Connect with us

International

Perang Teluk Meletus, Iran dan Houthi Lakukan Blokade Maritim Pelabuhan Arab Saudi

Published

on

Semarang (usmnews) – Presiden Iran Masoud Pezeshkian secara tegas memproklamasikan bahwa perselisihan militer telah memasuki fase perang skala penuh. Eskalasi perselisihan senjata ini kian memanas setelah kelompok pemberontak Houthi resmi mengumumkan blokade maritim pelabuhan Arab Saudi. Langkah militer radikal tersebut berisiko melumpuhkan kemampuan ekspor minyak mentah Riyadh melalui pelabuhan Yanbu di Laut Merah. Oleh karena itu, aksi agresif Houthi mengancam stabilitas pasokan energi dunia secara masif. Bahkan, eskalasi konflik perairan Teluk memicu kekhawatiran hebat di kalangan pelaku pasar komoditas global.

Pemerintah Arab Saudi mengutuk keras ancaman serius dari kelompok milisi pemberontak Yaman tersebut. Namun, milisi Houthi terus memperketat blokade maritim pelabuhan Arab Saudi demi menekan dominasi sekutu kawasan Teluk. Selain itu, pertempuran senjata di kawasan Teluk terus memakan korban jiwa dari pihak militer Amerika Serikat. Pentagon mengonfirmasi bahwa rentetan serangan drone Iran memicu cedera fatal pada sejumlah personel tentara. “Kenyataannya adalah hari ini Republik Islam Iran sedang terlibat dalam perang skala penuh,” tegas Pezeshkian saat memberikan keterangan resmi.

Dampak Blokade Maritim Pelabuhan Minyak dan Aksi Saling Gempur

Sementara itu, Komando Pusat Amerika Serikat meluncurkan gelombang serangan udara balasan ke wilayah Iran. Sebaliknya, Garda Revolusi Iran mengarahkan rudal balistik menuju pangkalan militer di Yordania, Kuwait, serta Bahrain. Pasukan militer Yordania mengklaim keberhasilan mereka memblokir tiga proyektil Iran yang melintas di udara. Akibatnya, insiden kebakaran kapal tanker di Selat Hormuz memaksa para pelaut menyelamatkan diri. Kondisi mencekam tersebut langsung mendongkrak harga minyak mentah dunia ke level tertinggi selama sebulan.

Peluang Diplomasi di Tengah Ancaman Pemblokiran Pelabuhan Laut

Meskipun gempuran militer semakin sengit, ruang diplomasi antar kedua belah pihak tidak sepenuhnya tertutup. Juru Bicaranya Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengonfirmasi keberadaan saluran komunikasi tidak langsung. “Gagasan-gagasan telah disampaikan kepada kami oleh mediator tertentu,” beber Baqaei mengenai proses negosiasi.

Selanjutnya, Menteri Dalam Negeri Iran Eskandar Momeni bertolak menuju Islamabad guna menggelar perundingan diplomasi. Pemerintah Pakistan berupaya memfasilitasi dialog strategis demi meredakan eskalasi pertempuran senjata di Teluk. Sebab, krisis perairan Teluk berpotensi menghancurkan tatanan distribusi pasokan BBM secara global. Dengan demikian, publik internasional menggantungkan harapan besar pada proses mediasi di Islamabad tersebut.