Nasional
Parah! Kelangkaan BBM di Makassar Lumpuhkan Aktivitas Warga

Semarang (usmnews) – Kelangkaan BBM di Makassar memicu krisis energi tingkat daerah yang melumpuhkan berbagai sektor kehidupan warga di Kota Daeng dan sekitarnya. Fenomena musibah Kelangkaan BBM di Makassar ini terpantau terjadi di hampir seluruh Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) selama seminggu terakhir. Antrean panjang kendaraan roda dua, roda empat, hingga armada angkutan berat mengular hingga ke bahu jalan raya utama, sehingga mengganggu kelancaran lalu lintas kota serta menghambat rutinitas harian masyarakat.
Table of Contents
Dampak buruk dari krisis bahan bakar ini ternyata sangat luas. Tidak hanya menghambat laju roda perekonomian dan mobilitas para pekerja, kelangkaan ini bahkan telah memaksa sejumlah instansi pendidikan menghentikan sementara proses belajar mengajar tatap muka. Para siswa sekolah di Makassar terpaksa dialihkan untuk menjalankan aktivitas Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau sistem pembelajaran secara daring dari rumah masing-masing karena minimnya sarana transportasi yang beroperasi.
Pandangan Akademisi dan Tanggapan Resmi Kementerian ESDM

Dosen sekaligus praktisi infrastruktur dan transportasi dari Sekolah Pascasarjana Universitas Hasanuddin (Unhas), Lucky Caroles, memberikan analisis kritis terkait fenomena antrean panjang tersebut. Menurut penilaian Lucky, mengularnya kendaraan di berbagai SPBU mengindikasikan secara jelas adanya penurunan ketersediaan pasokan BBM secara riil di tingkat tapak. Kondisi ini terasa semakin berat karena ketergantungan masyarakat setempat terhadap penggunaan kendaraan pribadi sangat tinggi akibat belum optimalnya integrasi jaringan transportasi umum di Kota Makassar.
Di sisi lain, Pemerintah Pusat melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memberikan sanggahan bahwa krisis antrean panjang tersebut disebabkan oleh ketersediaan stok yang menipis. Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, menegaskan bahwa ketersediaan pasokan BBM di Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) pengumpan Makassar sebenarnya berada pada tingkat yang cukup dan proses pendistribusian utama berjalan secara normal.
Namun demikian, Dwi Anggia mengakui adanya tekanan distribusi pada tingkat pengecer atau SPBU yang dipicu oleh lonjakan konsumsi masif jenis Pertalite. Hal ini disebabkan oleh berpindahnya konsumen BBM non-subsidi ke BBM bersubsidi pasca-kenaikan disparitas harga. Situasi tersebut diperparah oleh aksi borong (panic buying) serta dugaan adanya praktik penimbunan oleh oknum tak bertanggung jawab.
“Kondisinya juga bikin masyarakat panik, panic buying, takut nggak kebagian, jadi antre ke mana-mana,” terang Dwi Anggia menjelaskan pemicu utama kepadatan di SPBU.
Sementara itu, pihak pengelola distribusi daerah, Area Manager Communication, Relation dan CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Lilik Hardiyanto, membeberkan bahwa memang tercatat adanya peningkatan lonjakan kebutuhan BBM masyarakat yang cukup signifikan sebesar 10 hingga 15 persen selama kurun waktu periode Juni hingga Agustus 2026.
Keluhan Pahit Warga dan Tingginya Harga BBM Eceran

Dampak dari fenomena Kelangkaan BBM di Makassar dirasakan langsung secara memilukan oleh para warga kelas pekerja. Endang (38), seorang pegawai kantoran di Makassar, menceritakan pengalamannya saat terpaksa berdiri dan mengantre di bawah teriknya sengatan matahari di SPBU Jalan Perintis Kemerdekaan pada Sabtu (12/9/2026) siang.
“Saya antre sudah 1 jam 30 menit. Aktivitas terhambat karena tidak ada bensin. Mau ke kantor tidak bisa, mau jalan-jalan ke pasar juga tidak bisa,” keluh Endang dengan raut wajah kecewa.
Endang menjelaskan bahwa dirinya tidak mungkin mengantre pada pagi hari karena wajib sudah berada di lokasi kerja pada pukul 07.30 WITA. Karena terdesak kebutuhan mobilitas harian, ia beberapa kali terpaksa membeli BBM eceran di kios-kios Pertamini. Namun, harga yang dibanderol oleh para pedagang eceran melambung sangat drastis dan tak masuk akal.
“Dikasih naik [harganya], satu botol Aqua besar harganya Rp35.000, yang paling murah Rp30.000. Kami pegawai kan uang makannya cuma Rp15.000,” ungkapnya meratapi pengeluaran harian yang membengkak.
Keluhan senada disampaikan oleh Amiruddin (62), seorang pekerja serabutan di Makassar. Ia mengaku roda perekonomian keluarganya mendadak terhenti karena kesulitan mendapatkan bensin untuk sepeda motor yang menjadi sarana utamanya mencari nafkah.
“Serba sulit. Bagaimana kita mau mencari nafkah kalau BBM ini langka, sedangkan yang mau kita pakai kendaraan, butuh bensin. Kita kan juga mengantar anak sekolah, mengantar orang rumah ke pasar juga. Dampaknya itu karena tidak ada bensin, bagaimana lagi?” ujar Amiruddin.
Amiruddin menceritakan bahwa dirinya pernah menghabiskan waktu mengantre selama satu jam di SPBU Daya, namun nasib apes menghampiri ketika pasokan BBM di SPBU tersebut dinyatakan habis tepat sebelum tiba gilirannya. Ia pun harus mencari SPBU lain dan kembali mengantre selama satu jam lebih. Bahkan pedagang eceran Pertamini di sekitar pemukimannya juga kehabisan stok, atau kalaupun ada, harganya sudah dinaikkan mencapai Rp15.000 hingga Rp20.000 per liter.
Gelombang Protes Mahasiswa dan Desakan Solusi
Kondisi kelangkaan yang berlarut-larut ini akhirnya memantik gelombang protes keras dari berbagai elemen masyarakat dan mahasiswa di Makassar. Pada Jumat (11/9/2026), puluhan massa yang tergabung dalam Forum Mahasiswa Pinggiran menggelar aksi demonstrasi di depan Kantor PT Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi di Jalan Garuda, Makassar.
Dalam aksi unjuk rasa tersebut, para mahasiswa menyuarakan tuntutan agar Pertamina dan pemerintah segera mengusut tuntas pemicu utama kelangkaan BBM bersubsidi serta kelangkaan tabung gas LPG 3 kilogram yang turut melanda warga. Masyarakat berharap pemerintah daerah dan instansi penegak hukum segera mengambil tindakan tegas di lapangan untuk menertibkan distribusi serta memberantas oknum spekulan agar ketersediaan BBM dapat kembali normal seperti sedia kala.







