Lifestyle

Transformasi Spiritual Melalui Green Sufisme: Menjawab Krisis Darurat Sampah

Published

on

Semarang (usmnews) – Dikutip dari detik.com, Krisis lingkungan yang saat ini melanda berbagai kota besar di Indonesia seperti Tangerang Selatan, Bandung, Bekasi, Depok, hingga Denpasar, bukan lagi sekadar persoalan teknis manajemen limbah.

Penumpukan sampah yang kini menjelma menjadi “gunung-gunung” buatan manusia mencerminkan kekalahan peradaban urban di hadapan pola konsumsinya sendiri. Artikel yang ditulis oleh Bambang Irawan, Guru Besar Ilmu Tasawuf UIN Syarif Hidayatullah, menawarkan sebuah kacamata baru dalam melihat masalah ini, yakni melalui pendekatan Green Sufisme.

Akar Masalah: Krisis Batin di Balik Tumpukan Sampah

Secara filosofis, tumpukan sampah di luar diri kita sebenarnya adalah manifestasi dari apa yang mengendap di dalam batin manusia. Darurat sampah merupakan hasil nyata dari gaya hidup yang tidak terkontrol, kerakusan (nafsu), dan pola konsumtif yang berlebihan. Dalam perspektif tasawuf, kotornya lingkungan adalah “jejak” dari kegagalan manusia dalam mengendalikan diri. Alam saat ini tengah berkomunikasi dengan caranya sendiri melalui bau busuk, banjir, dan wabah penyakit sebagai alarm atas rusaknya keseimbangan spiritual manusia.

Oleh karena itu, Green Sufisme memandang semesta sebagai “masjid besar” atau ruang suci. Jika kita menganggap seluruh bumi adalah tempat ibadah, maka tindakan mencemari lingkungan sama saja dengan mengotori tempat suci tersebut. Kebersihan dalam konteks ini bukan lagi sekadar norma sosial atau estetika kota, melainkan sebuah bentuk laku spiritual (spiritual practice) yang nyata.

Metode Transformasi: Takhallī, Taḥallī, dan Tajallī

Penerapan Green Sufisme dalam mengatasi darurat sampah dapat dilakukan melalui tiga tahapan transformasi batin yang fundamental:

  1. Takhallī (Pembersihan Diri): Langkah pertama adalah mengosongkan diri dari sifat-sifat negatif. Dalam konteks lingkungan, ini berarti memutus akar masalah sampah: budaya hedonisme dan keinginan untuk selalu tampak mewah di depan orang lain (pamer). Kita harus jujur bahwa sebagian besar sampah dihasilkan dari keinginan untuk “membeli kebahagiaan” sesaat melalui barang-barang yang sebenarnya tidak kita butuhkan.
  2. Taḥallī (Penghiasan Diri dengan Kebajikan): Setelah batin dibersihkan, ia harus diisi dengan nilai-nilai luhur seperti qana’ah (merasa cukup) dan tanggung jawab. Aksi nyata dari tahap ini adalah disiplin dalam memilah sampah, mengompos, dan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Membersihkan lingkungan dianggap sebagai bentuk zikir yang bersifat aktif, di mana setiap tindakan menyingkirkan kotoran dari jalan adalah bentuk sedekah paling tulus.
  3. Tajallī (Manifestasi Nilai Ilahi): Ketika batin dan tindakan sudah selaras, maka keindahan Tuhan akan terpancar dalam kehidupan nyata. Hasilnya adalah kota yang lebih teduh, udara yang bersih, dan sungai-sungai yang kembali jernih. Lingkungan yang tertata menjadi bukti nyata dari rahmat Tuhan yang memantul melalui perilaku manusia.

Kolaborasi Sistemik dan Tanggung Jawab Institusional

Namun, Green Sufisme tidak boleh hanya berhenti pada skala individu. Kesadaran spiritual ini harus bertransformasi menjadi etika publik dan kebijakan negara. Tempat Pembuangan Akhir (TPA) seharusnya tidak dipandang sebagai lokasi untuk “membuang masalah,” melainkan tempat untuk “menunaikan amanah.”

Dinas-dinas terkait, mulai dari kebersihan hingga pendidikan dan kesehatan, harus bersinergi secara kolaboratif. Tata kelola sampah memerlukan transparansi sebagai bentuk tazkiyah (penyucian) institusional. Tanpa adanya transparansi data dan kinerja, masalah sampah hanya akan berpindah dari satu titik ke titik lain tanpa solusi yang tuntas. Peran aktivis lingkungan juga krusial sebagai “cermin moral” yang tidak hanya mengkritik, tetapi juga mendampingi masyarakat dalam transisi menuju sistem ekonomi sirkular.

Kesimpulan: Visi Etis Masa Depan

Pada akhirnya, visi tasawuf tentang surga yang hijau, rindang, dan dipenuhi air jernih bukan sekadar janji untuk masa depan setelah kematian, melainkan sebuah visi etis yang harus diwujudkan di dunia sekarang. Darurat sampah adalah panggilan bagi kemanusiaan untuk kembali suci.

Melalui sinergi antara kesadaran individu yang menata konsumsi dari meja makan, kebijakan pemerintah yang menyediakan infrastruktur aman, serta tanggung jawab dunia usaha terhadap kemasan produk, kita dapat menghadirkan tajallī berupa bumi yang sehat. Green Sufisme adalah jalan pulang untuk memulihkan hubungan manusia dengan penciptanya melalui pemuliaan terhadap alam semesta. Dengan komitmen yang tenang namun konsisten, darurat sampah dapat diatasi demi martabat hidup yang lebih baik.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version