International
Pertumbuhan Ekonomi China Melambat ke 4,3 Persen di Kuartal II

Semarang (usmnews) – Pemerintah secara resmi melaporkan bahwa pertumbuhan ekonomi China melambat tajam pada kuartal kedua tahun ini. Secara tahunan, produk domestik bruto negara tersebut hanya tumbuh sebesar 4,3 persen. Laju pertumbuhan ini menjadi yang terlemah bagi Beijing dalam jangka waktu tiga tahun terakhir. Pertumbuhan ekonomi China tercatat berada di bawah perkiraan para analis ekonomi global. Angka tersebut juga jauh lebih rendah daripada kuartal sebelumnya yang mencapai 5 persen.
Sebenarnya, sektor ekspor negara tirai bambu ini sempat melonjak sangat pesat. Peningkatan ini terjadi berkat perkembangan kecerdasan buatan dan tingginya permintaan kendaraan listrik global. Pertumbuhan ekonomi China terbantu oleh kenaikan ekspor produk teknologi tinggi sebesar 17,6 persen. Namun, konsumsi domestik dan investasi dalam negeri saat ini masih tertinggal jauh. Akibatnya, dorongan dari sektor perdagangan internasional tidak mampu mendongkrak ekonomi secara keseluruhan.
Penyebab Pertumbuhan Ekonomi China Kurang Seimbang

Sejumlah ekonom menilai bahwa struktur ekonomi di sana menjadi semakin tidak seimbang. Pemerintah dan pihak swasta terlalu fokus mendanai sektor teknologi mutakhir. Sementara itu, industri manufaktur bernilai rendah dan sektor jasa justru terabaikan. Padahal, kedua sektor tradisional tersebut paling banyak menyerap tenaga kerja lokal.
Oleh karena itu, masyarakat kini mulai mengurangi pengeluaran untuk pembelian barang besar. Krisis properti yang berkepanjangan membuat keluarga di sana lebih memilih berhemat. Ketidakpastian mengenai lapangan kerja dan tingkat upah juga memicu kekhawatiran baru. Selanjutnya, pesatnya perkembangan robotika memunculkan kecemasan akan hilangnya mata pencaharian warga.
Untuk mengatasi masalah tersebut, pemerintah berusaha menjaga stabilitas lapangan kerja domestik. Mereka ingin membangun pasar internal yang kuat demi mendorong pertumbuhan berkualitas. Di sisi lain, target pertumbuhan nasional tahun 2026 telah diturunkan menjadi 4,5 hingga 5 persen.

Meskipun demikian, Dana Moneter Internasional baru saja menaikkan proyeksi pertumbuhan tahunan mereka. Badan keuangan dunia tersebut memprediksi ekonomi Beijing akan menyentuh angka 4,6 persen. Namun, mereka juga memperkirakan perlambatan ekonomi jangka panjang akan berlanjut hingga tahun depan. Kesimpulannya, transisi menuju teknologi canggih ini membutuhkan waktu agar bisa dinikmati seluruh lapisan masyarakat.







