Connect with us

Education

Hindari Kesalahan Orang Tua Saat Anak Menangis Agar Emosi Stabil

Published

on

Semarang (usmnews) – Tangisan anak sering memancing rasa panik dan khawatir para ayah atau ibu setiap hari. Banyak orang tua merespons tangisan itu secara spontan demi menghentikannya dengan sangat segera. Tindakan instan ini justru sering memunculkan kesalahan orang tua saat anak menangis. Oleh karena itu, ayah dan ibu harus mengevaluasi cara mereka merespons tangisan buah hati.

‎​Anak menangis bukan sekadar meluapkan emosi belaka tanpa memiliki arti yang sangat penting. Namun, tangisan berfungsi sebagai sarana komunikasi saat mereka belum mampu merangkai kata demi kata. Kita masih sangat sering melihat kesalahan orang tua saat anak menangis berulang kali. Anak akhirnya kesulitan mengenali dan mengelola emosi mereka secara mandiri pada kemudian hari. Dengan demikian, orang dewasa perlu memahami perasaan anak secara penuh sebelum bertindak secara gegabah.

‎​Ragam Kesalahan Saat Anak Menangis yang Sering Terjadi

‎​Banyak ibu atau ayah langsung menyuruh buah hati mereka untuk segera berhenti menangis. Mereka sering mengucapkan kalimat penenang yang justru mengabaikan perasaan sang anak secara nyata. Sebagai contoh, pakar Your Parenting Mojo menyatakan, “Menyuruh anak diam membuat mereka menekan emosi.” Anak sebenarnya sedang berusaha menyampaikan rasa kecewa, sedih, takut, maupun rasa frustrasi sangat mendalam. Orang dewasa perlu mengakui perasaan anak secara langsung melalui kalimat yang penuh simpati.

‎​Mengalihkan Perhatian Bukan Solusi Kekeliruan Orang Tua Kala Anak Menangis

‎​Selain itu, banyak orang tua langsung menawarkan camilan atau mainan agar tangisan segera berhenti. Cara instan ini memang mampu menghentikan suara tangisan dalam waktu yang sangat singkat. Penyelesaian masalah secara instan ini sama sekali tidak menuntaskan pergolakan emosi sang anak. Anak justru memerlukan kesempatan untuk merasakan emosi ini secara utuh sebelum menenangkan pikiran. Sikap ayah dan ibu mengalihkan perhatian akan membuat anak terus mencari pelampiasan eksternal.

‎​Meremehkan Penyebab Tangisan Sebagai Bentuk Kesalahan Mengasuh Anak

‎​Bagi orang dewasa, mainan rusak mungkin tampak sebagai sebuah masalah yang sangat kecil. Anak sering memandang peristiwa ini sebagai sebuah bencana yang amat sangat besar maknanya. Hal ini muncul karena kemampuan anak mengelola emosi mereka masih terus berkembang pesat. Oleh sebab itu, orang dewasa sama sekali tidak pantas meremehkan pemicu tangisan anak. Ayah dan ibu harus mencoba memahami sudut pandang anak demi merespons secara bijak.

‎​Mengendalikan Emosi Diri Demi Menghindari Kesalahan Saat Merespons Anak Menangis

‎​Tangisan keras anak sering memicu rasa stres, malu, atau frustrasi pada orang tua. Meskipun demikian, membentak atau memarahi anak justru akan memperburuk situasi dan keadaan sekitar. Orang tua perlu mengambil jeda sejenak untuk mengatur napas mereka secara sangat perlahan. Jangan pernah membandingkan kemampuan mengelola emosi anak dengan teman atau saudara kandung mereka. Perbandingan semacam ini hanya membuat anak merasa bahwa orang tua menolak semua perasaannya. Pada akhirnya, orang tua perlu menerima tangisan sebagai proses normal perkembangan emosi anak. Anak pasti akan belajar mengenali, menerima, dan mengelola emosi mereka secara sangat sehat.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *