Nasional
Duka Mendalam di Dunia Konservasi, Selamat Jalan Kapten Indro, Gajah Penjaga Kedamaian Tesso Nilo

Semarang (usmnews) – Kabar duka menyelimuti dunia konservasi satwa liar Indonesia, khususnya di Provinsi Riau. Salah satu satwa ikonik dan paling berjasa di kawasan konservasi, seekor gajah Sumatera jantan dewasa bernama Indro, dilaporkan telah mati. Gajah yang kerap dijuluki sebagai “Kapten Indro” ini mengembuskan napas terakhirnya pada Senin dini hari, 29 Juni 2026, sekitar pukul 03.45 WIB.
Peristiwa menyedihkan tersebut terjadi di Camp Elephant Flying Squad yang berlokasi di bawah pengawasan Seksi Pengelolaan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) Wilayah I, tepatnya di Desa Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan, Riau. Gajah tangguh ini menutup usianya yang telah menginjak 45 tahun.Kepergian Kapten Indro memicu gelombang duka yang mendalam di kalangan pemerhati lingkungan dan pencinta satwa liar.

Salah satu tokoh yang menyampaikan rasa kehilangan yang sangat besar adalah Kapolda Riau, Irjen Pol Herry Heryawan. Perwira tinggi kepolisian yang selama ini dikenal menaruh perhatian serta kepedulian yang sangat tinggi terhadap kelestarian gajah Sumatera tersebut mengungkapkan rasa belasungkawanya melalui sebuah unggahan di media sosial Instagram pada Selasa, 30 Juni 2026.
Irjen Pol Herry Heryawan menegaskan bahwa kontribusi Kapten Indro selama berpuluh-puluh tahun hidup di bumi Lancang Kuning tidak dapat dinilai dengan materi. Sebagai bagian dari unit khusus Elephant Flying Squad, Kapten Indro memegang peran krusial yang sangat vital. Ia bertugas sebagai garda terdepan dalam meredam serta memitigasi konflik yang kerap terjadi antara kawanan gajah liar dengan masyarakat di sekitar batas hutan.
Pengabdian panjang gajah jantan ini dinilai sebagai dedikasi yang luar biasa dan tiada taranya dalam menjaga keharmonisan ekosistem serta keselamatan manusia maupun sesama satwa.Berdasarkan laporan medis, penyebab kematian gajah berusia 45 tahun ini dikarenakan adanya komplikasi kesehatan yang cukup serius. Penurunan kondisi fisik Kapten Indro dipicu oleh fase musth yang dilewatinya.

Sebagai informasi, fase musth merupakan periode alami di mana gajah jantan mengalami lonjakan hormon yang sangat tinggi sehingga memicu perilaku yang sangat agresif. Setelah melewati fase yang menguras banyak energi tersebut, nafsu makan Kapten Indro menurun drastis, hingga akhirnya memicu penyakit komplikasi yang merenggut nyawanya.Meskipun Kapten Indro telah tiada, Kapolda Riau memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang telah berjuang maksimal merawat gajah tersebut di masa-masa kritisnya.
Penghargaan ini ia tujukan kepada para mahout (pawang gajah), tim dokter hewan dan medis, jajaran Balai Taman Nasional Tesso Nilo, serta Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau.Bagi jajaran kepolisian, kematian Kapten Indro menjadi alarm pengingat bagi seluruh elemen masyarakat. Jenderal bintang dua tersebut menyerukan bahwa tugas merawat lingkungan, menjaga kelangsungan hidup satwa langka, dan mempertahankan keutuhan ekosistem hutan bukanlah beban satu instansi saja, melainkan tanggung jawab bersama.
Melalui semangat ini pula, program Green Policing yang dicanangkan oleh Polda Riau berkomitmen penuh untuk terus memperkuat sinergi dengan berbagai pihak guna menciptakan keadilan ekologis demi kelestarian alam dan keseimbangan hidup seluruh makhluk di Provinsi Riau. Sebagai penutup, Irjen Pol Herry mendoakan agar jejak langkah dan pengabdian panjang Kapten Indro senantiasa abadi menjadi simbol perjuangan konservasi di Indonesia.







