Education

Koreksi Kosmik: Mengapa Jupiter Ternyata Lebih Kecil dan Lebih Pipih dari Dugaan Sebelumnya

Published

on

Semarang (usmnews) – Dikutip dari detik.com, Selama puluhan tahun, buku-buku teks astronomi telah mencatat dimensi spesifik bagi Jupiter, planet terbesar di tata surya kita. Namun, sebuah terobosan ilmiah terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Nature Astronomy memaksa para ilmuwan untuk menulis ulang data tersebut. Berdasarkan analisis data radio terbaru yang sangat presisi, Jupiter ditemukan memiliki ukuran yang sedikit lebih kecil dan bentuk yang lebih pipih dibandingkan dengan apa yang diyakini para ahli selama hampir setengah abad terakhir.

Pergeseran Paradigma dalam Pengukuran Planet

Sejauh ini, pemahaman kita mengenai fisik Jupiter didasarkan pada data historis dari misi-misi legendaris seperti Voyager 1 dan 2, serta Pioneer 10 dan 11 yang melintas di dekat planet raksasa tersebut pada tahun 1970-an. Pengukuran yang dilakukan 50 tahun lalu tersebut menggunakan teknologi pancaran gelombang radio pada zamannya dan kemudian diadopsi sebagai standar emas internasional dalam dunia astronomi.

Namun, ilmu pengetahuan selalu berkembang. Wahana antariksa Juno milik NASA, yang telah mengorbit Jupiter sejak tahun 2016, telah memberikan perspektif baru. Selama dua tahun terakhir, Juno telah mengumpulkan data radio dalam jumlah yang jauh lebih besar dan dengan tingkat ketelitian yang jauh melampaui pendahulunya. Yohai Kaspi, seorang ilmuwan planet dari Weizmann Institute of Science, menegaskan bahwa ukuran fisik Jupiter sebenarnya tidak berubah, namun teknologi dan metode manusialah yang kini jauh lebih akurat dalam mengukurnya.

Metodologi Pembelokan Cahaya dan Radio

Bagaimana para ilmuwan bisa mengetahui perbedaan ukuran yang hanya beberapa kilometer dari jarak miliaran kilometer? Tim peneliti menggunakan metode yang sangat canggih dengan melacak sinyal radio yang dikirimkan oleh Juno kembali ke Bumi. Sinyal ini diamati saat melewati lapisan atmosfer Jupiter tepat sebelum sinyal tersebut terputus karena terhalang oleh badan planet (fenomena yang disebut okultasi radio).

Para peneliti memperhatikan bagaimana sinyal tersebut membengkok atau mengalami refraksi saat melewati atmosfer yang padat. Dalam studi ini, tim ilmuwan juga harus memperhitungkan efek dari angin kencang yang berhembus di Jupiter, yang secara fisik sedikit mengubah distribusi massa dan bentuk gas di planet tersebut. Dengan mengombinasikan data rotasi, tarikan gravitasi, dan pembelokan sinyal radio, mereka berhasil merumuskan angka-angka baru yang lebih presisi.

Angka-Angka Baru yang Mengubah Model Interior

Berdasarkan hasil kalkulasi terbaru, jari-jari kutub Jupiter (jarak dari pusat ke kutub) adalah 66.842 km, yang berarti 12 kilometer lebih kecil dari estimasi lama. Sementara itu, jari-jari khatulistiwa (radius ekuator) tercatat sebesar 71.488 km, atau sekitar 4 kilometer lebih kecil dari data sebelumnya.

Meskipun selisih beberapa kilometer ini terdengar sepele untuk planet berukuran raksasa, bagi para ahli fisika planet, angka ini adalah perubahan besar. Eli Galanti, rekan penulis studi tersebut, menjelaskan bahwa pengurangan beberapa kilometer ini membuat model interior atau struktur bagian dalam Jupiter menjadi jauh lebih konsisten dengan data gravitasi yang selama ini membingungkan para peneliti. Dengan bentuk yang lebih pipih ini, distribusi massa di dalam inti dan mantel gas Jupiter menjadi lebih masuk akal menurut hukum fisika.

Dampak Bagi Astronomi Masa Depan

Penyempurnaan data ini memiliki implikasi yang luas, tidak hanya bagi Jupiter, tetapi juga bagi studi eksoplanet (planet di luar tata surya). Jupiter sering digunakan sebagai model utama atau “prototipe” bagi planet gas raksasa yang ditemukan di bintang-bintang jauh. Dengan memahami struktur Jupiter secara lebih mendalam, para astronom dapat lebih akurat dalam menafsirkan data dari planet-planet asing yang berukuran serupa.

Selain itu, temuan ini menunjukkan betapa pentingnya misi jangka panjang seperti Juno. Data yang dikumpulkan selama bertahun-tahun memungkinkan ilmuwan untuk menyaring gangguan (noise) dan mendapatkan gambaran yang lebih murni tentang realitas fisik sebuah planet. Pada akhirnya, studi ini mengingatkan kita bahwa ruang angkasa masih menyimpan banyak detail yang menanti untuk dikoreksi seiring dengan kemajuan teknologi manusia.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version