Nasional
Harga Pertamax Naik Imbas Perang AS-Iran, Cek Prediksi Ekonom

Semarang (usmnews) – Dilansir dari tribunjateng.com konflik bersenjata antara Iran dan Amerika Serikat berpotensi memukul ekonomi nasional. Khususnya, ketegangan geopolitik ini mengancam stabilitas harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia. Akibatnya, wacana harga Pertamax naik mulai menghantui masyarakat luas.
[Baca Juga: Geger! Lubang Misterius Tiba-tiba Muncul di Ciawigebang, Pengendara Dilarang Melintas]

Menanggapi situasi ini, Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, memberikan prediksinya. Menurutnya, serangan militer Israel ke wilayah Iran pasti mendongkrak harga minyak dunia. Pasalnya, negara Timur Tengah itu masuk daftar 10 besar penghasil minyak global. Selain itu, Iran juga menguasai jalur perdagangan minyak strategis di Selat Hormuz.
Lebih lanjut, Fahmy memproyeksikan skenario terburuk jika Iran memblokir perairan tersebut. Nantinya, harga minyak mentah bisa melonjak tajam menyentuh 70 hingga 80 dolar AS per barel. Bahkan, angka ini melesat jauh dari posisi saat ini di kisaran 67 dolar AS. Faktanya, lonjakan serupa pernah melanda pasar global saat eskalasi peperangan tahun lalu.
Bukan hanya itu, krisis energi ini bisa semakin parah jika negara lain ikut campur. Misalnya, keterlibatan Rusia dan China bisa mengerek harga minyak menembus 100 dolar AS. Tentu saja, kondisi global ini akan berdampak langsung pada konsumen Indonesia. Sebab, pemerintah rutin mengimpor 1,2 juta barel BBM setiap harinya.

Oleh karena itu, pasar akan memaksa penyesuaian tarif BBM non-subsidi dalam waktu dekat. Jelas, harga Pertamax naik karena tarifnya murni mengikuti fluktuasi pasar energi global. Sementara, pemerintah masih menahan harga Pertalite dan Solar menggunakan sokongan dana APBN. Meskipun demikian, Fahmy mengingatkan publik agar tetap mewaspadai segala kemungkinan. Pada akhirnya, tren harga Pertamax naik bisa saja merembet ke BBM subsidi jika beban negara terlalu berat.







