International
Pecah Kongsi dengan Trump soal Iran, Netanyahu Bersiap Bawa Militer Israel Mandiri Total

Semarang (usmnews) – Dikutip dari detikcom Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, secara tegas menginstruksikan angkatan bersenjata negaranya untuk mulai membangun kemandirian penuh di sektor militer, sekaligus melepaskan ketergantungan yang selama ini terjalin erat dengan bantuan luar negeri, khususnya dari Amerika Serikat. Dalam sebuah laporan yang dirilis oleh AFP pada Selasa, 23 Juni 2026, Netanyahu memang menyampaikan apresiasi yang mendalam atas dukungan historis dari sekutu utama mereka tersebut. Namun, ia menekankan urgensi yang krusial bagi Israel untuk segera memutus rantai ketergantungan itu dan merintis ekosistem produksi serta jaringan persenjataannya secara mandiri.
Instruksi strategis ini tidak muncul begitu saja. Pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh Netanyahu di hadapan para perwira cadangan militer saat menghadiri sebuah program pelatihan yang berlokasi di wilayah Tepi Barat. Deklarasi untuk berdikari dalam hal alutsista ini mencuat tepat setelah munculnya laporan terkait kesepakatan awal antara Amerika Serikat dan Iran yang bertujuan untuk mengakhiri konflik panjang di kawasan Timur Tengah. Merespons dinamika geopolitik tersebut, Netanyahu menegaskan kepada para perwiranya bahwa produksi senjata dalam negeri adalah sebuah keharusan mutlak untuk menjamin keamanan masa depan negara.

Instruksi strategis ini tidak muncul begitu saja. Pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh Netanyahu di hadapan para perwira cadangan militer saat menghadiri sebuah program pelatihan yang berlokasi di wilayah Tepi Barat. Deklarasi untuk berdikari dalam hal alutsista ini mencuat tepat setelah munculnya laporan terkait kesepakatan awal antara Amerika Serikat dan Iran yang bertujuan untuk mengakhiri konflik panjang di kawasan Timur Tengah. Merespons dinamika geopolitik tersebut, Netanyahu menegaskan kepada para perwiranya bahwa produksi senjata dalam negeri adalah sebuah keharusan mutlak untuk menjamin keamanan masa depan negara.
Lebih jauh lagi, dorongan Netanyahu untuk memandirikan militernya sangat dipengaruhi oleh memanasnya tensi diplomatik antara dirinya dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Inti dari keretakan hubungan ini berakar pada perbedaan visi dan strategi yang tajam antara kedua pemimpin tersebut dalam menangani ancaman geopolitik dari Iran. Dalam beberapa minggu terakhir, Presiden Trump tidak segan-segan melontarkan kritik keras yang dialamatkan secara publik kepada Netanyahu. Teguran ini dipicu oleh eskalasi pertempuran antara pasukan Israel dengan kelompok militan Hizbullah di Lebanon, yang dinilai oleh pihak Washington berpotensi menyabotase proses perundingan damai yang sedang berlangsung dengan Teheran.

Selain itu, Presiden AS juga sempat mengekspresikan kekecewaannya di hadapan publik dengan mengecam Israel dan Iran secara bersamaan karena dianggap telah melanggar kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya berhasil menghentikan pertempuran 12 hari pada tahun lalu. Menariknya, retorika untuk “melepaskan diri” dari payung bantuan militer Amerika Serikat ini bukanlah yang pertama kali disuarakan. Sebelumnya, pada bulan Mei 2025, Netanyahu juga pernah melontarkan gagasan serupa ketika hubungan kedua negara tengah berada di fase yang sangat tegang akibat isu nuklir dan kebijakan terhadap Iran.







