Nasional

Optimal! Posyandu 6 SPM di Wonosobo Didorong Tekan Angka Stunting

Published

on

Semarang (usmnews) – Ketua Tim Pembina Posyandu Jawa Tengah, Nawal Arafah Yasin, mengunjungi Posyandu Kenanga di Dusun Jenggeran, Desa Butuh Kidul, Kecamatan Kalikajar, Kabupaten Wonosobo, Selasa (8/9/2026). Pos pelayanan terpadu tersebut dinilai telah memenuhi Posyandu 6 SPM atau enam Standar Pelayanan Minimal.

Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat secara langsung pelaksanaan layanan Posyandu sekaligus memastikan kebutuhan masyarakat dapat terlayani dengan baik. Nawal didampingi Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen dalam kunjungan tersebut.

Nawal mengatakan, Posyandu saat ini tidak lagi hanya berfokus pada kegiatan penimbangan bayi. Layanannya telah diperluas untuk mencakup berbagai kebutuhan masyarakat dalam seluruh siklus kehidupan.

“Posyandu itu sekarang tidak lagi hanya urusan timbang bayi, tetapi sekarang sudah melayani seluruh siklus kebutuhan masyarakat. Warga yang butuh bantuan bisa konsultasi ke Posyandu terdekat,” kata Nawal.

Posyandu 6 SPM Layani Berbagai Kebutuhan

Nawal menjelaskan, layanan Posyandu saat ini harus mencakup enam standar pelayanan minimal. Keenam bidang tersebut meliputi kesehatan, pendidikan, perumahan, pekerjaan umum, ketenteraman dan ketertiban umum serta perlindungan masyarakat (trantibumlinmas), dan sosial.

Bidang kesehatan mencakup layanan seperti penimbangan bayi dan pemeriksaan kesehatan ibu hamil. Sementara bidang pendidikan berkaitan dengan pendidikan anak usia dini maupun kebutuhan pendidikan lainnya.

Pada bidang perumahan, layanan dapat berkaitan dengan bantuan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Kemudian bidang pekerjaan umum mencakup akses sanitasi, air bersih, dan hunian.

Selanjutnya, bidang trantibumlinmas mencakup penanganan berbagai persoalan seperti kebencanaan, asusila, narkoba, dan persoalan lainnya. Adapun bidang sosial meliputi layanan bagi penyandang disabilitas, jaminan kesehatan, serta orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).

Dengan cakupan tersebut, Posyandu diharapkan dapat menjadi tempat masyarakat memperoleh informasi, konsultasi, maupun akses terhadap layanan yang dibutuhkan.

Posyandu Bisa Berkolaborasi dengan Tenaga Ahli

Menurut Nawal, semakin luasnya layanan membuat Posyandu juga dapat menjalin kerja sama dengan berbagai pihak yang memiliki keahlian sesuai kebutuhan masyarakat.

Untuk bidang kesehatan, misalnya, Posyandu dapat bekerja sama dengan dokter dari rumah sakit. Sementara untuk kebutuhan konsultasi psikologis, layanan dapat melibatkan psikolog, termasuk untuk mendampingi masyarakat lanjut usia.

“Dengan makin luasnya layanan, Posyandu sekarang juga bisa kerja sama dengan dokter rumah sakit untuk kesehatan, bisa kerja sama dengan psikolog untuk konsultasi lansia, kadang lansia itu hanya pengin didengar ceritanya,” imbuh Nawal.

Posyandu juga dapat menjadi tempat masyarakat menyampaikan berbagai persoalan sosial. Keluhan tersebut antara lain berkaitan dengan ketidaksesuaian desil penerima bantuan maupun persoalan bantuan pemerintah lainnya.

Karena layanan pendidikan juga menjadi bagian dari standar pelayanan, setiap Posyandu diharapkan memiliki PAUD Emas, yakni PAUD berbasis masyarakat.

