Lifestyle
Pergeseran Makna Keren di Mata Gen Z yang Kini Lebih Memilih Hidup Tertata

Semarang (usmnews) – Bagi sebagian besar Generasi Z, definisi mengenai apa yang dianggap “keren” atau menarik kini telah mengalami perubahan paradigma yang cukup signifikan. Label gaul tidak lagi disematkan pada mereka yang sering pulang pagi, memamerkan kebebasan tanpa batas, atau nekat mencoba berbagai tindakan berisiko tinggi demi bisa diterima dalam lingkaran pertemanan. Saat ini, standar keren justru bergeser pada bagaimana seseorang mampu mengelola hidupnya dengan lebih teratur dan bertanggung jawab. Kemampuan untuk bekerja secara produktif, menjaga kebugaran tubuh, mengelola finansial secara bijak, serta memiliki prinsip kuat agar tidak mudah terbawa arus lingkungan menjadi tolok ukur baru yang jauh lebih dihargai.
Perubahan sudut pandang ini dirasakan langsung oleh seorang perempuan muda bernama Michelle (22). Baginya, sosok anak muda yang memikat di era sekarang adalah mereka yang berhasil menciptakan keseimbangan dalam roda kehidupannya.
”Orang yang punya work-life balance, bisa olahraga, punya duit, dan keluarganya enggak broken. Itu keren,” tutur Michelle.

Dalam pandangan generasi ini, kebiasaan mengonsumsi obat-obatan terlarang atau menghabiskan malam dengan berpesta pora sudah kehilangan daya tariknya. Perempuan kelahiran tahun 2004 tersebut secara tegas menyatakan bahwa narkoba bukan lagi sesuatu yang dipandang hebat oleh generasinya. Ia menilai tren tersebut mungkin sempat dianggap keren oleh generasi milenial terdahulu, namun bagi Gen Z, hal itu sudah dianggap tidak relevan lagi. Menggunakan zat adiktif demi mencari pengakuan sosial dinilai sebagai keputusan yang tidak masuk akal dan sama sekali tidak menunjukkan keberanian.
Sudut Pandang Rasional dan Penolakan terhadap Tekanan Sosial
Sentimen serupa juga diutarakan oleh Galuh (bukan nama sebenarnya), seorang pemuda berusia 25 tahun. Dari kacamata medis dan logika, ia sangat memahami bahwa penyalahgunaan narkotika di luar kebutuhan pengobatan hanya akan mendatangkan dampak buruk yang merusak kesehatan serta memicu kecanduan yang mengikat. Menurutnya, menjadikan narkoba sebagai alat untuk terlihat maskulin atau modis adalah hal yang keliru.
Galuh bahkan berpendapat bahwa anak muda yang terjerumus ke dunia hitam tersebut demi gengsi justru memperlihatkan bahwa mereka sedang kehilangan arah hidup. Alih-alih terlihat hebat, tindakan tersebut justru membuat mereka tampak tidak memiliki prinsip dan lemah dalam mengambil keputusan pribadi.
Keteguhan prinsip Galuh bukan sekadar wacana di atas kertas. Ia menceritakan pengalamannya saat berhadapan langsung dengan situasi nyata di mana ia harus mengambil sikap. Ketika seorang kenalan menawarinya untuk mengonsumsi narkoba bersama dengan sistem patungan sebesar Rp200 ribu per orang, Galuh tanpa ragu langsung menolaknya secara keras. Baginya, uang tersebut jauh lebih bermanfaat dan menyenangkan jika dialokasikan untuk membeli makanan kesukaannya, seperti sushi, ketimbang merusak diri sendiri.

Kasih Sayang dan Keberanian Sejati untuk Keluar dari Lingkungan Beracun
Meskipun menunjukkan penolakan yang sangat masif terhadap narkotika, baik Michelle maupun Galuh tidak memandang para pengguna dengan kemarahan atau kebencian yang membabi buta. Sebaliknya, muncul rasa prihatin dan iba yang mendalam, terutama kepada anak-anak muda yang terperosok ke dalam lingkaran setan tersebut hanya karena tidak kuasa menahan tekanan kelompok sebaya atau sekadar ikut-ikutan agar tidak dikucilkan.
Berdasarkan pengamatan mereka, terdapat sebuah pola berbahaya yang sering terjadi di pergaulan anak muda:
- Dimulai dari kebiasaan berkumpul yang akrab dengan minuman beralkohol.
- Perlahan-lahan merembet pada rasa penasaran terhadap zat-zat yang lebih berbahaya seperti narkoba.
- Berujung pada rusaknya masa depan dan potensi diri yang seharusnya bisa berkembang.
Oleh karena itu, kedua pemuda ini sepakat bahwa esensi dari keberanian yang sesungguhnya di masa kini telah berubah. Menjadi berani bukan lagi tentang seberapa jauh seseorang berani menantang bahaya fisik atau hukum dengan narkoba. Keberanian sejati di era Gen Z adalah kemampuan untuk berkata tidak, keteguhan untuk mempertahankan prinsip pribadi, serta kesiapan mental untuk melangkah keluar meninggalkan lingkungan pertemanan yang sudah tidak sehat dan merusak.







