Education
Transformasi Lembah Datu, Dari Lahan Bekas Tambang Menjadi Surga Ekowisata dan Konservasi Bambu

Semarang (usmnews) – Pesona alam yang menenangkan langsung menyapa para wisatawan saat menginjakkan kaki di camping ground Lembah Datu, Dusun Gelogor, Desa Pemepek, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Harmoni suara aliran Sungai Sedau yang berpadu dengan hijaunya hamparan sawah menciptakan suasana asri di area perkemahan yang terletak di atas bukit ini. Untuk menikmati keindahan tersebut, pengunjung hanya perlu melakukan perjalanan kaki singkat sekitar 10 menit dari area parkir kendaraan.
Lembah Datu menawarkan pengalaman wisata yang lebih dari sekadar berkemah dan menyalakan api unggun. Pengelola setempat telah merancang berbagai aktivitas edukatif yang menyatu dengan alam, seperti soft tracking menembus rimbunnya hutan, mempelajari beragam jenis bambu, hingga praktik langsung menanam bibit bambu. Letaknya yang strategis dan berdekatan dengan Hutan Rarung sebuah kawasan konservasi dan penelitian semakin menambah nilai edukasi bagi para pengunjung.
Di balik pesonanya saat ini, kawasan Lembah Datu menyimpan sejarah panjang perjuangan masyarakat lokal. Kepala Dusun Gelogor, Rohim, mengungkapkan bahwa area yang kini menghijau dulunya adalah lokasi tambang galian C yang beroperasi secara masif sejak tahun 2010. Kehadiran alat-alat berat seperti dump truck dan ekskavator yang awalnya menjadi tontonan warga, lambat laun memicu keresahan lingkungan. Khawatir desanya akan hancur dikeruk, Rohim bersama para pemuda desa mengambil langkah cerdas: membangun destinasi wisata sebagai bentuk perlawanan damai untuk menghentikan eksploitasi tambang.

Perjalanan menghentikan aktivitas tambang tentu tidak mudah dan kerap diwarnai konflik dengan para pengusaha. Namun, langkah tersebut menemui titik terang ketika Pemerintah Desa menerapkan awig-awig atau hukum adat yang sangat tegas. Aturan ini mengancam warga yang masih nekat menjual tanahnya untuk dijadikan galian C agar angkat kaki dari desa. Sanksi sosial ini terbukti sangat ampuh menghentikan laju penambangan. Puncaknya, pada tahun 2020, Lembah Datu resmi dikembangkan sebagai destinasi wisata alam dengan konsep Desa Eko-eduwisata.
Fase selanjutnya adalah memulihkan kondisi lahan bekas tambang yang terlanjur rusak. Sejak tahun 2018, gerakan pelestarian lingkungan mulai digalakkan secara luas di Desa Pemepek. Berkolaborasi dengan Yayasan Kehati dan CIMB Niaga, warga setempat bahu-membahu menanam bambu berjenis ‘tabah’ di atas lahan tandus bekas galian. Pemilihan bambu tabah didasarkan pada keistimewaan rebungnya (tunas muda) yang sangat lezat dan mudah diolah menjadi bahan pangan masyarakat.
Lebih dari sekadar sumber makanan, bambu menyimpan sejuta manfaat ekologis yang krusial untuk pemulihan tanah yang rusak. Fransiska Oei, Direktur Compliance, Corporate Affairs & Legal CIMB Niaga, menjelaskan bahwa struktur akar rimpang bambu yang sangat lebat mampu mencengkeram tanah dengan kuat, sehingga sangat efektif mencegah tanah longsor dan erosi. Tak hanya itu, akar bambu bekerja layaknya spons alami yang menyerap dan menyimpan cadangan air, memulihkan kualitas unsur hara tanah, sekaligus menyaring kotoran sehingga air sungai menjadi lebih bersih.

Dari sisi kualitas udara, bambu merupakan “paru-paru hijau” yang sangat efisien. Tanaman ini terbukti mampu menyerap emisi karbon dioksida dengan sangat baik dan melepaskan oksigen hingga 35 persen lebih tinggi dibandingkan mayoritas tanaman lainnya. Fleksibilitas bambu juga memungkinkannya untuk dimanfaatkan menjadi bahan bangunan, furnitur, alat musik, hingga perkakas dapur.
Upaya penghijauan ini merupakan bagian dari gerakan yang lebih besar. Hingga saat ini, lebih dari 115.400 bibit bambu telah ditanam di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Bali, NTT, hingga NTB. Khusus di wilayah Nusa Tenggara Barat, inisiatif mulia ini akan terus dilanjutkan melalui penanaman tanaman produktif sekaligus mematangkan status Desa Pemepek sebagai destinasi eko-eduwisata unggulan yang berkelanjutan.






