menyoroti bahwa aksi damai yang diabadikan dalam foto oleh Intan Afrida Rafni dan liputan Kompas.com, dengan kontribusi dari Faieq Hidayat, bukanlah sekadar protes sesaat, melainkan puncak dari konflik kepentingan dan lingkungan yang berlarut-larut. Masyarakat Kampung Curug Serpong telah memutuskan bahwa kerugian yang mereka alami akibat keberadaan TPA Cipeucang jauh melampaui manfaatnya, sehingga satu-satunya solusi yang mereka terima adalah penutupan permanen TPA tersebut demi pemulihan kualitas lingkungan hidup mereka.






