Nasional

BPJS PBI Nonaktif, Pasien Gagal Ginjal Stop Cuci Darah

Published

on

Semarang (usmnews) – Dikutip dari cnbcindonesia.com komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI) melaporkan situasi kritis. Situasi ini menimpa puluhan pasien gagal ginjal di Indonesia. Mereka terancam kehilangan nyawa akibat status BPJS Penerima Bantuan Iuran (PBI) mendadak nonaktif. Parahnya, hal ini terjadi tanpa pemberitahuan sebelumnya. Ketua Umum KPCDI, Tony Richard Samosir, menegaskan masalah ini melanggar hak hidup pasien. Ini bukan sekadar kendala administrasi biasa.

Tony menjelaskan bahwa rumah sakit sering menolak pasien di loket pendaftaran. Penolakan terjadi saat sistem menunjukkan kartu tidak aktif. Padahal, menunda cuci darah sangat berisiko fatal. Pasien terancam mengalami penumpukan racun, kegagalan organ, hingga sesak napas. Bahkan, kematian bisa terjadi jika penanganan medis tidak segera dilakukan. KPCDI menilai Kementerian Sosial perlu segera mengevaluasi data kepesertaan agar tidak ada korban jiwa.

Kisah Pilu Pasien Cuci Darah di Banten

Dampak nyata dari kekacauan sistem ini menimpa Ajat (37), seorang pedagang es keliling di Lebak, Banten. Saat sedang menjalani perawatan di RSUD Dr. Adjidarmo Rangkasbitung, pihak rumah sakit memberi tahu bahwa status BPJS miliknya tidak aktif, bahkan ketika jarum sudah terpasang di tubuhnya.

Istri Ajat segera berupaya mengurus pengaktifan kembali. Ia mendatangi Kelurahan hingga Dinas Sosial. Sayangnya, birokrasi menolaknya dan justru menyarankan pindah ke jalur mandiri. Ajat mengaku tidak sanggup membayar iuran bulanan BPJS Mandiri. Penghasilannya tidak menentu, apalagi saat musim hujan. Kondisi ini memaksanya berada dalam ketidakpastian yang membahayakan nyawa.

Desakan Evaluasi Menyeluruhv

Atas kejadian ini, KPCDI mendesak pemerintah membuat mekanisme darurat. Negara harus menjamin pasien tetap mendapat layanan penyelamatan nyawa. Kendala administrasi tidak boleh menghalangi pengobatan. Tony menekankan bahaya membiarkan pasien pulang tanpa cuci darah. Tindakan itu sama dengan membiarkan warga menghadapi risiko kematian akibat kegagalan sistem.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version