Sports
Tragedi Piala Dunia 2026: Mundurnya Hong Myung-bo dan Tuntutan Reformasi KFA

Semarang (usmnews) – Langkah timnas Korea Selatan harus terhenti lebih awal di fase grup Piala Dunia 2026 setelah hanya mengoleksi tiga poin (kalah 0-1 dari Meksiko dan Afrika Selatan, serta menang 2-1 atas Republik Ceko). Kegagalan ini memicu buntut panjang bagi persepakbolaan Negeri Ginseng.Berikut adalah rangkuman peristiwa yang terjadi pasca-kegagalan tersebut:

Pengunduran Diri Pelatih: Pada Minggu (28/6/2026), pelatih Hong Myung-bo (57) resmi mengundurkan diri. Ia meminta maaf dan mengambil tanggung jawab penuh atas kegagalan tersebut, yang ironisnya mengulangi memori kelamnya di Piala Dunia 2014.
Protes Keras Suporter: Kedatangan timnas di Bandara Incheon pada 30 Juni disambut demo suporter yang meneriakkan “Get out, Hong Myung Bo!“. Akibat situasi panas ini, acara penyambutan dan konferensi pers dibatalkan. Namun, fans menegaskan kemarahan ini murni ditujukan untuk manajemen, bukan pemain.
Kontroversi Gaji Fantastis: Kemarahan publik semakin memuncak karena besaran gaji Hong Myung-bo yang dinilai tidak sepadan dengan prestasi. Media menaksir gajinya mencapai 2 miliar won (Rp23 miliar) hingga €2,16 juta (Rp41 miliar) per tahun. Hal ini membuat sang pelatih menjadi sasaran kritik tajam, bahkan sejumlah toko memasang larangan masuk untuknya.

Tuntutan Reformasi: Menanggapi salah satu pencapaian terburuk dalam beberapa tahun terakhir ini, anggota parlemen sekaligus legenda Olimpiade, Jin Jong-oh, mendesak adanya perombakan total dan investigasi menyeluruh terhadap Federasi Sepak Bola Korea (KFA).