Nawal Cek Langsung Pelaksanaan Enam Layanan

Dalam kunjungan tersebut, Nawal tidak hanya melihat kondisi Posyandu secara umum. Ia mewawancarai satu per satu petugas yang bertanggung jawab pada enam bidang layanan.

Pengecekan dilakukan untuk memastikan Posyandu 6 SPM benar-benar berjalan dan tidak hanya sebatas memenuhi administrasi. Setiap meja pelayanan ditanya mengenai progres dan bentuk layanan yang telah dilakukan.

Salah satunya adalah meja layanan sosial. Petugas diminta menunjukkan perkembangan pelayanan, termasuk sistem hotline yang tersedia secara daring.

Nawal bahkan mencoba langsung layanan tersebut menggunakan telepon seluler.

“Yah oke, aku WA ke hotline ternyata sudah masuk,” kata Nawal.

Pengecekan secara langsung tersebut dilakukan untuk melihat apakah mekanisme pelayanan dapat benar-benar digunakan masyarakat ketika membutuhkan bantuan atau menyampaikan keluhan.

26 Kasus Stunting Ditemukan di Desa

Pada bidang kesehatan, Nawal mendapatkan informasi mengenai masih adanya kasus stunting di wilayah tersebut. Petugas Posyandu menyampaikan terdapat 26 kasus stunting bayi di desa tersebut.

Menurut Nawal, angka tersebut masih tergolong tinggi sehingga perlu mendapat perhatian dan intervensi secara serius.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah memberikan makanan bergizi secara gratis kepada anak yang membutuhkan. Intervensi dilakukan dengan memberikan asupan yang dapat membantu memenuhi kebutuhan gizi anak.

Petugas Posyandu Lusiati mengatakan, sebelumnya jumlah kasus stunting di desa tersebut mencapai sekitar 50 kasus. Setelah diberikan tambahan asupan berupa telur, susu, dan ikan, jumlahnya mengalami penurunan.

“Ini sudah turun, dulunya 50 stunting, setelah kita beri asupan telur, susu, dan ikan, akhirnya berkurang,” jawab Lusiati.

Penanganan tersebut menunjukkan pentingnya peran Posyandu dalam melakukan pemantauan kondisi kesehatan anak sekaligus memberikan intervensi sesuai kebutuhan masyarakat.

Posyandu Didorong Aktif Layani Masyarakat

Nawal berpesan agar seluruh petugas Posyandu benar-benar siap memberikan pelayanan kepada masyarakat. Petugas diharapkan tidak hanya menunggu warga datang, tetapi juga aktif memberikan pendampingan dan konseling sesuai persoalan yang dihadapi.

Konseling juga dapat dilakukan dengan melibatkan tenaga ahli agar masyarakat memperoleh informasi dan penanganan yang sesuai.

Menurut Nawal, keberadaan Posyandu 6 SPM harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Posyandu tidak cukup hanya memiliki berbagai layanan, tetapi setiap layanan juga harus berjalan dan dapat diakses ketika masyarakat membutuhkannya.

Dengan cakupan layanan yang semakin luas, Posyandu diharapkan dapat menjadi salah satu ujung tombak pelayanan masyarakat di tingkat desa. Mulai dari kesehatan, pendidikan, sosial, hingga kebutuhan dasar lainnya dapat ditangani melalui koordinasi berbagai pihak.

Upaya tersebut juga diharapkan dapat memperkuat pencegahan dan penanganan stunting di Jawa Tengah. Melalui pemantauan rutin, pemberian asupan bergizi, serta keterlibatan petugas dan tenaga ahli, kasus stunting di tingkat desa dapat ditekan secara bertahap.

Nawal pun mendorong agar seluruh petugas terus menjaga kesiapan dan kualitas pelayanan. Dengan layanan yang aktif, responsif, dan terintegrasi, Posyandu dapat semakin dekat dengan masyarakat sekaligus menjadi ruang pelayanan yang benar-benar memberikan manfaat.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Please enable JavaScript to complete the security verification.

Trending

Exit mobile version