Education
Waspada Bahaya Zoonosis di Balik Mahalnya Kopi Luwak

Semarang (usmnews) – Kopi luwak, komoditas kebanggaan Indonesia, telah lama dikenal sebagai salah satu kopi termahal di dunia. Dengan harga yang bisa menyentuh angka ribuan poundsterling per kantong, kopi ini menjadi incaran para penikmat kopi global karena cita rasanya yang diklaim lebih halus dan tingkat keasaman yang rendah. Proses fermentasi unik di dalam saluran pencernaan musang luwak (Asian palm civet) menjadi kunci dari kualitas premium kopi ini. Hewan karnivora ini memakan buah kopi merah, mencernanya, lalu mengeluarkan bijinya bersama kotoran untuk kemudian diolah menjadi kopi yang kita kenal.

Namun, di balik prestise dan harganya yang fantastis, tersimpan potensi bahaya yang mengancam kesehatan manusia dan kesejahteraan hewan. Tingginya permintaan pasar global memaksa banyak produsen untuk mengabaikan kesejahteraan luwak. Organisasi perlindungan hewan PETA (People for the Ethical Treatment of Animals) menyoroti praktik penangkapan luwak liar—seringkali saat masih muda—untuk kemudian dikurung dalam kandang sempit yang padat dan tidak higienis. Kondisi ini bukan hanya tidak etis, melainkan juga menyimpan risiko kesehatan yang serius.
Elisa Allen, Wakil Presiden Program PETA, memperingatkan bahwa mengurung satwa liar dalam kondisi kotor dan berdesakan menciptakan lingkungan yang sangat ideal bagi perkembangbiakan dan penyebaran patogen mematikan. Situasi seperti ini berpotensi memicu penyakit zoonosis—penyakit yang menular dari hewan ke manusia—dan bahkan meningkatkan risiko pandemi di masa depan.

Kekhawatiran ini dipertegas oleh Simon Clarke, seorang ahli mikrobiologi dari University of Reading. Ia mengingatkan bahwa luwak bukanlah hewan domestik yang secara biologis berbeda dengan hewan peliharaan biasa seperti kucing. Clarke menyoroti sejarah medis luwak, di mana hewan ini pernah diidentifikasi sebagai salah satu inang perantara penyebaran virus penyebab Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) yang mematikan pada awal tahun 2000-an di China. Oleh karena itu, potensi munculnya infeksi zoonosis, virus, atau bakteri berbahaya dari praktik penangkaran luwak yang tidak higienis selalu menjadi ancaman nyata yang harus diwaspadai, terlepas dari mahalnya harga kopi yang dihasilkannya.







