Nasional
Perpendek Rantai Pasok Energi, Perta Daya Gas Bangun SPBE LPG di Sorong

Semarang (usmnews) – PT Perta Daya Gas mengambil langkah strategis untuk perpendek rantai pasok distribusi energi nasional di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sorong, Provinsi Papua Barat Daya. Pembangunan Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) baru ini menjadi solusi nyata atas tantangan geografis logistik LPG di wilayah Indonesia timur.
Langkah masif untuk perpendek rantai pasok ini bertujuan utama meningkatkan keandalan pasokan gas serta menghadirkan harga LPG yang lebih terjangkau bagi masyarakat. Perusahaan patungan antara PT Pertamina Gas (Pertagas) dan PT PLN Energi Primer Indonesia ini menargetkan SPBE Sorong beroperasi penuh pada tahun ini.

Strategi Perpendek Rantai Pasok untuk Akses Energi Merata
Pembangunan SPBE di Sorong memiliki nilai strategis yang sangat tinggi bagi ketahanan energi kawasan. Selama bertahun-tahun, masyarakat di wilayah timur Indonesia harus bergantung pada pengiriman LPG antar pulau yang jaraknya amat jauh.
Corporate Secretary Perta Daya Gas, Ucok Charles Kairupan, menegaskan pentingnya keberadaan SPBE ini bagi warga lokal. “Hal ini menjadi penting mengingat Kampung Arar, Kabupaten Sorong, merupakan salah satu wilayah penghasil energi di Indonesia, sehingga masyarakat diharapkan dapat memperoleh akses energi yang lebih merata, terjangkau, dan berkelanjutan,” ungkap Ucok.
Melalui penyediaan infrastruktur ini, rantai distribusi energi yang berbelit dapat terpotong secara signifikan. Dampaknya, pasokan LPG ke rumah tangga maupun pelaku usaha kecil di seluruh Papua Barat Daya menjadi jauh lebih lancar dan stabil.
Peningkatan Kapasitas Pengisian LPG di Kawasan Sorong
Perta Daya Gas merancang SPBE di KEK Sorong dengan kapasitas produksi mencapai 2×30 metrik ton per hari. Angka ini sangat ideal jika kita bandingkan dengan konsumsi LPG masyarakat Kota dan Kabupaten Sorong yang berkisar 5 hingga 10 metrik ton per hari.
Kapasitas yang terukur ini memastikan kesiapan fasilitas dalam menyerap lonjakan permintaan di masa depan. Manajemen memproyeksikan konsumsi energi masyarakat Sorong terus tumbuh hingga menyentuh angka 15 metrik ton per hari dalam beberapa tahun mendatang.
Selain memenuhi kebutuhan lokal Sorong, SPBE ini juga bertindak sebagai hub penyalur LPG bagi wilayah sekitarnya di Provinsi Papua Barat Daya. Ketersediaan cadangan gas yang memadai ini otomatis menciptakan kepastian pasokan bagi konsumen harian.
Efisiensi Proses Bottling dan Pemotongan Biaya Angkut
Sebelum SPBE ini berdiri, pasokan LPG untuk wilayah Sorong dan sekitarnya dikirim langsung dari SPBE di Surabaya, Jawa Timur. Pola distribusi jarak jauh tersebut memakan biaya angkut kapal yang tinggi serta memicu potensi kelangkaan saat cuaca buruk.
Ucok Charles Kairupan menjelaskan keunggulan ekonomis dari keberadaan SPBE lokal di KEK Sorong ini secara mendalam. “Proyek memberi dampak positif terutama pada harga jual elpiji oleh karena lebih ekonomisnya proses bottling. Tabung kosong elpiji dapat dilakukan pengisian ulang di SPBE KEK Sorong, di mana sebelumnya bottling dilakukan di Surabaya,” jelasnya.
Proses pengisian ulang (bottling) secara lokal memangkas rantai logistik tabung kosong yang sebelumnya harus menyeberangi lautan. Alhasil, efisiensi operasional ini mendorong harga jual LPG di tingkat masyarakat menjadi lebih kompetitif dan bersaing.
Inovasi Pipa Gas 1,4 KM dari Sumber Petrogas
Keunggulan lain dari proyek SPBE Sorong terletak pada sistem transmisi bahan baku gas yang sangat modern. Perta Daya Gas membangun pipa gas dedicated sepanjang 1,4 kilometer langsung dari sumber gas Petrogas menuju area pengisian.
Pemanfaatan jalur pipa gas ini menggantikan metode konvensional yang biasanya mengandalkan truk tangki di jalan raya. Penggunaan pipa menjamin aliran pasokan gas berjalan secara terus-menerus tanpa hambatan lalu lintas darat maupun cuaca ekstrem.
Inovasi teknologi ini sekaligus menekan risiko kerusakan jalan serta meminimalisasi biaya perawatan armada angkut. Integrasi pipa langsung dari sumber gas membuat seluruh operasional SPBE menjadi sangat efisien, cepat, ramah lingkungan, dan aman.
Kolaborasi Kemitraan BUMD dan Pertamina Patra Niaga
Realisasi proyek strategis ini terwujud berkat kolaborasi kuat antara Perta Daya Gas dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Kabupaten Sorong, yaitu PT Malamoi Olom Wobok (MOW). MOW bertindak sebagai Badan Usaha Pembangunan dan Pengelola (BUPP) KEK Sorong yang memegang kewenangan niaga di wilayah tersebut.
Dalam skema niaga ini, PT Pertamina Patra Niaga bertindak sebagai pembeli utama (anchor buyer) yang menyerap hasil pengisian LPG. Kerja sama lintas BUMN dan BUMD ini memastikan tata kelola niaga energi berjalan transparan serta mematuhi aturan regulasi yang berlaku.
Ucok Charles Kairupan memaparkan skema kemitraan komersial tersebut secara jelas. “Kegiatan niaga dilaksanakan melalui kerja sama antara PPN dan MOW sesuai kewenangan MOW sebagai BUPP KEK Sorong,” imbuhnya.
Sinergi antara Pertamina Group dan BUMD ini tidak hanya mempermudah penyaluran energi, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi pendapatan daerah. KEK Sorong kini semakin siap tumbuh menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di Kawasan Timur Indonesia.
Pengoperasian SPBE KEK Sorong membuktikan komitmen pemerintah dan BUMN dalam mewujudkan keadilan energi di tanah Papua. Melalui ketersediaan LPG yang melimpah dan terjangkau, kesejahteraan masyarakat Sorong dipastikan akan meningkat secara signifikan.








