Connect with us

Nasional

Berdiri Sejak 1968, SD Kanisius Wonosari Kini Sepi Pendaftar

Published

on

Semarang (usmnews) – Dikutip dari kompas.com Sekolah dasar swasta yang telah berdiri hampir enam dekade di Kabupaten Gunungkidul ini menghadapi tantangan besar. Pada tahun ajaran 2026/2027, SD Kanisius Wonosari tidak menerima satu pun peserta didik baru, mencerminkan perubahan kondisi pendidikan dan demografi di wilayah tersebut.

SD Kanisius Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, menjadi salah satu sekolah yang terdampak penurunan jumlah peserta didik baru pada tahun ajaran 2026/2027. Sekolah yang telah berdiri sejak 1968 itu kini harus menghadapi kenyataan pahit karena tidak memperoleh satu pun murid baru saat proses penerimaan siswa berlangsung. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pihak sekolah yang selama puluhan tahun telah berkontribusi dalam dunia pendidikan di kawasan Wonosari.

Sejak pertama kali beroperasi, SD Kanisius Wonosari telah menjadi tempat belajar bagi ribuan anak. Berbagai generasi pernah mengenyam pendidikan di sekolah ini dan banyak alumninya yang berhasil melanjutkan pendidikan hingga meniti karier di berbagai bidang. Pada masa jayanya, jumlah siswa di sekolah tersebut cukup banyak sehingga kegiatan belajar mengajar berlangsung dengan suasana yang hidup.

Namun, seiring berjalannya waktu, jumlah peserta didik terus mengalami penurunan. Fenomena ini tidak hanya dialami SD Kanisius Wonosari, tetapi juga banyak sekolah dasar lain di Gunungkidul, baik negeri maupun swasta. Menurunnya angka kelahiran, perpindahan penduduk ke daerah perkotaan, serta semakin ketatnya persaingan antarsekolah menjadi sejumlah faktor yang memengaruhi berkurangnya jumlah siswa baru.

Pihak sekolah menyebut bahwa mereka tetap berusaha memberikan pelayanan pendidikan yang terbaik meski jumlah murid semakin sedikit. Guru-guru tetap menjalankan proses pembelajaran dengan penuh dedikasi, sekaligus menjaga kualitas pendidikan agar siswa yang masih bersekolah memperoleh pengalaman belajar yang optimal.

Selain mengandalkan kualitas pembelajaran, sekolah juga berupaya mempertahankan berbagai nilai karakter yang selama ini menjadi ciri khas pendidikan Kanisius. Pendidikan tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik, tetapi juga pembentukan sikap disiplin, tanggung jawab, kepedulian terhadap sesama, serta pengembangan karakter peserta didik.

Fenomena nihilnya murid baru di SD Kanisius Wonosari juga menjadi gambaran persoalan yang lebih luas dalam dunia pendidikan dasar di Gunungkidul. Data Dinas Pendidikan menunjukkan ratusan sekolah belum mampu memenuhi kuota penerimaan siswa baru, bahkan beberapa sekolah sama sekali tidak mendapatkan pendaftar pada tahun ini. Situasi tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah karena dapat berdampak pada keberlangsungan operasional sekolah di masa mendatang.

Meski menghadapi kondisi yang sulit, pihak sekolah belum menyerah. Mereka berharap masih ada kepercayaan masyarakat untuk menyekolahkan anak-anaknya di SD Kanisius Wonosari. Berbagai upaya promosi, pendekatan kepada masyarakat, hingga peningkatan kualitas layanan pendidikan terus dilakukan agar sekolah tetap dapat bertahan.

Kisah SD Kanisius Wonosari menjadi pengingat bahwa keberlangsungan sebuah sekolah tidak hanya bergantung pada usia maupun sejarah panjangnya, tetapi juga dipengaruhi perubahan sosial, demografi, dan pilihan masyarakat terhadap pendidikan. Sekolah yang telah berdiri selama hampir 60 tahun itu kini berjuang mempertahankan eksistensinya di tengah menurunnya jumlah anak usia sekolah dan meningkatnya persaingan antar lembaga pendidikan.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *