Education
Redam Stres Urban Melalui Terapi Alam Arboretum Hutan UI

Semarang (usmnews) – Universitas Indonesia (UI) resmi meluncurkan fasilitas baru pada kawasan Wales Barat, Kampus Depok. Pihak kampus membuka fasilitas ini pada tanggal dua puluh empat Juni lalu. Universitas ini merancang ruang publik hijau dengan fungsi ganda itu secara amat khusus. Tujuan utama fasilitas ini mencakup upaya penjagaan kesehatan mental sivitas akademika dan masyarakat luas. Mereka menggunakan konsep terapi alam Hutan UI sebagai metode utama dalam program ini.

Program kolaborasi antara Universitas Indonesia dan PT Sucofindo ini memadukan berbagai konsep inovatif. Mereka menggabungkan konsep kelas alam, laboratorium riset, serta ruang reflektif lintas disiplin. Selain itu, pihak pengelola juga membangun fasilitas pendukung seperti dek kayu untuk bersantai. Banyak pihak berharap kehadiran dek kayu ini mampu menjadi penawar stres. Oleh karena itu, masyarakat luas bisa memanfaatkan fasilitas terapi alam Hutan UI ini secara optimal. Sementara itu, sarana edukasi luar ruang ini sangat inklusif bagi warga perkotaan.
Manfaat Ruang Reflektif dan Hiling Alam Hijau
Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, Mahasiswa, dan Alumni UI, Hamdi Muluk, memberikan penjelasannya. Ia menyebutkan fasilitas baru ini tidak sekadar berfungsi sebagai ruang kelas bebas. Namun, tempat ini juga menjelma menjadi ruang reflektif yang sangat menenangkan pikiran. Beliau berkata, “Arboretum Hutan UI bukan hanya ruang kelas bebas, melainkan juga ruang reflektif. Fasilitas ini menjadi sarana hiling dan edukasi luar ruang yang berkelanjutan bagi masyarakat.”

Potensi Ekologi dan Pengobatan Pikiran Berbasis Lingkungan Kampus
Kawasan Kampus Depok ini memang memiliki predikat kampus paling berkelanjutan di Indonesia. Lembaga pemeringkatan bernama UI GreenMetric memberikan penghargaan bergengsi itu secara sangat resmi. Kampus ini selalu menjaga area hijau seluas sembilan puluh delapan hektar. Angka itu meliputi sekitar tiga puluh persen dari total luas wilayah lingkungan kampus. Pada setiap akhir pekan, banyak orang rutin berolahraga dan bersantai pada kawasan ini. Selanjutnya, Direktur Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan UI, Supriatna, ikut memberikan keterangan tambahan. Ia menilai kawasan hijau itu bersuhu sangat sejuk dan juga sangat nyaman. Berdasarkan kajian geospasial, kawasan ini memiliki nilai ekonomis tinggi dari berbagai aspek. Aspek-aspek ekologi ini meliputi hasil kayu, cadangan karbon, dan juga ketersediaan sumber air.
Dampak Psikologis dari Relaksasi Pikiran Ruang Publik Alam
Dari perspektif psikologis, seorang psikolog bernama Dyah Triarini Indirasari turut memberikan analisisnya. Wakil Dekan Bidang Sumber Daya Fakultas Psikologi UI ini menyoroti metode penyembuhan jiwa. Ia menyatakan fasilitas hijau ini sangat berkaitan dengan penelitian kesadaran lingkungan. Terapi berbasis lingkungan ini mampu meningkatkan suasana hati secara sangat signifikan. Selain itu, pengunjung juga bisa menurunkan tingkat kecemasan mereka melalui metode ini. Akhirnya, banyak individu berhasil menemukan makna hidup lewat kegiatan relaksasi ini. Dyah juga berharap metode relaksasi ini membantu banyak orang mengatasi kesibukan harian. Ia meyakini sivitas akademika dan masyarakat umum amat membutuhkan tempat tenang seperti ini.

Integrasi Masyarakat Perkotaan dengan Relasi Alam Asri
Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Sosial UI telah memulai program kesehatan mental secara aktif. Mereka mengadakan kegiatan seperti meresapi alam menggunakan seluruh panca indera pengunjung. Pengelola akan menjadikan fasilitas ini sebagai wadah utama kegiatan aktivitas alamiah. Tujuannya meliputi upaya memperkuat relasi baik antara manusia dan kondisi lingkungan sekitar. Selain itu, program ini turut menumbuhkan tanggung jawab bersama dalam aktivitas pelestarian ekosistem. Saraswati Putri selaku Direktur DPIS UI terus menyampaikan pandangannya secara terbuka kepada publik. Ia amat ingin mematahkan stereotipe masyarakat perkotaan mengenai minimnya ruang publik bernuansa hijau. Selama ini, banyak warga merasa tidak bisa menikmati lingkungan alami akibat jauhnya jarak. Akan tetapi, masyarakat wilayah Jabodetabek sangat mudah menjangkau lokasi area hijau UI ini. Oleh sebab itu, mereka sama sekali tidak perlu merasa jauh dari lingkungan alam liar.







