Connect with us

Nasional

Darurat! Pengendalian Kebakaran Hutan Kalimantan Diperketat Gabungkan 12 Ribu Personel

Published

on

KEBAKARAN HUTAN 1

Semarang (usmnews) – Upaya Pengendalian Kebakaran Hutan Kalimantan kini semakin ditingkatkan secara masif oleh pemerintah pusat dan daerah guna menekan lonjakan titik panas (hotspot) berkepercayaan tinggi. Langkah intensif dalam Pengendalian Kebakaran Hutan Kalimantan ini diambil menyusul banyaknya laporan masyarakat terkait munculnya kabut asap tebal serta penurunan jarak pandang yang signifikan di sejumlah daerah. Tiga wilayah yang menjadi fokus utama penanganan darurat saat ini meliputi Provinsi Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan, dengan keselamatan serta kesehatan warga sebagai prioritas tertinggi.

Berdasarkan data pemutakhiran Sistem Pemantauan Karhutla (SIPONGI) Kementerian Kehutanan dari satelit NASA-MODIS/Terra-Aqua periode 17–19 Agustus 2026, terdeteksi sebanyak 750 hotspot kumulatif di wilayah Kalimantan. Rinciannya mencakup 367 titik di Kalimantan Barat, 343 titik di Kalimantan Tengah, dan 40 titik di Kalimantan Selatan. Lonjakan angka yang dinamis ini mendorong dilakukannya mobilisasi besar-besaran terhadap seluruh potensi kekuatan operasi terpadu di lapangan.

Strategi Pengendalian Kebakaran Hutan Kalimantan Lewat 12.880 Personel

Kebakaran Hutan Parah Kepung Kalimantan, BNPB Buka Suara

Guna menanggulangi ancaman kebakaran lahan yang makin meluas, Kementerian Kehutanan mengerahkan sedikitnya 12.880 personel gabungan. Pengerahan pasukan pemadam ini tersebar di tiga provinsi prioritas utama, dengan rincian 1.410 personel bertugas di Kalimantan Barat, 10.700 personel di Kalimantan Tengah, dan 770 personel di Kalimantan Selatan. Unsur yang terlibat terdiri atas Manggala Agni, TNI, Polri, BNPB, BPBD, Masyarakat Peduli Api (MPA), pemerintah daerah, pelaku usaha, hingga relawan masyarakat.

Satuan tugas gabungan tersebut memfokuskan aksi nyata melalui serangkaian tindakan taktis, antara lain:

  • Patroli Terpadu dan Deteksi Dini: Memantau pergerakan titik panas secara realtime dan memverifikasi laporan dari masyarakat lokal.
  • Pemeriksaan Lapangan dan Pemadaman Darat: Mendatangi lokasi terbakar untuk langsung melakukan penanganan pemadaman awal.
  • Pembasahan dan Pendinginan: Menyiram area yang hangus terbakar guna memastikan tidak ada sisa bara api di bawah permukaan tanah.
  • Penyekatan Area dan Penjagaan: Membuat sekat bakar serta menyiagakan petugas di titik rawan agar api tidak kembali muncul atau meluas.

Seluruh operasional ini disokong oleh sarana pendukung lengkap, seperti pompa air jinjing, selang khusus, flexible tank, alat perlindungan diri, kendaraan operasional darat, hingga pesawat patroli fixed wing dan helikopter water bombing.

Penguatan Sarana Air dan Sumur Bor di Lokasi Kritis

Kebakaran Hutan Kalimantan Berdampak ke Malaysia, 108 Sekolah di Sarawak  Ditutup | AFU.id

Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi petugas di lapangan adalah semakin terbatasnya ketersediaan air permukaan akibat musim kering yang berkepanjangan. Mengantisipasi kendala tersebut, pemerintah memperkuat infrastruktur darat dengan membangun serta mengaktifkan kembali sumur-sumur bor di titik rawan bencana karhutla.

Kehadiran sumur bor ini sangat vital untuk memangkas jarak pengambilan sumber air, mempercepat proses pengisian tangki dan pompa pemadam, serta menjamin kesinambungan proses pendinginan lahan gambut yang rawan terbakar kembali. Koordinasi terpadu melalui posko-posko lapangan terus ditata agar alokasi personel dan perlengkapan selalu tepat sasaran.

Operasi Modifikasi Cuaca dan Dukungan Armada Udara

Selain penanganan jalur darat, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) turut dijalankan secara adaptif mengikuti dinamika atmosfer dan pertumbuhan awan potensial. Di Kalimantan Barat, OMC tahap awal yang digelar pada 13–17 Agustus 2026 melalui Posko Pontianak sukses melakukan sembilan sorti penerbangan dan menghasilkan estimasi curah hujan hingga 10,92 juta meter kubik. Peluang penyemaian awan lanjutan diproyeksikan bakal kembali dibuka pada 23–27 Agustus 2026.

Sementara itu di Kalimantan Tengah, OMC yang berlangsung dalam dua periode (27 Juli–4 Agustus dan 11–15 Agustus 2026) mencatatkan 13 sorti penerbangan dengan hasil estimasi hujan 4,8 juta meter kubik. Kendati demikian, potensi OMC lanjutan di Kalteng dalam waktu dekat tergolong minim karena awan hujan yang sangat terbatas di wilayah tersebut.

Untuk memaksimalkan keterjangkauan lokasi yang terisolasi, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni telah berkoordinasi langsung dengan Kepala BNPB guna memperkuat armada udara. Helikopter water bombing dan pesawat tambahan diterjunkan untuk menjangkau titik api terjal yang tidak bisa diakses jalur darat. Pengerahan dukungan udara ini tetap memperhatikan aspek keselamatan penerbangan, seperti jarak pandang penerbang serta tingkat kerapatan kabut asap di lokasi sasaran.

Secret Link