Education
Kisah Haru Wisuda Unesa, Perjuangan Terakhir Linda Ayu yang Digantikan Sang Ibu dan Oase Beasiswa untuk Sang Adik

Semarang(usmnews) – Menyaksikan buah hati menyelesaikan pendidikan tinggi dan merayakan kelulusannya merupakan impian terbesar sekaligus kebanggaan yang tak ternilai bagi setiap orang tua. Namun, takdir yang digariskan untuk Kartiwi, seorang ibu tegar asal Kandangan, Kediri, Jawa Timur, justru berujung pada kegetiran yang mendalam. Alih-alih melihat putri tercintanya, Linda Ayu Tivani, melangkah dengan bangga mengenakan jubah toga di atas panggung wisuda, Kartiwi harus menguatkan hatinya untuk melangkah sendiri.
Ia hadir bukan sebagai penonton kesuksesan anaknya, melainkan sebagai sosok yang menggantikan posisi almarhumah putrinya yang telah berpulang ke rahmatullah sebelum sempat merayakan momen sakral tersebut bersama rekan-rekan seperjuangannya.
Dedikasi Akademik di Tengah Rasa Sakit

Sebuah ijazah dan lembaran dokumen kelulusan hari itu menjadi bukti otentik sekaligus saksi bisu dari sebuah perjuangan yang luar biasa berat. Mendiang Linda telah mengerahkan seluruh kemampuan terbaiknya untuk menyelesaikan segala tuntutan akademik dan tugas akhir demi meraih gelar sarjana.
Hal yang membuat hati semakin teriris adalah kenyataan bahwa perjuangan menyelesaikan kuliah tersebut dilakukan Linda di saat kondisi fisiknya terus melemah. Dalam beberapa bulan terakhir masa hidupnya, mahasiswi Universitas Negeri Surabaya (Unesa) ini harus bertaruh nyawa dan berjuang keras melawan penyakit kronis yang menggerogoti tubuhnya hingga akhir hayat.
Belasungkawa Rektor dan Hadiah Beasiswa
Suasana khidmat yang menyelimuti gedung wisuda seketika berubah menjadi penuh keharuan dan air mata ketika Rektor Unesa, Prof. Dr. Nurhasan, M.Kes. (yang akrab dipanggil Cak Hasan), naik ke podium untuk memberikan sambutan. Mewakili seluruh jajaran civitas akademika Unesa, Cak Hasan menyampaikan rasa kehilangan yang teramat dalam atas kepergian Linda. Pihak kampus menegaskan bahwa nama Linda akan selalu dicatat sebagai bagian dari keluarga besar Unesa.
“Kami menyampaikan duka cita yang mendalam atas berpulangnya salah satu mahasiswi terbaik kita. Hari ini keluarganya hadir mewakili untuk menerima bukti kelulusan yang menjadi hasil perjuangan almarhumah selama menempuh pendidikan di Unesa,” ungkap Cak Hasan dengan penuh empati, Senin (29/6/2026).
Sebagai bentuk apresiasi nyata terhadap dedikasi mendiang Linda dan bentuk kepedulian sosial kampus, Guru Besar FIKK Unesa tersebut mengumumkan sebuah kebijakan yang sangat menyentuh hati. Unesa secara resmi memberikan beasiswa penuh kepada adik kandung Linda untuk melanjutkan studi di Unesa setelah lulus dari sekolah menengah nanti. Langkah ini diharapkan mampu menjaga api semangat dan meneruskan cita-cita mulia yang belum sempat diwujudkan oleh sang kakak.

Oase di Tengah Kedukaan dan Kenangan Terakhir
Keputusan tak terduga dari pihak rektorat tersebut disambut dengan rasa syukur dan air mata yang tak terbendung oleh Kartiwi. Bagi mereka yang hidup bersahaja di wilayah pedesaan, mendapatkan akses ke bangku kuliah dinilai sebagai sebuah kemewahan yang sangat mahal dan harus ditebus dengan cucuran keringat saban hari. Pemberian beasiswa bagi anak bungsunya dipandang sebagai mukjizat serta oase penyejuk di tengah badai duka yang merundung keluarga mereka. Kartiwi menyampaikan apresiasi tertingginya karena beasiswa ini menjadi simbol nyata bahwa perjuangan putri sulungnya tidak berakhir sia-sia.
Sembari menyeka air matanya, Kartiwi mengembalikan ingatannya pada detik-detik terakhir kebersamaannya dengan Linda. Semuanya terjadi dalam tempo yang sangat cepat dan tidak terduga. Pada awalnya, Linda hanya mengalami gejala medis berupa batuk berkepanjangan yang dianggap sebagai penyakit biasa karena tidak kunjung mereda. Namun, kekhawatiran keluarga berubah menjadi kenyataan pahit setelah melakukan pemeriksaan medis mendalam di rumah sakit.
- Hasil Rontgen: Tim dokter menemukan bahwa separuh paru-paru Linda sudah memutih akibat adanya penumpukan cairan yang cukup parah.
- Tindakan Medis: Prosedur tindakan medis harus segera diambil sore itu juga untuk mengeluarkan cairan tersebut.
- Rawat Inap: Di hari yang sama saat hasil rontgen keluar, Linda langsung diwajibkan menjalani rawat inap (opname) hingga akhirnya mengembuskan napas terakhirnya.
Warisan Semangat yang Terus Hidup
Kini, selembar ijazah resmi milik Linda telah berpindah ke dekapan hangat sang ibu. Meskipun raga mahasiswi tangguh tersebut telah tiada dan tidak lagi bisa menginjakkan kaki di dunia, namun visi besar, dedikasi, serta mimpi indahnya untuk mengangkat derajat dan mengubah roda nasib keluarga tidak pernah ikut terkubur. Semangat juang itu kini telah resmi diestafetkan kepada sang adik, tumbuh kembali menjadi pucuk harapan baru yang siap mekar di bawah bimbingan dan naungan akademis Universitas Negeri Surabaya.






