Nasional
Menkeu Purbaya Optimistis Penurunan Harga BBM Pertamax Tekan Inflasi

Semarang (usmnews) – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membawa kabar baik mengenai kondisi perekonomian domestik. Pihak otoritas mengungkapkan rasa optimisme yang sangat tinggi terkait masa depan sektor energi nasional. Purbaya meyakini penurunan harga BBM Pertamax akan segera terwujud dalam beberapa bulan ke depan. Tren positif ini berjalan searah dengan pergerakan harga komoditas minyak mentah dunia yang mulai melandai. Langkah pasar tersebut tentu membawa angin segar bagi tingkat stabilitas daya beli masyarakat Indonesia.
“Saya harapkan sih nanti setelah harga minyak dunia kan udah turun pelan-pelan juga kan, harga Pertamax saya yakin akan turun pelan-pelan itu sesuai dengan harga minyak dunia. Jadi itu tekanan ke inflasi akan segera berkurang,” ujar Purbaya Yudhi Sadewa saat memberikan keterangan pers di Kantor Kementerian Keuangan.
Pemerintah menilai penurunan harga BBM Pertamax secara otomatis mampu meredam laju inflasi nasional. Sebab, lonjakan harga indeks konsumen saat ini murni akibat faktor eksternal yang bersifat sementara. Fluktuasi harga komoditas pangan global serta energi memang menjadi pemicu utama kenaikan beban hidup warga. Namun, Menkeu memastikan bahwa tingkat inflasi inti dalam negeri masih berada pada level yang sangat aman. Indikator ekonomi makro tersebut membuktikan bahwa stabilitas konsumsi domestik masih terjaga dengan baik.

“Kita liat inflasi core-nya 2,76% kan masih relatif terkendali. Jadi itu karena harga yang fluktuatif aja, minyak, BBM, dan tadi harga pangan mungkin. Itu harusnya akan hilang dalam waktu beberapa bulan ke depan karena core-nya masih stabil. Jadi kenaikannya bukan karena demand yang terlalu cepat,” papar Purbaya menjelaskan kondisi pasar.
Badan Pusat Statistik sebelumnya mencatat andil sektor transportasi memicu inflasi bulanan sebesar 0,44 persen. Kebijakan penyesuaian tarif bahan bakar nonsubsidi kemarin memberikan dampak yang cukup signifikan pada masyarakat. Selain itu, momentum libur sekolah ikut mendongkrak biaya angkutan udara secara nasional dalam waktu bersamaan. Kondisi ini membuat pemerintah harus segera mengambil langkah taktis guna menjaga keseimbangan pasar komoditas.

“Komoditas yang dominan mendorong inflasi transportasi. Pertama bensin andil 0,21%, tarif angkutan udara andil 0,05%, oli mesin andil 0,01%,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono.
Melalui momentum penurunan harga BBM Pertamax, beban biaya logistik pelaku usaha tentu akan berkurang. Pemerintah terus memantau pergerakan harga minyak mentah internasional agar keputusan kebijakan dalam negeri tetap akurat. Sinergi antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia menjadi kunci utama menghadapi dinamika ekonomi global. Warga berharap prediksi optimistis ini segera terealisasi demi mewujudkan pertumbuhan ekonomi nasional yang lebih berkelanjutan.







