Connect with us

Lifestyle

Waspadai Bahaya di Balik Alas Kaki yang Nyaman: 5 Jenis Sepatu yang Berisiko bagi Kesehatan Kaki

Published

on

Semarang (usmnews) – Dikutip dari kompas.com Dalam memilih alas kaki, aspek kenyamanan sering kali menjadi prioritas utama bagi banyak orang. Namun, sebuah laporan kesehatan dari Kompas Lifestyle mengingatkan bahwa rasa nyaman yang dirasakan saat pertama kali mencoba atau memakai sepatu tidak selalu berkorelasi dengan kesehatan struktur kaki dalam jangka panjang. Beberapa jenis sepatu yang dianggap “enak dipakai” karena ringan atau empuk justru bisa menjadi pemicu berbagai masalah medis, mulai dari nyeri tumit kronis hingga perubahan bentuk permanen pada struktur kaki.

Berdasarkan penjelasan para pakar kesehatan kaki (podiatris), berikut adalah lima jenis sepatu yang perlu diwaspadai meskipun terasa nyaman:

1. Sepatu dengan Bantalan Terlalu Empuk Tanpa Penopang

Banyak orang tergoda membeli sepatu dengan bantalan busa (foam) yang sangat lembut karena memberikan sensasi berjalan di atas awan. Namun, menurut dokter spesialis kaki Cameron Bennet, sepatu jenis ini sering kali kekurangan struktur penopang yang stabil. Masalah utamanya adalah busa yang terlalu lembut akan cepat mengempis di titik-titik tekanan tinggi saat kita berjalan. Tanpa adanya dukungan yang kokoh, otot kaki harus bekerja lebih keras untuk menyeimbangkan tubuh, yang pada akhirnya memicu kelelahan otot, nyeri tumit (plantar fasciitis), hingga gangguan pada postur tubuh.

2. Sepatu Kasual dengan Sol Tipis dan Datar

Sepatu model kasual seperti slip-on atau sneakers bersol sangat tipis memang praktis dan trendi. Sayangnya, jenis ini biasanya minim akan fitur arch support atau penyangga lengkungan kaki. Dokter ortopedi Mauricio Garcia menekankan bahwa stabilitas yang rendah pada sepatu bersol tipis dapat menyebabkan iritasi, lecet, hingga nyeri pada bagian lengkungan kaki. Selain itu, karena sistem pengikatnya sering kali tidak kuat, kaki menjadi kurang stabil saat melangkah, yang dalam jangka panjang bisa memperburuk struktur tulang kaki.

3. Sepatu Flat yang Tipis dan Berujung Runcing (Flat Shoes)

Flat shoes sering kali dianggap sebagai penyelamat bagi perempuan yang ingin menghindari sakit akibat hak tinggi (high heels). Namun, tidak semua sepatu datar itu sehat. Flat shoes yang solnya sangat tipis tidak memiliki kemampuan meredam benturan dengan permukaan jalan yang keras. Lebih berbahaya lagi jika sepatu tersebut memiliki ujung runcing. Model depan yang sempit akan menjepit jari-jari kaki dan memicu timbulnya benjolan tulang (bunion), jari menekuk (hammertoe), hingga gangguan saraf yang menyakitkan.

4. Sandal Jepit yang Terlalu Lentur

Sandal jepit adalah favorit untuk aktivitas santai karena ringan. Namun, para ahli memperingatkan bahwa ini adalah salah satu alas kaki yang paling berisiko. Saat memakai sandal jepit, jari kaki dipaksa untuk terus “mencengkeram” agar sandal tidak lepas. Aktivitas otot yang tidak alami ini menyebabkan kelelahan ekstrem pada kaki. Selain itu, sandal jepit tidak memberikan perlindungan dari benda tajam dan tidak menyangga tumit, sehingga rentan menyebabkan retak tulang kecil (stress fracture) jika digunakan untuk berjalan jauh.

5. Sandal Terbuka Bertali

Sandal bertali memang lebih stabil dibandingkan sandal jepit, namun tetap memiliki kekurangan dalam hal proteksi dan dukungan lengkungan. Paparan langsung kulit kaki terhadap lingkungan dan panas dapat menyebabkan kulit kehilangan kelembapan secara cepat. Hal ini sering mengakibatkan tumit pecah-pecah yang jika dibiarkan dapat menjadi jalur infeksi.

Kesimpulan dan Rekomendasi

Memilih sepatu ideal bukan hanya tentang gaya atau kenyamanan sesaat di toko. Sepatu yang sehat harus memiliki kombinasi antara bantalan yang cukup, penyangga lengkungan yang stabil, serta ruang yang memadai bagi jari-jari kaki untuk bergerak. Para ahli menyarankan agar kita lebih selektif dan tidak menggunakan satu jenis sepatu yang sama secara terus-menerus, guna memberikan waktu bagi kaki untuk beristirahat dari tekanan tertentu.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *