Nasional
Kementerian ESDM Mengungkapkan Biaya Produksi Hidrogen Masih Sangat Mahal

Semarang (usmnews) – Pemerintah terus memetakan tantangan besar dalam transisi menuju penggunaan energi bersih nasional. Kementerian ESDM mengungkapkan bahwa biaya produksi bahan bakar hidrogen di tanah air saat ini masih relatif tinggi.
Tinggi nominal produksi ini menjadi kendala utama bagi pengembangan ekosistem energi hijau ramah lingkungan. Oleh karena itu, Kementerian ESDM mengungkapkan bahwa harga hidrogen nasional bahkan masih berada di atas nilai keekonomian biodiesel B50.
Pemerintah terus memikul tanggung jawab besar untuk mencari terobosan teknologi baru yang jauh lebih hemat. Dengan demikian, Kementerian ESDM mengungkapkan komitmennya untuk terus mengkaji opsi teknologi efisien demi menekan biaya produksi hidrogen.
Perbandingan Nilai Keekonomian Hidrogen dan Biodiesel B50 Menurut Bahlil

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia membeberkan secara langsung perbandingan harga sumber energi baru ini dengan bahan bakar berbasis nabati. Di samping itu, biaya produksi biodiesel B50 non-subsidi untuk sektor industri saat ini berada pada kisaran Rp18.600 per liter.
Bahlil menjelaskan bahwa energi hidrogen belum mampu menekan biaya operasional di bawah angka keekonomian B50 tersebut. “Problemnya adalah hidrogen ini memang biayanya masih mahal dibandingkan dengan produk energi lain,” ujar Bahlil dalam forum energi di Jakarta.
Selanjutnya, kementerian berupaya keras memformulasikan regulasi yang mampu mendorong efisiensi pemrosesan bahan bakar bersih ini. “Berapa biaya selisih antara B50 non-PSO, non-PSO itu biaya industri itu kan kurang lebih sekitar Rp 18.600 (per liter). Kalau diumpamakan dengan hidrogen ini berapa energinya ternyata masih di atas daripada harga B50. Hidrogen masih agak lebih mahal,” paparnya.
Pengaruh Dinamika Geopolitik terhadap Kompetisi Tarif Energi Bersih
Tingginya harga hidrogen saat ini merupakan konsekuensi logis dari adopsi teknologi yang masih berada pada tahap awal pengembangan. Maka dari itu, riset mendalam terus berjalan guna menciptakan inovasi alat pemroses yang lebih terjangkau bagi para pelaku usaha.
Pemerintah sangat yakin bahwa gejolak politik dunia akan mengubah konstelasi harga komoditas minyak mentah internasional secara drastis. Alhasil, ketidakpastian pasokan fosil akan mendorong hidrogen menjadi alternatif energi pilihan yang sangat rasional pada masa mendatang.
“Tetapi keyakinan saya dengan perang terus terjadi dengan geopolitik yang tidak menentu dan tidak lagi gampang untuk kita mendapatkan minyak di blok-blok yang baru maka tidak akan lama lagi harga hidrogen akan jauh lebih kompetitif dengan sumber-sumber BBM minyak lainnya,” tegas Bahlil.
Tantangan Inovasi Teknologi untuk Mendukung Transisi Energi Hijau
Pemerintah bersama tim peneliti terus berkolaborasi untuk menyempurnakan infrastruktur pendukung pengolahan gas hidrogen di dalam negeri. Kemudian, adopsi teknologi modern secara masif mampu memangkas biaya investasi awal para investor sektor energi baru terbarukan.
Sinergi lintas sektor menjadi kunci utama untuk mempercepat terciptanya ekosistem bahan bakar bersih yang kompetitif di pasar. Akhirnya, keberhasilan langkah inovasi ini akan mengantarkan Indonesia menuju kemandirian energi nasional secara berkelanjutan.







