Lifestyle
Bahaya Makanan Kemasan bagi Pasien Penderita Kanker
Semarang (usmnews) – Dikutip dari kompas.id studi terbaru mengungkap fakta penting bagi para penyintas kanker. Mengurangi konsumsi makanan ultraolahan ternyata dapat memperpanjang usia dan meningkatkan kualitas kesehatan. Laporan ini terbit dalam jurnal Cancer Epidemiology, Biomarkers & Prevention. Peneliti menyoroti kandungan nutrisi yang rendah dalam makanan tersebut. Sebaliknya, makanan ini justru tinggi gula tambahan, lemak tak sehat, dan zat aditif.
Penulis utama studi, Marialaura Bonaccio, menjelaskan mekanisme bahayanya. Zat industri dalam pengolahan makanan dapat mengganggu proses metabolisme tubuh. Selain itu, bahan-bahan tersebut merusak mikrobiota usus dan memicu peradangan. Akibatnya, tubuh penyintas kanker menjadi lebih rentan.
Risiko Kematian Melonjak Drastis
Tim peneliti memantau ribuan individu di Italia, termasuk 802 penyintas kanker. Mereka menggunakan sistem klasifikasi NOVA untuk memilah jenis makanan. Makanan ultraolahan seperti mi instan, sosis, dan minuman manis masuk dalam kategori NOVA 4.
Hasil penelitian menunjukkan angka yang mengkhawatirkan. Penyintas kanker yang paling banyak mengonsumsi makanan ultraolahan memiliki risiko kematian 48 persen lebih tinggi. Lebih spesifik lagi, risiko kematian akibat kanker melonjak hingga 59 persen dibanding mereka yang jarang mengonsumsinya.
Dampak Global Pangan Ultraolahan Bagi Penderita Kanker
Eduardo Augusto Fernandes Nilson memperkuat temuan ini lewat studinya di American Journal of Preventive Medicine. Ia secara khusus meneliti data kematian dari delapan negara. Analisis tersebut membuktikan bahwa makanan ultraolahan memicu lonjakan angka kematian dini secara signifikan.
Tidak hanya itu, konsumsi produk ini juga memicu munculnya 32 penyakit berbeda. Penyakit ini mencakup masalah kardiovaskular, obesitas, diabetes, hingga depresi. Oleh sebab itu, para ahli mendesak pembuatan kebijakan global yang tegas untuk menekan konsumsi pangan ultraolahan. Sebagai langkah nyata, masyarakat harus kembali mempopulerkan pola makan tradisional yang mengutamakan bahan segar dan minim proses.