Connect with us

International

Erupsi Gunung Fuego Guatemala Ratusan Warga Mengungsi Akibat Lava dan Abu Vulkanik

Published

on

Semarang (usmnews) – Ratusan warga yang bermukim di lereng kawasan pegunungan melarikan diri setelah Erupsi Gunung Fuego Guatemala kembali meletus hebat. Gunung api paling aktif di Amerika Tengah tersebut terus memuntahkan lava pijar serta abu vulkanik tebal ke atmosfer. Aktivitas vulkanik dahsyat ini langsung memicu kekhawatiran besar bagi seluruh warga lokal yang mendiami kawasan berisiko tersebut.

Namun, pemerintah daerah bergerak cepat dalam mengantisipasi ancaman bahaya yang dapat merenggut keselamatan jiwa penduduk. Oleh karena itu, Otoritas Penanggulangan Bencana setempat segera menetapkan status siaga merah sebagai tingkat peringatan tertinggi. Langkah darurat ini menyoroti wilayah Sacatepéquez, Chimaltenango, serta Escuintla yang menampung sekitar 1,6 juta penduduk. Sementara itu, aliran sungai lava meluncur deras melintasi lereng gunung setinggi 3.763 meter tersebut.

Selain itu, gemuruh dahsyat terus berbunyi menggelegar dari puncak gunung sepanjang hari dan malam. Bahkan, kolom abu vulkanik membumbung tinggi hingga enam kilometer ke udara. Warga lokal bernama Alejandro Garcia mengungkapkan situasi mencekam yang ia alami bersama keluarganya saat evakuasi. “Sejak pagi gunung sudah aktif. Malam harinya alarm dibunyikan dan kami harus mengungsi,” kata Garcia. Maka dari itu, banyak warga memilih melangkah pergi lebih awal demi menyelamatkan nyawa.

Dampak Erupsi Gunung Fuego Guatemala dan Evakuasi Penduduk

Selanjutnya, tim pemadam kebakaran bergerak cepat menyisir kawasan pemukiman untuk membantu warga yang membutuhkan pertolongan. Petugas berhasil memindahkan sedikitnya 500 penduduk dari Desa El Porvenir serta Las Lajitas menuju wilayah San Juan Alotenango. Di tempat aman tersebut, pengelola menampung para warga di dalam balai komunitas yang menyediakan tempat tidur darurat. Meskipun demikian, rasa cemas masih menyelimuti warga yang harus meninggalkan rumah kediaman mereka.

Seorang warga wanita bernama Lidia Ortiz turut membagikan kisah haru mengenai kondisi kehidupannya saat ini. “Kalau ada kesempatan pindah ke rumah lain, tentu lebih baik. Kami selalu hidup dalam ketakutan karena gunung ini tidak pernah memberi peringatan,” ujar Lidia Ortiz. Sebab, kepastian mengenai waktu berakhirnya letusan masih belum menemui titik terang. Di sisi lain, pemerintah daerah Escuintla juga memberikan perlindungan bagi puluhan keluarga yang membawa anak-anak.

Respons Pemerintah dan Riwayat Letusan Gunung Api

Dengan demikian, pihak berwenang terus mengimbau masyarakat agar selalu meningkatkan kewaspadaan penuh. Direktur Badan Penanggulangan Bencana Guatemala Claudine Ogaldes meminta warga di zona bahaya untuk segera menyingkir. “Di tempat-tempat penampungan, Anda akan mendapatkan perlindungan, bantuan, dan kondisi yang aman selama aktivitas vulkanik masih berlangsung,” tulisnya melalui media sosial. Oleh karena itu, kepatuhan warga terhadap panduan petugas menjadi kunci keselamatan bersama.

Meskipun aktivitas letusan mulai berkurang secara perlahan, ancaman material panas masih mengintai di lereng gunung. Bahkan, letusan kali ini terasa jauh lebih besar daripada erupsi rutin yang kerap terjadi sebelumnya. Seorang warga bernama Sonia Vasquez menegaskan peningkatan skala letusan ini. “Kami sudah terbiasa dengan aktivitas gunung ini, tetapi kali ini benar-benar jauh lebih besar,” ungkap Sonia Vasquez.

Oleh sebab itu, Kementerian Pendidikan mengambil tindakan tegas dengan menghentikan sementara kegiatan belajar tatap muka. Sementara itu, aparat kepolisian sempat menutup akses jalan menuju Kota Antigua demi menjaga keamanan masyarakat. Meskipun kawasan Guatemala berada di Ring of Fire Pasifik, tindakan cepat seluruh pihak berhasil meminimalkan risiko bencana.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Secret Link