Nasional
Pangkas Biaya Produksi, Petani Jateng Mulai Beralih Mengandalkan Pompa Tenaga Surya

Semarang (usmnews) – Para petani Jawa Tengah mulai beralih menggunakan teknologi hemat energi untuk lahan mereka. Mereka memanfaatkan alat inovatif berupa pompa air tenaga surya demi memangkas ongkos produksi. Oleh karena itu, para petani bisa meningkatkan produktivitas panen mereka secara sangat luar biasa. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menginisiasi program Benteng Pangan guna mewujudkan sistem pertanian cerdas. Selain itu, pemerintah mengintegrasikan sumber energi alternatif dan konsep internet cerdas bersama alat tersebut. Saat ini, tiga wilayah kabupaten telah menerima dan memasang perangkat penyedot air mutakhir itu. Tiga wilayah tersebut meliputi Kabupaten Pekalongan, Kabupaten Brebes, dan juga Kabupaten Cilacap wilayah barat.

Gubernur Luthfi Meninjau Operasional Pompa Energi Matahari
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, melihat langsung operasional pompa air tenaga surya pada hari Senin. Beliau mengunjungi Desa Tengengwetan dalam kawasan Kecamatan Siwalan yang berada pada Kabupaten Pekalongan. Luthfi menilai operasional pompanisasi canggih ini sangat efektif menolong kegiatan harian para warga desa. Pertama, alat ini sangat menghemat anggaran karena masyarakat meninggalkan mesin diesel berbahan bakar fosil. Kedua, perangkat canggih ini sama sekali tidak mencemari lingkungan sekitar tempat tinggal para penduduk. Ketiga, mesin penyedot air itu sanggup menyala terus menerus selama dua puluh empat jam.
“Tiga titik penyedot air ini sukses mengairi lahan pertanian seluas lima puluh hektare penuh. Khusus untuk kawasan Pekalongan, mesin ini mampu mengairi sawah seluas dua puluh hektare,” jelas Luthfi.
Selanjutnya, pemerintah akan menjadikan tiga wilayah ini sebagai model percontohan bagi seluruh kepala daerah. Bahkan, pemerintah pusat sangat mungkin mengangkat inovasi cemerlang ini sebagai percontohan pada tingkat nasional.
“Pemerintah pasti mengembangkan program luar biasa ini dan segera menyosialisasikan manfaatnya kepada warga luas. Kemudian, kita segera menyiapkan segala kelengkapan infrastruktur pendukung,” ucap Luthfi dengan nada penuh semangat.
Petani Desa Merasakan Manfaat PATS untuk Pertanian
Sementara itu, perwakilan kelompok tani Desa Tengengwetan bernama Kirom turut membagikan pengalaman pribadinya langsung. Kirom menyatakan bantuan inovatif tersebut berhasil mengurangi pengeluaran petani saat membeli bahan bakar solar. Saat mengandalkan mesin penyedot berbahan diesel, petani selalu menghabiskan tiga puluh liter solar sehari. Setelah beralih mengoperasikan alat baru, kebutuhan bahan bakar mereka langsung menurun secara cukup drastis. Masyarakat kini hanya menghabiskan sekitar lima belas liter solar saat menyalakan alat penyedot air. Oleh karena itu, para warga merasa sangat lega melihat penurunan anggaran operasional harian mereka.

Efisiensi Biaya Produksi Berkat Pompa Berenergi Surya
“Kami menyalakan mesin penyedot berbahan solar hanya pada saat malam hari yang sangat gelap. Ketika siang hari tiba, kami sepenuhnya memanfaatkan alat penyedot berenergi panas matahari secara maksimal. Dengan demikian, kami menghemat pengeluaran uang dan berhasil menekan ongkos produksi pertanian harian,” ujar Kirom.
Pada lokasi berbeda, Gilang sebagai perwakilan petani Kabupaten Brebes menyampaikan pernyataan serupa mengenai program. Gilang mengonfirmasi perangkat tersebut sangat membantu para warga dalam mengatasi masalah pengairan lahan pertanian.
“Pada musim kemarau, air laut selalu masuk menggenangi saluran irigasi utama wilayah pedesaan kami. Namun, kehadiran perangkat baru ini memampukan kami menyedot air tanah langsung melalui sumur bor. Akibatnya, air tanah ini sangat tawar sehingga kami bisa menanam padi tanpa kendala,” kata Gilang.







