Connect with us

Education

Akulturasi Nilai Spiritual dalam Wujud Jajanan Tradisional Nusantara

Published

on

Semarang (usmnews)- Masyarakat Nusantara mewarisi berbagai peninggalan budaya leluhur yang sangat kaya akan nilai-nilai spiritual. Salah satu ritual yang selalu mengundang antusiasme ribuan warga melibatkan pembagian jajanan manis peninggalan masa lalu. Pemahaman mendalam mengenai tradisi sebar apem Jawa Tengah ini selalu membuka wawasan kita tentang harmonisasi akulturasi budaya. Kue bundar yang sederhana ini ternyata menyimpan filosofi luhur tentang permohonan ampunan kepada Sang Pencipta.

Kata apem sendiri sebenarnya berasal dari serapan kosa kata bahasa Arab yakni afuwwun yang bermakna ampunan. Lidah masyarakat lokal zaman dahulu mengadaptasi pengucapan kata tersebut agar lebih mudah mereka lafalkan sehari-hari. Simbolisme makanan ini mengajarkan manusia untuk senantiasa rendah hati dan memohon perlindungan dari segala marabahaya. Rangkaian perayaan ini sukses menjadi magnet pariwisata daerah yang menggerakkan roda ekonomi warga sekitar.

Perayaan Wahyu Kliyu pada Pertengahan Bulan Sura di Karanganyar

Warga Dusun Kendal Desa Jatipuro Karanganyar melangsungkan perayaan tahunan mereka pada hari Rabu tanggal satu Juli kemarin. Ritual sakral yang bertepatan dengan hari kelima belas bulan Sura ini bermula dari kisah masa paceklik. Berabad-abad lampau, sebuah wabah penyakit yang parah pernah melanda kawasan permukiman penduduk desa tersebut. Masyarakat meyakini istilah Wahyu Kliyu berasal dari pelafalan kalimat zikir umat Islam yang berbunyi Ya Hayyu Ya Qayyum.

Rangkaian acara tradisi sebar apem Jawa Tengah ini biasanya selalu berawal dari kirab gunungan yang sangat meriah. Warga desa kemudian membagikan ribuan kue kepada kerumunan massa sebagai wujud nyata rasa syukur atas keselamatan bersama. Pembagian makanan ini meruntuhkan sekat perbedaan status sosial karena semua orang berkumpul membaur menjadi satu. Tradisi budaya khas Karanganyar ini terus lestari berkat kesadaran tinggi dari para pemuda desa setempat.

Jejak Dakwah Ki Ageng Gribig Lewat Ritual Yaqowiyyu di Klaten

Wilayah Jatinom Kabupaten Klaten juga memiliki agenda perayaan serupa yang sukses menarik kedatangan lautan manusia. Tokoh ulama penyebar agama Islam bernama Ki Ageng Gribig merintis ritual Yaqowiyyu ini pada abad keenam belas. Beliau berinisiatif membagikan oleh-oleh berupa kue kepada para santri sepulang menunaikan ibadah haji dari tanah suci. Nama Yaqowiyyu sendiri merupakan seruan doa hamba yang memohon kekuatan dan ketabahan kepada Tuhan Semesta Alam.

Acara pelemparan kue dari atas menara tinggi ini selalu berlangsung meriah setiap memasuki bulan Sapar pada penanggalan Jawa. Keberadaan tradisi sebar apem Jawa Tengah ini memadukan nilai ketauhidan agama dengan kearifan lokal warga desa. Ribuan pengunjung dari berbagai daerah rela berdesakan untuk memperebutkan jajanan yang mereka yakini membawa berkah kehidupan. Sinergi antara pemerintah daerah dan tokoh adat menjadi kunci utama pelestarian agenda budaya sarat makna ini.

Perbandingan Dua Warisan Budaya Pembawa Berkah

Meskipun memiliki inti acara yang serupa, kedua perayaan ini memiliki sejumlah perbedaan latar belakang sejarah. Tradisi Wahyu Kliyu berlangsung di Dusun Kendal Karanganyar setiap memasuki pertengahan bulan Sura. Agenda ini bertujuan untuk mengusir wabah penyakit dan merayakan berakhirnya masa paceklik yang panjang. Istilah namanya juga berasal dari adaptasi lafal zikir Ya Hayyu Ya Qayyum masyarakat setempat.

Sementara itu, perayaan Yaqowiyyu berpusat di wilayah Jatinom Klaten pada setiap memasuki bulan Sapar. Acara ini bermula dari niat baik ulama membagikan rezeki sepulang dari ibadah haji di tanah suci. Penamaan ritual ini terinspirasi dari untaian doa memohon kekuatan spiritual kepada Tuhan. Kelestarian tradisi sebar apem Jawa Tengah ini menjadi tanggung jawab kolektif seluruh elemen masyarakat pada era modern.

Kita harus bangga memiliki jalinan sejarah luhur yang terbukti mampu menyatukan tali persaudaraan antarwarga negara. Upaya merawat peninggalan leluhur ini akan selalu menjadi benteng pertahanan moral bangsa dalam menghadapi arus globalisasi. Pada akhirnya, kebersamaan dalam melestarikan kearifan lokal akan membawa bangsa ini menuju peradaban yang berbudaya.

PNFPB Install PWA using share icon

For IOS and IPAD browsers, Install PWA using add to home screen in ios safari browser or add to dock option in macos safari browser