Connect with us

Blog

DPR Kritik Usul Makan Gratis bagi Pasien TBC

Published

on

Wacana perluasan target sasaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini tengah memicu perdebatan hangat di lingkungan parlemen. Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Charles Honoris, secara terbuka melayangkan kritik keras terhadap usulan yang menginginkan agar para penderita penyakit tuberkulosis (TBC) dimasukkan sebagai salah satu kelompok penerima manfaat dari program nasional tersebut. Menurut Charles, gagasan yang pertama kali dilemparkan oleh Kementerian Kesehatan ini dinilai tidak realistis dan sangat sulit untuk diimplementasikan di lapangan.

Kendala Teknis dan Risiko Penularan Menurut DPR

Charles Honoris membeberkan sejumlah alasan mendasar mengapa dirinya menganggap usulan tersebut kurang masuk akal. Dari kacamata logistik dan teknis, ia meragukan keberadaan infrastruktur pendukung program di sekitar pemukiman warga yang mengidap TBC. Belum tentu di dekat lokasi tempat tinggal para pasien TBC sudah tersedia dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang siap memasok makanan setiap hari.

“TBC adalah penyakit yang sangat menular, sehingga ompreng yang dipakai itu apakah nanti dikembalikan ke SPPG dan digunakan kembali atau nanti malah bisa menularkan kepada penerima manfaat lainnya yang bukan penderita TBC. Jadi ini wacana yang menurut saya tidak masuk akal,” tegas Charles di Kompleks Parlemen, Jakarta.

Selain kendala operasional, Charles juga menyoroti aspek keselamatan kerja dan higienitas medis yang fatal. Mengingat TBC merupakan jenis penyakit infeksi saluran pernapasan yang sangat mudah menular, penggunaan wadah makanan atau ompreng secara berulang dalam program MBG dikhawatirkan justru bisa menjadi vektor atau sarana penularan baru. Ia mempertanyakan kelayakan sistem sterilisasi wadah makanan tersebut ketika dikembalikan ke dapur pusat setelah digunakan oleh pasien.

Sebagai solusi alternatif yang lebih masuk akal, Charles menyarankan pemerintah untuk memaksimalkan peran fasilitas kesehatan tingkat pertama yang sudah ada. Indonesia telah memiliki jaringan Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) yang tersebar luas di tingkat kecamatan hingga kelurahan. Lembaga medis ini dianggap jauh lebih kompeten dan siap untuk menyalurkan paket obat-obatan sekaligus program intervensi pemenuhan gizi yang terukur bagi penderita TBC, tanpa harus mencampuradukkannya dengan ekosistem program MBG.

Argumen Menkes: Intervensi Nutrisi Demi Percepat Kesembuhan

Di sisi lain, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memiliki landasan medis yang kuat saat memunculkan gagasan ini. Ia berargumen bahwa aspek pemenuhan gizi yang optimal memegang peranan krusial dalam mendongkrak proses pemulihan pasien TBC. Pasien yang harus menjalani pengobatan jangka panjang selama 6 hingga 12 bulan umumnya mengalami penurunan daya tahan tubuh yang signifikan, sehingga asupan makanan kaya nutrisi sangat dibutuhkan untuk memperkuat kondisi fisik mereka dari serangan bakteri.

Budi menjelaskan bahwa kebijakan pemenuhan gizi bagi penderita TBC sebenarnya sudah sukses diimplementasikan di negara-negara dengan beban kasus tinggi lainnya seperti India dan China berdasarkan rujukan berbagai jurnal ilmiah internasional. Lebih lanjut, ia menekankan urgensi penanganan TBC mengingat angka mortalitas penyakit ini di Indonesia masih sangat mengerikan, dengan catatan sekitar 126 ribu korban jiwa meninggal dunia setiap tahunnya.

Menkes mengaku telah mendiskusikan peluang kolaborasi dan pemfokusan ulang target penerima program MBG ini secara langsung dengan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik S Deyang. Bagi Kementerian Kesehatan, program makan gratis bentukan pemerintah ini seyogianya dapat dimanfaatkan sebagai instrumen strategis intervensi lintas sektor untuk membantu mengentaskan krisis kesehatan masyarakat, khususnya dalam menekan angka kematian akibat TBC yang terus mengancam produktivitas masyarakat tanah air.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *